
Kandungan Widi sudah berusia 6 bulan. Masih seperti biasa tetap energik rumah cantik mengalami peningkatan client. Widi sesekali datang untuk melihat laporan keuangan atau ketika ada keluhan pelanggan. Beberapa asistennya juga sudah Widi kirimkan Ke Korea Selatan tempat dia dulu PPL. Setelah melalui kerja sama.
Farhan mengusulkan kepada Widi agar rumah Widi di jadikan pusat rumah cantik. Widi mengikuti saran Farhan. Farhan membeli sebuah rumah di perumahan mewah Kota Jakarta. Aktifitas rumah cantik fokus di rumah lama Widi. Tanah sisa di belakang Widi jadikan mess untuk para staff dan pekerja. Dengan syarat harus bersih. Para staff dan pekerja juga di tambah. Quota pelanggan juga di tambah karena tempat yang luas.
Pagi ini setelah melihat suaminya pergi kerja sekalian mengantar sekolah si kembar Widi izin untuk ke rumah cantik. Rumah cantik miliknya sudah bisa ia lepas. Widi tersenyum di depan gedung cantik memandang tiap sudutnya. Dari nol tanpa pinjaman bank atau orang lain. Pelan pelan Widi mengejar kariernya. Sekarang Widi hanya tinggal menikmati kerja kerasnya duduk di rumah setiap hari ada sms bangking yang masuk.
9 bulan kehamilan.
Wajah Widi tidak seperti sebelum sebelumnya mulai pucat dan sering keringatan. Farhan tidak mengizinkan lagi Widi ke rumah cantik kecuali dengan Farhan. Karena bosan tidur terus menerus halaman belakang Widi sulap jadi tempat menanam bunga dan beberapa tanaman buah.
Pekerjaan Farhan sudah selesai. Jam menunjukkan pukul 11 siang. Farhan sudah menelepon menanyakan asistennya rumah tangganya menanyakan istrinya lagi dimana dan lagi ngapain. Hari ini Farhan sudah melaporkan cuti karena akan mendampingi Widi melahirkan. Semua pekerjaannya sudah ia limpahkan kepada asistennya. Asistennya mengatakan kalau Widi di halaman belakang sedang sibuk dengan tanaman. Farhan menggeleng kemudian menutup teleponnya.
__ADS_1
Membereskan meja, mengambil tas meraih kunci mobil Farhan berjalan menuju pintu keluar. Kangen istri batinnya. Saat akan berjalan pulang ada asistennya yang menyapa Farhan pun pamit pulang. Ia berjalan menuju parkiran. Menghidupkan mesin mobil. Mulai meninggalkan perusahaannya. Tiba di rumah di letakkan di ruang kerjanya langsung ke halaman belakang. Dari jauh Farhan bisa melihat Widi lengkap dengan hijab sedang sibuk mencabut rumput sesekali melihat bunga dan pohon mungilnya. Farhan berjalan mendekat.
"Maahhh...nanti kecapean loh, udahan yok papah kupasin buah..."
Widi menoleh, menghentikan mencabut rumputnya.
"Papaahhh...kok dah pulang?..."
Widi tersenyum berjalan ke arah tempat penyiraman
tanaman. Menghidupkan keran mencuci tangan dan kaki. Kemudian duduk di sebelah suaminya. Farhan mengambil buah dan pisau mulai mengupas buah mangga. Buah favorit istrinya. Mengupas membelah menyuapkan istrinya. Sesekali mereka tertawa entah apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Keduanya tidak tahu kalau ada mamak dan ayah Widi. Sebelum Farhan pulang Widi menelpon mamaknya agar datang ke rumah. Di belakang mereka mamak dan ayah tersenyum melihat pasangan suami istri tersebut. Keduannya berpandangan dan tersenyum. Berjalan ke arah keduanya.
"Assalamu'alaykum..."sapa mamak dan ayah Widi.
"Wa'alaykumsalam...". Keduanya menoleh. Wajah Widi cerah setelah melihat siapa yang datang.
"Mamak....Ayah..."mememeluk keduanya.
"Uda makan...?.."tanya Widi pada keduanya.
"Makan dulu mak ayah...ayooo.."Widi menarik tangan keduanya.
__ADS_1
"Pah bentar ya...." Farhan mengangguk dan tersenyim melanjutkan mengupas buah yang lain.