
Aku anak tertua dari keluarga Farid Wijayanto. Walaupun keluarga kami di limpahi kekayaan tapi papih tidak pernah memanjakan kami. Kalau kami ada keinginan harus kerja terlebih dahulu. Aku ingat waktu aku kelas 6 SD aku ingin transformers seperti teman teman yang lain. Saat aku katakan keinginan ku pada papih. Pertama kali papih tanya berapa harganya? aku jawab akan aku tanyakan pada temanku. Ketika sekolah aku menanyakan harganya pada temanku. Ternyata harganya 400 ribu rupiah.
Aku kembali menemui papih dan mengatakan kalau harganya 400 ribu rupiah. Papih mengiyakan dengan syarat aku harus kerja. Aku pun bingung untuk ukuran sepertiku apa yang harus aku lakukan. Ternyata papih memintaku untuk mencuci mobil beliau dengan belajar dengan supir papih. Kemudian setiap pelang kerja papih harus menyemir sepatu papih. Sehari papih menggajiku 100 ribu rupiah. Semakin banyak tugas yang papi berikan semakin besar gajinya. Karena papih menerapkan seperti itu kami bertiga terbiasa sejak kecil. Kalau ada keinginan harus bernegosiasi dengan papih.
Hingga hari itu papih membawa pak Ujang dan keluarganya ke rumah. Mamih dan papih sangat
__ADS_1
menyukai keluarga pak Ujang. Sejauh yang aku perhatikan keluarga pak Ujang "tahu diri" makanya kami sangat menyayangi beliau. Ada beberapa asisten rumah tangga yang membantu semua asisten itu di bawah perintah istri pak Ujang.
Ketika aku kuliah Widi masih SMA satu sekolah dengan adikku Fitrah. Sebenarnya aku memperhatikan Widi. Ketika ia mengurus bunga milik mamih di taman aku memperhatikan dirinya kadang ia " mengobrol dengan bunga " , kadang selfie dengan bunga bunga milik mamih. Aku tersenyum memperhatikan dari balkon kamarku dan dia tidak menyadari.
Kadang ia belajar di pondok tempat kami bersantai. Keningnya berkerut kadang ia sibuk mengetik di keyboard laptop. Aku tersenyum lagi melihat ia begitu serius.
__ADS_1
Aku tahu perkembangan Widi dari mamih dan papih yang saling cerita. Hari itu aku harus menghilangkan rasa cintaku melihat Fitrah yang menatap Widi dari jendela dengan ekspresi yang mudah terbaca. Ternyata ia juga mencintai orang yang aku cintai.
Sesaat Fitrah pacaran dengan Sania. Aku mencoba membuka percakapan dengan Widi. Seakan Widi membuat benang merah antara kami. Ia dengan sengaja membuat jarak antara kami. Saat itu aku merasa di tolak. Aku pun berjanji sukses ketika aku sukses tentu pak Ujang tak kan menolak lamaranku fikirku. Aku pun serius bekerja dengan meminjam modal dari papih.
Dalam waktu 6 bulan aku sukses. Aku mambuat perusahaan sendiri. Orang orang dan client kagum padaku. Mereka tak tahu selama 6 bulan tersebut kadang aku tak tidur belajar dan mempelajari bagaimana agar aku sukses dan meyakinkan kedua orang tuaku untuk melamar Widi.
__ADS_1
Cintaku kembali membara saat ia pulang dari Korea Selatan. Ia seperti wanita Korea. Kulit khas Korea wajah yang glowing dan lebih modis. Aku melirik adikku. Seakan aku melihat penuh cinta di matanya. Aku pura pura tidak tahu. Melanjutkan makanku
Malam itu ketika kami berkumpul. Hatiku remuk redam ternyata mamih menjodohkan Fitrah dengan Widi. Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku terus bertahan tetap berkumpul dengan keluarga agar mereka tidak curiga. Tapi tidak dengan papih. Dari eskpresinya ia seakan memberi aku kekuatan aku tidak sendiri. Aku hanya diam.