" Ya Aku Bisa...."

" Ya Aku Bisa...."
Menjemput Ayah dan Mamak


__ADS_3

Widi tidak pernah dekat laki laki kecuali Ayahnya. Jika Widi menyukai seseorang Widi menahan perasaannya. Mana ada yang mau dengan anak supir dan asisten rumah tangga fikirnya. Kemudian Widi fokus dengan kuliahnya. Sebelum pergi Fitrah kembali menoleh ke arah Widi. Widi masih di posisi menunduk. Ibu Farid yang melihat adegan tersebut memiliki insting sebagai Ibu.


Dia tahu anak keduanya mulai mengagumi Widi. Widi masih menunduk. Setelahnya dia pamit karena ingin membantu Ibunya meninggalkan Ibu dan anak tersebut. Fahri masih memandanginya. Ibu Farid mencokeh lengan anaknya.


" Cantikkan Widi... Ibu yakin siapapun yang menjadi suaminya akan beruntung. Dia belum pernah dekat dengan laki laki atau pacaran...." ucap Ibu Farid sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya menuju ke ruang tv.


Ketika sore Widi berpamitan dia ingin pulang ke rukonya. Memeluk mamaknya erat. Sekali lagi Widi berbisik.


" Sabar ya maak...beri Widi waktu setahun Insyaallah Widi menjemput mamak dan ayah, doain Widi ya maakk...."


Widi melepas pelukannya tersenyum ke arah mamaknya. Ibu Widi mengantar Widi sampai ke gerbang. Sebelum sampai ke gerbang Widi melihat Ibu Farid sedang merawat bunga bunganya. Widi berjalan mendekati Bu Farid.


" Ibu....Widi permisi mau balik ke ruko..." pamit Widi.

__ADS_1


Ibu Farid mengangguk.


" Hati hati ya nak...." ucapnya sambil tersenyum.


Saat Widi sampai di gerbang. Mobil Farhan masuk ke dalam rumah. Widi sedang menghubungi ojek online mobil. Farhan menatap Widi. Semakin cantik dia batin Farhan.


Tiba waktu makan malam di rumah Bu Farid. Mereka makan dengan lahab masakan mamak Widi benar benar nikmat. Ibu Widi membuka percakapan.


" Belum mah, aku masih fokus dengan perusahaan papi aku ingin menaikkan pemasukan...." jawab Farhan.


" Kalo kamu Fitrah...?"


" Belum juga mah, perusahaan property aku baru mulai tahap maju, aku ingin fokus dulu..."

__ADS_1


" Mamah bangga dengan kalian masing masing sudah ada kerja sudah ada tabungan tapi ingat usia yang sudah cukup untuk menikah...." ucapnya mengingatkan. Mereka hanya terdiam.


Widi masih fokus dengan rumah cantiknya. Widi terus mengimpor kosmetika dari Korea. Clientnya meliputi istri pejabat dan sosialita Kota Jakarta. Hasil dari kerjanya mulai menampakkan hasil. Widi membeli tanah dekat kliniknya. Tanah yang lebar. Widi berencana membangun rumah cantik lantai 2 yang lebar di sebelah rumahnya. Tahap pertama ia membangun rumah untuk dirinya dan kedua orang tuanya.


Setahun kemudian


Rumah Widi lantai dua sudah di selesai di bangun.


Widi berdiri memandang rumah tersebut. Sewaktu ia kuliah di Korea Widi menahan dirinya untuk belanja di Myeondong, menahan diri untuk merawat dirinya semaksimal mungkin seperti teman temannya. Sekarang hemat dan hasil belajar membuahkan hasil sebuah rumah lantai dua hasil dari kerja kerasnya.


Besok Widi berencana menjemput kedua orang tuanya dari rumah Bu Farid. Widi juga sudah membeli tanah di belakang rumahnya seluas 20×20 untuk Ayah menanam dan beternak. Widi juga sudah mencari asisten rumah tangga 2 orang untuk merawat rumahnya.


Hari ini Widi bangun dengan penuh semangat dia berencana akan menjemput kedua orang tuanya. Keputusan di tangan Ayahnya kalau dia masih ingin menjadi supir Pak Farid tidak masalah bagi Widi. Sholat subuh dan senam ringan Widi mandi. Memesan ojek online mobil. Widi menuju rumah Pak Farid.

__ADS_1


__ADS_2