" Ya Aku Bisa...."

" Ya Aku Bisa...."
Extra Part


__ADS_3

Malam itu ketika kami berkumpul. Hatiku remuk redam ternyata mamih menjodohkan Fitrah dengan Widi. Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku terus bertahan tetap berkumpul dengan keluarga agar mereka tidak curiga. Tapi tidak dengan papih. Dari eskpresinya ia seakan memberi aku kekuatan aku tidak sendiri. Aku hanya diam.


Aku menyaksikan betapa Fitrah bahagia. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Bagaimana mungkin aku renggut sumber kabahagiaannya. Aku berusaha mengikhlaskan diri. Mungkin dia bukan jodohku batinku.


Resepsi di adakan di hotel mewah. Sekali lagi aku jadi saksi kebahagiaan Fitrah. Hatiku dengan tidak sopannya merasa seperti di sayat. Aku berjalan keluar ruangan resepsi. Menyaksikan gemerlapnya kota Jakarta. Aku harus berusaha melupakan dia sekarang posisinya dia adik iparku. Untuk menghilangkan rasa cinta aku kembali berkutat dengan pekerjaanku. Hasil dari patah hatiku aku mampu mendirikan 2 perusahaan sekaligus dengan 4 asisten dan 4 sekretaris. Mereka laki laki untuk menghindari fitnah sengaja aku memilih laki laki yang berkopeten dan singel.


Hingga hari itu mungkin pukul 11 malam hatiku kembali terluka. Setelah menyelesaikan pekerjaan aku ingin ke pantry saat aku menuruni tangga menuju lantai satu. Aku melihat Fitrah menarik tangan Widi yang akan menuju kamar. Widi pun terjatuh di pangkuan Fitrah. Setelah terjatuh mereka pun bercumbu mereka tak menyadari aku yang akan ke lantai 1. Apa apaan batinku aku pun kembali ke kamar menuju balkon dimana aku menatapnya setiap hari. Hatiku kembali terusik dengan pemandangan tadi. Aku pun kembali fokus dengan pekerjaanku. Aku juga bingung kenapa hatiku seakan menutup hati dengan wanita lain.

__ADS_1


Wanita yang mengganggu atau menggodaku pakaiannya terbuka. Dadanya mencuat keluar.


Aku malah jijik wanita seperti itu terkesan murahan.


Sedangkan aku menginginkan wanita eksklusif seperti Widi. Aaahhh lagi lagi Widi, Widi dan Widi.


Aku bersikap biasa saja. Jujur ada tempat di hatiku hanya khusus untuk Widi. Ketika Widi lahiran aku pun ikut cemas. Setelah lahir aku dan nanda yang nguyel nguyel anak Fitrah. Anak anaknya juga dekat dengan kami berdua. Saat aku di tempat kerja nanda dan si kembar menelponku aku segera pulang. Rasa letih hilang dengan kehadiran si kembar.

__ADS_1


Saat itu aku sedang meeting tiba tiba mamih menelponku. Tadinya aku tak mengangkat karena sedang penyampaian target produk dan tim produksi. Tetapi mamih tidak berhenti menelponku. Aku pun mengangkat teleponku. Wajahku pias Fitrah meninggal di tempat dalam kecelakaan beruntun. Sekilas aku mengingat Widi dan keponakanku. Tanpa fikir panjang aku meninggalkan ruang meetingku.


Aku katakan pada asistenku agar mengurus meeting aku katakan juga adikku kecelakaan sekarang di rumah sakit.


Aku menyetir sendiri langsung ke rumah sakit yang di katakan mamih. Tiba di rumah sakit mamih dan papih sedang menangis. Wajah glowingnya kini berganti dengan memerah dan mata bengkak. Rasanya aku ingin memeluknya dan memberi kekuatan tapi tak mungkin Widi tak kan mau di sentuh kecuali yang halal untuknya.


Akhirnya mamak dan ayah Widi datang. Widi memeluk ayahnya. Tangisnya pecah di sana. 15 menit kemudian jenazah di keluarkan dari UGD. Asisten papih meminta jenazahnya di bawa ke rumah mamih. Pandanganku tak lepas sedikitpun dari Widi.

__ADS_1


Ketika di rumah hatiku terasa perih melihat dirinya menangis terisak.


__ADS_2