" Ya Aku Bisa...."

" Ya Aku Bisa...."
Berakhir


__ADS_3

Widi masih tidak percaya. Dengan hand phone yang masih di pegang. Mulut yang menganga. Otaknya masih bekerja ini nyata atau tidak. Mami yang mengetahui lebih dahulu lebih mencemaskan Widi. Di kepalanya terbayang cucu kembarnya yang masih kecil. Masih butuh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Tiba di halaman rumah Widi mamih dan papih berlari masuk ke dalam rumah. Seperti yang mereka perkirakan Widi masih bengong. Dengan tubuh bergetar. Mamih langsung memeluknya. Dengan deraian air mata. Saat mamih memeluk Widi. Mamak dan ayah datang dengan tangisan.


" Semuanya ayo kita ke rumah sakit melihat Fitrah..."


Mamak Widi menjumpai baby sitter dan asisten rumah tangga agar menjaga cucu dan rumahnya.


Dua keluarga tersebut melesat ke rumah sakit.


Flashback


Setelah menatap istrinya Fitrah memeluknya kembali ada rasa berat meninggalkan istri dan anaknya. Entahlah Fitrah hanya merasa hari itu sebenarnya ia malas bertemu client namun ia harus menjumpai karena kesepakatan bagi hasil dari kerja sama mereka.


Fitrah pun menyetir mobil. Belum menjauh dari rumah ia sudah merasa gelisah. Dan...

__ADS_1


BRAAAAKKKK


BRAAAKKK


BRAAAKK


Suara benturan susul menyusul. Fitrah masih sadar tetapi ada dorongan keras dari belakang yang membuat mobilnya ringsek. Fitrah pun terjepit.


Suara benturan sekali lagi kepala Fitrah terbentur dengan sesuatu yang dia tidak tahu apa. Fitrah merasa ia tak akan lama lagi segera ia mengucap syahadat. Dan semua terasa ringan.


Flashback Off


Seorang pejalan kaki menelpon nomor darurat, 15 menit kemudian 1 mobil kebakaran dan 3 ambulance datang. Salah seorang petugas medis mendekati mobil Fitrah. Ia menatap lama wajah Fitrah. Wajah berseri dan tersenyum. Jarang jarang ia melihat seperti itu. Dengan perlahan dan lembut dia berupaya mengeluarkan Fitrah namun gagal. Akhirnya ia memanggil rekannya. Setelah mengeluarkan dari mobil yang ringsek. Ia memeriksa nadi Fitrah dan tak ada tanda tanda kehidupan. Segera ia menaikkan ke atas dangkar mengambil tas Fitrah dari dalam mobil dan hand phonenya. Di letakkan di samping jenazah Fitrah.

__ADS_1


Widi dan keluarga tiba di rumah sakit dengan isak tangis ia mencari ruangan korban kecelakaan beruntun. Seorang perawat menunjuk ke sebuah dangkar yang di tutupi kain. Dengan bergetar Widi mendekat dengan rasa percaya tak percaya ia buka kain penutup tampak suami yang selalu menyayangi terbujur kaku. Dengan kedua tangannya ia raih wajah suaminya tangisnya kembali pecah sambil mencium seluruh wajah suaminya. Tangisnya tak berhenti sambil memeluk suaminya.


" Mas aku iklhlas...." kembali menciumi suaminya.


Salah seorang perawat memberikan barang barang Fitrah. Mamih mengambilnya. Semuanya menangis.


Papih meminta menghubungi asisten Fitrah meminta mengabarkan ke semua rekan bisnisnya. Jenazah Fitrah di bawa ke rumah mamih. Papih juga meminta supir agar menjemput baby sitter dan asisten rumah tangganya.


Tetangga, rekan bisnis, teman teman Fitrah hadir di rumah mamih. Teman teman Widi. rekan bisnis dan staf rumah cantik.


Rumah yang dulunya penuh keharmonisan kini di penuhi orang orang yang takziah. Setelah jenazah di mandikan dan di kafani. Tangis Widi meledak ia mencium suaminya untuk terakhir kali. Si kembar dengan merangkak memanggil manggil Fitrah


" Apa...papa...apa...." celoteh si kembar sambil naik ke tubuh Fitrah. Widi menangis. Semua yang menyaksikan ikut menangis. Jenazah di bawa ke kuburan. Anak anak Widi dia titip dengan baby sitter dan asisten rumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2