
Widi juga mulai aktif di rumah cantiknya. Clientnya mulai membuat janji bahkan ada yang menjodohkan anaknya dengan Widi selalu menolak dengan halus.
Bahkan ada beberapa yang menghubungi mamih minta Widi untuk di jadikan calon mantunya. Lagi lagi mamih dan Widi hanya menanggapi dengan senyuman. Walau pun sudah memiliki anak Widi masih terlihat seperti gadis karena olah raga tubuhnya yang mungil.
Widi hanya fokus dengan rumah cantiknya mamak dan ayah Widi kadang menginap di rumah Widi. Kadang Widi menginap di rumah mamih. Kadang jalan jalan dengan mamih. Kemana pun Widi pergi pasti membawa si kembar.
Pagi tadi mamih menelepon Widi memintanya menginap di rumah mamih beserta si kembar. Jam 9 nanti mamih mengirim supir untuk menjemput Widi dan anak anaknya serta babysitter. Widi mengiyakan. Jam 9 pas supir mamih sudah menunggu di pintu rumah Widi. Setelah pamit dengan asisten rumah tangga Widi pun masuk ke mobil di ikuti si kembar dan babysitter.
Perjalanan menempuh waktu 1 jam 30 menit. Tiba di rumah mamih. Semuanya sedang duduk di teras menunggu kedatangan Widi dan si kembar. Si kembar melihat Farhan keduanya tertawa dan mengulurkan tangan minta di gendong. Kedua babysitter memberikan si kembar kepada Farhan dan
Nanda.
Widi pun menyalami mamih dan papih. Ikut mengobrol dengan keduanya. Babysitter Widi minta istirahat di kamar tempat biasa mereka beristirahat.
__ADS_1
" Mih ada cemilan gak?..." tanya Widi.
" Ada....kamu maunya apa? ada roti sama buah di belakang...ambil aja bawa ke sini...ngemil sama sama...." jawab mamih.
Widi pun bangkit dari duduknya menuju dapur ketika akan ke dapur Widi berjalan mundur kembali. Terlihat
Farhan sedang bercanda dan tertawa bersama si kembar. Tanpa ia sadari Widi tersenyum. Anaknya jelas jelas membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Kesadarannya kembali ketika sebuah tangan menyentuh bahunya. Ia pun menoleh. Ada mamih dan papih melihat anak anaknya sedang bersenda gurau dengan Farhan.
" Widi lihatlah...anak anakmu membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Lihatlah mereka semuanya tertawa bahagia...menikahlah kembali Widi...demi anak anak, menikahlah karena orang itu menyanyangi anakmu bukan karena Widi, jadi kalian bisa bahagia bersama....kalau mamih memilihkan Farhan untuk menjadi papa anak anak Widi bagaimana?..."
" Jujur mamih khawatir kalau kamu memilih suami yang salah bagaimana nasib cucu mamih...mamih hanya ingin keturunan mamih memiliki nasab yang sama dari keluarga mamih......menikahlah dengan Farhan..."
__ADS_1
" Mamih....Widi akan pertimbangkan jujur di hati ini masih ada mas Fitrah mih...masih belum sanggup memikirkan yang lain...."
" Bicaralah dengan mamak dan ayah mamih berharap Widi menerima masukan dari mamih..."
Widi mengangguk kemudian memeluk mamih. Keputusan mamih dulu menikahkan Widi dan Fitrah tidak salah kebahagiaan yang Widi rasakan. Fitrah sangat romantis dan sangat baik. Widi kembali menangis. Mamih melepaskan pelukannya.
" Kenapa hmmm? cerita dengan mamih..."
" Ingat mas Fitrah mih...."
" Sholatlah...doakan dia...." jawab mamih sambil mengelus kepala mamih. Papih memilih bergabung bersama Nanda dan Farhan. Widi mengangguk ke kamar mandi kemudian sholat di mushala rumah Pak Farid.
Farhan menyaksikan dari kejauhan, kemudian si kakak menarik rambutnya Farhan pun menggelitiki kakak. Kakak tertawa terbahak. Adik pun tak mau kalah merangkak ke arah Farhan mengulurkan tangan minta gendong.
__ADS_1