" Ya Aku Bisa...."

" Ya Aku Bisa...."
Rumah Sakit Ibu dan Anak Medistra


__ADS_3

Akhirnya Widi berlari keluar kantor Fitrah dengan menaiki taxi yang lewat. Sebelum naik dia melihat Fitrah mengejarnya. Segera ia naik taxi dan meminta taxi sedikit mengebut. Fitrah mengetok ngetok jendela taxi tapi Widi tak peduli. Air matanya terus mengalir.


Saat pergi ke kantor Fitrah Widi tidak membawa mobil karena merasa sangat senang ia ingin cepat sampai langsung memanggil taxi yang lewat. Sepanjang perjalanan Widi membayangkan ekspresi suaminya setelah ia memberitahu. Tapi apa yang di harapkan yang di bayangkan tak sesuai dengan khayalannya Widi kaget melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain.


Widi juga tidak tahu ia akan kemana. Akhirnya di sebuah tempat makan ia berhenti di lapnya airmatanya. Memasang wajah seakan tanpa masalah. Widi menelepon mamih Fitrah. Widi juga meminta mamih tidak memberitahukan keberadaannya. Mamih yang tidak mengerti tetap mengiyakan. Mamih pun setelah menelepon memberitahu suaminya ia akan keluar langsung ke tempat yang di sebutkan Widi. 15 menit kemudian mamih tiba. Widi tak bisa berpura pura kuat lagi di peluknya mamih tangisnya pecah. Mamih meminta Widi duduk di sebelahnya dan meminta Widi menceritakan semuanya. Widi duduk menceritakan semuanya termasuk kehamilannya.


" Kamu tenang aja biar mamih yang selesaikan perempuan jadi jadian itu, nama perempuan itu Sania dari awal Fitrah mengenalkan dia mamih uda ga suka. Mamih menyewa detektif swasta mamih suruh ikutin itu perempuan ternyata dia ke hotel mamih suruh Fitrah ke hotel tersebut mamih bilang ada kejutan untuk Fitrah. Ketika berhasil pintu di buka ternyata Sania tengah berzina dengan rekan kerja Fitrah, Fitrah kaget padahal Fitrah yang mengenalkan keduanya saat meeting...dan sifat Fitrah dia tak akan mau bekerja sama atau menjalin hubungan dengan pengkhianat....." jelas mamih.


" Mamih kok tau?.." tanya Widi.


" Mamih tau semua Widiiiii....sebentar mamih telepon dulu..." Mengambil ponselnya menelepon.


Widi hanya mendengar " tahan dia di sana, ya ibu mau ke sana..."

__ADS_1


Ketika Widi berusaha berdiri dari duduknya kepalanya terasa pusing, dan....Widi pingsan. Mamih kebingungan akhirnya menelepon supirnya agar membawanya ke rumah sakit. Mamih meminta supirnya agar mengebut mamih sangat kahawatir melihat Widi. Sebelum tiba di rumah sakit mamih menelepon dokter kenalannya. Agar merawat menantu kesayangannya. Tiba di pintu masuk dokter kenalan mamih dan perawat membawa dangkar untuk membawa Widi.


Widi di tidurkan di dangkar dengan lembut mereka langsung berlari membawanya ke ruang UGD untuk memeriksanya lebih detil. 30 menit berlalu akhirnya dokter kenalan mamih keluar. Widi sedang hamil jadi jaga moodnya jangan biarkan di stress buat Widi agar terus bahagia. Mamih mengangguk.


Setelah bicara dengan dokter mamih menelepon Fitrah. Biiip....biip....telepon pun di angkat.


" Fitrah kamu ke rumah sakit Ibu dan Anak medistra


Widi di rawat..."


" Cepet kamu datang..." Biiiippp


Mamih menutup teleponnya. Dengan fikiran kacau Fitrah keluar dari ruangan. Keluar dari pintu Sania memegang tangan Fitrah.

__ADS_1


" Mau kemana mas....?..." tanyanya.


Fitrah menatap Sania tajam. Di tepis dengan kasar tangan Sania. Sania memeluk Fitrah dari belakang.


Fitrah berbalik mencekik rahang Sania.


" Dengar....aku tak punya perasaan apapun padamu


kalau ada apa apa dengan istriku orang pertama yang aku bunuh adalah KAU...."


" Toni...jaga dia aku belum selesai...."


Dengan setengah berlari Fitrah berjalan menuju mobilnya. Di kepalanya ada rasa khawatir bagaimana dengan istrinya. Biasanya Widi sebelum ke kantornya

__ADS_1


menghubunginya hari ini tanpa memberi kabar ia langsung ke kantor pasti ada sesuatu yang penting.


__ADS_2