
Ketika Andi dan Winda sedang berbicara. Saat Andi meyakinkan Winda agar meminta maaf, dan tidak mengganggu keluarga Farid.
BRAAAAKKKK
Suara tendangan keras di pintu. Pintu apartemen Andi terbang dan jatuh di hadapan Winda dan Andi.
4 orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam rumah Andi. Dengan anggun dan wajah tanpa ekspresi mamih masuk ke dalam rumah Andi. Winda ketakutan dia mencekram erat lengan Andi. Mamih masuk dan duduk di kursi depan Andi dan winda.
Sedangkan di pintu masuk ada 2 orang yang berjaga.
Wajah Andi dan Winda menegang. Rasa takut menyergap di hati keduanya. Andi paling tahu bagaimana Ibu Farid. Andi wartawan. Tentu begitu mudah mencari informasi.
"Kita ketemu lagi hmmm..."masih dengan wajah tanpa ekspresi mamih menyapa.
"Kau Andi? wartawan salah satu tv swasta. Kita akan nego kau tetap di ruangan ini tapi stasiun tv mu terbakar dan apartemenmu juga ikut terbakar atau pilihan kedua tunggu kami di luar...kau tahukan aku tidak pernah main main dengan kata kataku..."
Andi menciut. Winda mencekram tangan Andi yang akan bangkit dari duduknya sambil menggeleng. Andi hanya menepuk tangan Winda seakan menenangkan kemudian mengangguk. Andi pun berjalan keluar.
"Winda saya sudah peringatkan jangan ganggu kehidupan keluarga saya, sepertinya saya masih lembut sehingga kau tidak mendengar ucapanku, baiklah. Saya akan memperlihatkan sesuatu padamu mungkin dengan melihat video ini kau akan berubah fikiran..."tangan mamih mengadah ke arah salah satu yang berpakaian hitam. Orang itu meletakkan hp di tangan mamih. Mamih menunjukkan hp tersebut kepada Winda. Winda kaget keluarganya terikat. Terlihat mulut keluarganya di lakban.Tangis Winda pecah. Terlihat mamanya memandang ke kamera dengan air mata yang mengalir. Winda sesunggukan.
__ADS_1
"Kau tahu?ada 10 orang penjaga di sana mereka hanya menunggu perintahku. Perintahku hanya tergantung dari sikapmu kalau kau masih berkeras mendekati Farhan kau boleh merelakan satu atau dua orang keluargamu kalau kau menjauh keluar dari kota ini dan menghindari keluargaku maka kau dan keluargamu akan selamat, pilih yang mana...?"
Penyesalan timbul di hati Winda. Rumor yang dia dengar ada. Keluarga Farid seperti rumor yang dia dengar. Winda masih menangis sesunggukan.
"Aku tak ada waktu mendengar tangismu, sepertinya aku harus memperjelas sesuatu.."
Biiip biip biip
Suara hp di angkat.
"Farhan dimana?..."
"Mami mau nanya apa kamu mencintai Winda?.."
"Nggak mih...di hati aku cuma ada Widi dulu dan sekarang.."
"Okeee....baik baik dengan Widi..."
"Ya mih..."
__ADS_1
Biiippp telepon di tutup.
"Jelaskan..?Farhan tidak mencintaimu, mengapa masih di kejar kejar?..."
"Maafkan aku mamiihhh..."
"Aku bukan MAMIHMU..."mamih menghardik Winda.
Winda kembali sesunggukan. Mamih menghela nafas.
"Winda kamu cantik bisa mencari yang lebih dari Farhan. Farhan sudah menikah sudah memiliki anak
apalagi yang kau harap..?"
"Maafkan aku Ibu...aku berjanji tidak mengganggu Farhan dan keluarganya, izinkan aku tetap di kota ini karena usaha papa di kota ini.."
"Baiklah...jika melihat Farhan menjauhlah, jika kalian di satu tempat makan kau yang harus pergi, Jika aku melihatmu lagi di dekat dekat keluargaku, usaha papamu hancur dan orang yang pertama aku bunuh adalah kau..."
Mamih bangkit dari duduknya. meraih tasnya keluar dari rumah Andi yang sedikit berantakan. Winda masih menangis. Mamih keluar dar rumah Andi. Sebelum meninggalkan rumah Andi mamih berpesan pada salah seorang yang berbaju hitam agar mengganti pintu rumah Andi. Orang itu pun mengangguk.
__ADS_1