
Tangisnya pecah. Tak terasa sudah setahun ia menyendiri. Karena khawatir fitnah, gangguan dan pelecehan ia memutuskan untuk menikah kembali di dalam hatinya masih ada cinta pertamanya almarhum mas Fitrah. Cinta pertama yang menjadi halal. Widi masih menangis. Merasa lemas Widi pun duduk di kursi mencari posisi nyaman.
" Maaasss....maaaasss Fitrah..."Widi berlari memeluk Fitrah. Fitrah membalas pelukan istrinya. Tangis Widi pecah hingga sesunggukan. Kemudian Fitrah berbisik
" Sayang terima kasih untuk semua doa doa yang kau kirimkan untukku, terima kasih kuburku terasa lapang dan aku terasa kenyang. Aku sudah bahagia dengan doa doamu, sekarang fikirkan kebahagianmu dan anak kita kalian harus lebih bahagia, menikahlah dengan mas Farhan sudah sejak lama dia mencintaimu dia mengalah demi aku, berjanjilah padaku sayang...."
Widi menangis lebih keras hidung dan matanya sudah terasa perih. Mengeratkan pelukannya di tubuh Fitrah.
__ADS_1
" Mas aku mencintaimu....jangan pergi mari berkumpul seperti dulu, mas anak anak sudah besar apa kau tidak ingin menjumpai mereka...hiks hiks...mas...mas...."
" Sayang...aku juga mencintaimu dan mencintai anak kita tapi kita tak mungkin seperti dulu, kita sudah berbeda berjanjilah pada mas kau harus bahagia dengan mas Farhan mas ga rela kalau kau di sentuh orang lain...."
Fitrah melepas pelukannya. Mencium lama kening Widi penuh kasih. Kemudian wajah istrinya. Widi membalas menatap cinta pertamanya dengan berlinang air mata.
"MAAAASSSS...MAAAASSSS ...."Widi berteriak memanggil Fitrah.
__ADS_1
Hah...hah...hah....Widi terbangun dengan ngos ngosan seakan berlari berkilo kilo meter dengan pelipis penuh keringat. Sesaat kesadaran dan ingatannya kembali. Widi ingat ia di balkon mencari posisi enak dan tertidur. Widi kembali menangis mengingat kembali mimpinya yang seakan nyata.
Widi mengingat kembali bagaimana ia bersyukur menikah dengan Fitrah, bagaimana ia bersyukur ketika Fitrah memilihnya. Jika Widi tahu kalau Fitrah akan pergi secepat ini ia tentu akan lebih baik lagi melayani suaminya. Bersyukurlah yang memiliki suami dan masih menjadi keluarga yang utuh. Kita tidak tahu siapa duluan yang Allah panggil istri atau suami. Selagi pasangan masih hidup berbuat baiklah jika ia telah di panggil tak akan bisa mengulang waktu untuk berbuat lebih baik lagi. Yang ada hanya sesal.
Kesadarannya kembali pulih untuk kedua kalinya. Bangkit dari duduknya masuk ke kamar. Menutup pintu melihat jam sudah pukul 02.00 malam. Lama juga tertidur di balkon fikirnya. Widi masuk ke kamar mandi berwudhu menunaikan ibadah qiamullail (sholat tengah malam) Kembali mendoakan Fitrah. Setelah sholat Widi selalu mendoakan Fitrah sekarang cuma itu yang bisa ia lakukan untuk Fitrah. Kadang sedekah atas nama Fitrah. Terakhir yang Widi lakukan melaksanakan haji badal (melaksanakan haji di niatkan untuk seseorang yang sudah meninggal) meniatkan untuk Fitrah. Hanya itu ya hanya itu ibadah yang Widi niatkan untuk Fitrah.
Ketika Widimasuk ke kamar ia tidak tahu ada sepasang mata yang menatapnya. Menatap penuh iba, penuh cinta dan penuh kasih sayang. Dia berjanji akan membahagiakan Widi dan membahagiakan sikembar, menjadi papa yang selalu ada untuk anak dan istrinya.
__ADS_1
Papa...? Farhan tertawa kecil ketika menyebut dirinya papa. Ya...yang menatap Widi adalah Farhan. Malam itu ia tidak bisa tidur fikirannya hanya ada Widi makanya ia memutuskan untuk sekedar lewat rumah Widi tapi sebelum sampai di depan rumah Widi dari kejauhan ia melihat Widi sedang menatap langit kemudian menangis. Farhan pun mematikan mesin mobil menatap Widi dari kejauhan. Farhan tahu saat itu pasti Widi sedang memikirkan Fitrah.