
Aku Widi anak seorang asisten rumah tangga dan supir keluarga konglomerat. Ayah selalu mengajarkan kami agar tidak merepotkan atau berbuat semau kami walaupun kami tinggal di rumah konglomerat. Aku merubah nasib keluargaku melalui pendidikan mencari beasiswa tentu dengan bantuan ibu Farid. Aku juga tidak tahu apa yang membuat ibu Farid menyukaiku kemudian menjodohkan anaknya. Yang jelas aku tidak melakukan hal hal yang merendahkan seperti mencari perhatian ibu Farid, di depan dia pura pura rajin, over ramah, banyak ngomong dengan bu Farid....tidak, aku tidak melakukan hal hal seperti itu.
Saat aku sekolah dan kuliah bu Farid selalu memberikan dukungan dana. Aku bersyukur aku pun selalu mendoakan di setiap sholatku agar Allah memudahkan rezeki keluarga beliau. Selama aku kuliah di Korea Selatan kadang kadang aku bekerja diluar kampus gajinya aku pergunakan untuk merawat seluruh tubuhku. Sebenarnya vitamin dan minuman yang di rekomkan dokter tidak mahal harganya level sedang, namun kualitasnya bagus aku hanya butuh 3 bulan membuat kulitku seperti kulit orang Korea. Demikian juga dengan wajahku aku rawat dengan tekun. Aku ingin ayah dan mamak melihat, sekarang betapa cantik anak satu satunya. Aku tertawa membayangkan ekspresi kedua orang tuaku. Ketika magang aku benar benar serius dan memperhatikan bagaimana klinik kecantikan itu berjalan aku juga meraih informasi sebanyak banyaknya bagaimana manajemennya. Selesai kuliah aku kembali bekerja di klinik kecantikan tersebut karena aku selalu memperhatikan saat aku magang, ketika aku bekerja di klinik tersebut aku menguasai apapun permintaan pelanggan. Jadi sistem di klinik tersebut makin banyak pelanggan semakin banyak gaji dan bonus tentu aku tak menyia nyiakannya aku fokus di sana. Saat aku merasa tabungan cukup aku kembali ke Indonesia. Yang paling aku syukuri mata uang Korea lebih tinggi dari rupiah tentu aku mendapat keuntungan besar dari hal tersebut. Hingga aku membuka rumah cantik bu Farid menawarkan kembali bantuannya. Tentu aku menolak aku ingin hasil kerja kerasku sendiri.
Aku di panggil oleh bu Farid saat mereka makan malam. Ya ampun anak laki lakinya ganteng ganteng banget wajahmu memerah saat kedua anak lakinya memandangiku. Aku menunduk. Kemudian aku pun berbincang dengan Bapak dan Ibu Farid.
__ADS_1
Ternyata dari obrolan malam terus berlanjut hingga malam itu mas Fitrah melamarku. Aku belum memutuskan aku minta waktu untuk sholat istikharah, aku tidak bisa langsung menerima karena menikah takarannya untuk seumur hidup. Sebenarnya banyak yang melakukan pendekatan atau menjodoh jodohkan aku dengan anak klien atau teman temanku. Entahlah...aku selalu menolak yang aku lihat laki laki tersebut lebih secara materi tapi aku tidak menemukan kelembutan dan kasih sayang dari pancaran matanya. Laki laki yang aku ragukan kesetiaannya.
Setelah sholat istikharah dan meminta pendapat ayah dan mamak akhirnya aku menerima lamaran mas Fitrah, dan aku sangat bahagia. Mas Fitrah lembut dan romantis dan aku sangat menyukai sikapnya itu. Dari awal pernikahan aku sudah sangat bahagia. Tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Allah lebih mencintai mas Fitrah aku selalu menangis. Di saat anak berusia 6 bulan mas Fitrah pergi tak kembali.
Setahun kemudian mas Farhan melamarku. Aku kembali meminta waktu setelah sholat dan berbincang dengan kedua orang tuaku. Aku memutuskan untuk menerima lamaran mas Farhan.
__ADS_1
dan cintanya di tunjukkan melalui sikap dan perbuatan terhadapku dan anak anak.
Setelah menikah aku lebih memahami mas Farhan.
Aku tahu mas Farhan menyayangi aku dan anak anak. Kalau mas Fitrah suka menggandeng tanganku. Kalau mas Farhan suka memeluk bahu atau pinggang. Dimana pun saat kami jalan bareng.
__ADS_1
Mas Farhan yang begitu sabar menghadapi anak anak.