
Setelah sholat subuh Farhan berdiri di balkon kamar Widi. Memang balkon kamar Widi menghadap matahari terbit. Cahaya matahari memasuki seluruh kamar dan Widi menyukainya. Widi paham sinar matahari dapat membunuh kuman dan bakteri.
Jadi sinar matahari masuk ketika pagi saja ketika matahari meninggi sinarnya menghilang. Hanya sebentar menghangatkan kamarnya.
Saat ini dengan teh hijau panas di tangannya Farhan memandang matahari. Fikirannya mengulang kembali kenangan dengan Widi. Farhan benar benar mencintai Widi hingga memperlakukan Widi dengan lembut dan penuh kasih. Farhan ingin Widi melupakan Fitrah. Dengan rasa cintanya Farhan ingin cinta Widi hanya untuk Farhan. Farhan hanya ingin ingin Widi tahu betapa ia mencintai Widi dan anak anaknya.
Saat Farhan merenung. Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya dengan kepala bersandar di punggungnya. Farhan tersenyum.
"Pah..ngapain pagi pagi melamun hmmm...?..."
Widi berjalan ke hadapan suaminya. Farhan memandang istrinya penuh cinta.
"Mah apa masih ada cinta untuk Fitrah...?"
Widi tertawa terbahak bahak. Widi paham Farhan mulai cemburu.
"Pah...sini deh mamah jelasin, cemburu ya..?apa ini bawaan anak kita?pagi pagi ga ada angin ga ada hujan tiba tiba nanyanya gitu..? Pah..kalau mamah ga cinta sama papa ngapain bisa tekdung begini..."Widi menunjuk perutnya yang mulai membuncit.
"Terus kalau mamah nggak cinta dengan papah ngapain godain papah waktu di ruang kerja?Masa depan mamah dan anak anak sekarang sama papah
__ADS_1
dan untuk mas Fitrah kita tetap mendoakan dia agar
Allah mengampuni dosanya. Ga ada cinta lain di hati mamah kecuali papah...papah yang dulu diam diam menyukai mamah...ha ha ha..."Widi kembali tertawa terbahak.
Senyum Farhan mengembang. Puas rasa hatinya ketika Widi menjelaskan semuanya. Tehnya diletakkan di meja kecil di balkon. Dengan hati yang bahagia ia memeluk Widi menciumi seluruh wajahnya. Widi kembali terbahak. Setelah puas menciumi istrinya menarik tangan istrinya Farhan duduk di kursi kemudian memangku Widi.
"Pah...maunya anaknya cowok apa cewek?.."
"Ga masalah laki laki atau perempuan...yang penting sehat dan sempurna yang lebih penting soleh..."
"Ga pengen cantiknya mirip mamah gitu..."
Farhan tertawa, mereka terus mengobrol. Farhan dan Widi tidak tahu. Mamih dan papih yang sedang menuju ke rumah Widi. Sebelum tiba di rumah Widi dari jalan tampak kemesraan anak dan menantunya di balkon kamar. Mamih tersenyum. Kemudian menowel papih menunjuk ke arah anak dan menantunya. Papih melihat kemudian tersenyum.
Mengambil tangan mamih dan menggenggamnya kedua bertatapan dan tersenyum.
Supir yang melihat melalui kaca di depannya tersenyum. Tetap romantis meski sudah setengah abad batinnya. Kemudian ia fokus menyetir. Tak memperhatikan bossnya lagi.
Obrolan Widi dan Farhan terputus. Terdengar suara ketukan pintu. Widi bangun dari duduknya berjalan ke arah pintu dan membukanya.
__ADS_1
CEKLEEEKK
Tampak si kembar yang senyum senyum.
"Mah jalan jalan yok..?kakak mau beli roti..."
"Sebentar mamah tanya papah ya...paaahhh..."
panggil Widi.
"Kakak mau jalan jalan sekalian beli roti..."
"Yokk..."Farhan menggandeng tangan kakak di sebelah kanan dan adik sebelah kiri. Widi mengikuti dari belakang. Kakak dan adik kenudian mencari hijabnya.
"Eeeehhh..mau kemana..?"tanya mamih yang baru tiba.
"Kakak minta beli roti oma..?oma ikut?yok kita jalan jalan.."
"Yokk lahh...jarang jarang kita bisa bareng, di mall mana?jadi bisa nelpon Nanda ngumpul kita..."
__ADS_1
"Mall Permata mih...di foodcourt ya..."
Semuanya berjalan menuju mobil masing masing. Dan mulai menuju mall Permata.