
Hari ini Widi bangun dengan penuh semangat dia berencana akan menjemput kedua orang tuanya. Keputusan di tangan Ayahnya kalau dia masih ingin menjadi supir Pak Farid tidak masalah bagi Widi. Sholat subuh dan senam ringan Widi mandi. Memesan ojek online mobil. Widi menuju rumah Pak Farid.
Seperti biasa Ibu dan anak tersebut saling berpelukan. Di dapur saat Widi merasa hanya berdua.
" Mak sebenarnya kedatangan Widi kali ini ingin membawa mamak pulang ke rumah Widi, Widi baru membangun rumah, tinggallah dengan Widi mamak dengan ayah, mamak dan ayah seharusnya beristirahat, mamak ga pingin menanam seperti di kampung dulu, Widi sudah menyiapkan tanah 20x20 hanya untuk mamak dan ayah...."
Mamak Widi menatap anaknya haru, anak yang di harapkan oleh semua keluarganya kini sudah sukses.
" Mamak harus membicarakan ini dengan ayah terlebih dahulu...panggil ayahmu kita bicara di kamar belakang...."
Widi berjalan ke arah depan menuju garasi Ibu Farid.
Tanpa sepengatahuan Widi ada sepasang mata yang menatapnya lekat dari balik gorden.
" Ayah...." panggil Widi. Widi mencari ke seluruh penjuru garasi. Dari kejauhan tampak ayahnya sedang membereskan garasi yang berserakan.
__ADS_1
" Ayah...." panggilnya lagi. Pak Ujang menoleh.
" Anakku....." ayah dan anak tersebut berpelukan.
" Ayah widi mencari ayah untuk menjemput ayah ke rumah Widi tinggallah bersama Widi, Widi sudah menyiapkan tanah 20x20 untuk ayah terserah ayah mau menanam atau beternak kalau ayah mau toko untuk jualan Widi mampu mengusahakan untuk ayah....Widi mohon ayah tinggallah bersama Widi...." sambil memeluk ayahnya erat dan sedikit terisak.
Ayah Widi membalas pelukan anaknya. Melepaskan pelukan anaknya menatap wajah anaknya kemudian mengangguk. Widi kembali terisak.
" Ayah...ayah....bicaralah dengan Pak Farid atau kita berdua...?" tanya Widi.
" Assalamu'alaykum......." sapa Pak Ujang.
" Wa'alaykumsalam Pak.....eeeeh ada apa? mari duduk....."
Pak Ujang pun duduk dan Widi duduk di sebelahnya.
__ADS_1
" Begini Pak....saya mau pindah ke rumah anak saya
saya juga mau istirahat dari pekerjaan saya, saya ingin bertanam dan berternak pak...."
Pak Farid yang sedang membaca berita online dari hand phonenya kaget. Meletakkan korannya menatap Pak Ujang mencari kesungguhan dari ucapannya. Di detik selanjutnya dia saling menatap dengan istrinya.
" Waduuuh....jangan sekarang ya pak..tunggu saya cari pengganti bapak dan istri, setelah dapat tunggu istri bapak menjelaskan kepada yang baru apa yang saya suka dan tidak bagaimana sehari hari istri bapak membantu saya...." terang Ibu Farid.
" Ya bu.....kalau ada pengganti kami baru pindah ke rumah Widi...." kata Pak Ujang sambil memeluk Widi.
Pak Ujang dan Widi pamit kembali ke belakang.
Widi merasa beban di pundaknya terasa ringan. Tadinya Widi merasa keluarga Pak Farid tidak melepas kedua orang tuanya. Sepeninggal Pak Ujang
Pak Farid dan istrinya berdiskusi mencari pengganti Pak Ujang dan istrinya.
__ADS_1
Pak Farid mengusulkan untuk mengambil pembantu dari yayasan penyaluran jasa. Mereka pun melanjutkan obrolannya. Hari menjelang maghrib. Widi pun permisi kepada kedua orang tuanya. Rumah baru miliknya ada dua orang asisten rumah tangga yang mengurus rumahnya. Widi memutuskan pulang ke rumahnya. Rasanya sangat penat. Ingin segera berendam di air hangat dengan wewangian bunga