" Ya Aku Bisa...."

" Ya Aku Bisa...."
Pov Fitrah 2


__ADS_3

Sampai di saat itu Widi baru pulang dari Korea Selatan. Aku terpukau dengan kecantikannya. Kulitnya khas Korea, mata agak sipit, dan gayanya tidak bulukan. Dia terlihat lebih keibuan dan lembut. Ketika aku menatapnya ia menunduk. Aku yakin dia tipe setia dan baik. Tidak ada gaya yang menyatakan dia genit atau menggoda seperti wanita wanita yang aku temui. Aku menatapnya lagi. Dia hampir mirip wanita Korea. Apa dia operasi plastik fikirku sambil menatapnya. Lagi lagi dia mengabaikanku. Dia terus bercerita dengan mamih. Seakan akan cuma mereka berdua di ruang keluarga ini.


Aku masih menatap Widi. Mamih sempat melirik ke arahku. Aku mah cuek. Dalam hati masih mode mengagumi pesona wanita di depanku.


Setelah Widi membuka kliniknya aku selalu memantau dirinya. Kadang aku menghentikan mobilku di depan ruko hanya untuk menatapnya. Saat menatapnya aku berfikir seandainya dia menjadi istriku aku tak akan menghianatinya. Akan aku jadikan dia ratu di hatiku. Aku akan perlakukan dia layaknya seorang ratu.


Hingga malam itu mamih mengatakan akan menjodohkanku. Aku seperti percaya tak percaya.


Aku segera meminta mamih untuk melamar dia.

__ADS_1


Aku tak peduli dengan mahar, resepsi atau rumah karena aku sudah menabung jauh jauh hari. Berapapun itu aku penuhi. Asalkan dia menjadi istriku.


Ketika mamih akan menemui Widi untuk mengetahui jawabannya. Di waktu itu aku tidak fokus dengan apapun. Ketika aku meeting dengan ketua divisi setiap detik aku memandangi hand phoneku. Hingga terasa getar aku melihat siapa yang menelepon ternyata mamih.


" Halo mih, gimana?.." tanyaku tak sabar. Dalam hati bergumam kalau Widi menolak lamaranku entah bagaimana nasibku.


" Widi menerima lamaran kamu, sini deh mamih di sofa depan meja toni kita cerita di sini..."


Telepon di putus. Aku tak sabar menerima cerita mamih. Aku langsung berdiri dan berjalan cepat

__ADS_1


Sesaat aku ingat sedang meeting.


" Toni kamu yang pimpin rapat..."


Ku tinggalkan area rapat menyusul mamih yang sedang menungguku. Aku duduk di depan mamih. Mamih menceritakan semua sampai permintaan Widi untuk tidak bertemu hingga akad nikah. Aku pun menyanggupi yang penting dia menjadi milikku. Aku sangat bahagia. Mamih pun bahagia. Malamnya mamih dan papih ke rumah Widi melamar secara resmi sekaligus menentukan akad nikah dan resepsi.


Aku di rumah menonton live lamaran yang di buat tim IT perusahaanku. Melalui live itu juga aku mengagumi calon istriku make up tipis. Anggun dan keibuan. Aku menatapnya sebentar lagi aku akan memilikinya. Aku pun tersenyum bahagia. Ketika aku menikah saat akan tidur dan bangun tidur dia ada di sampingku. Membayangkan saja aku sudah sangat bahagia. Aku berguling giling di tempat tidurku sambil tersenyum kadang tertawa.


Di malam lamaran mamih menanyakan tentang mahar dan resepsinya.Mamih juga menanyakan resepsi mau nya bagaimana. Widi hanya ingin resepsi yang sederhana. Padahal kami berdua memiliki banyak uang tapi dia hanya ingin yang sederhana. Kata Widi tidak penting resepsinya yang penting aku dan dia sah menjadi suami istri ucapnya.Akhirnya mamih mengambil keputusan masalah resepsi serahkan sama mamih.

__ADS_1


Fitting baju. Desaignernya yang datang ke tempat kerja kami masing masing. Uang yang bicara. Masalah baju akad nikah hingga resepsi Widi meminta agar menyewa saja alasannya setelah menikah bajunya tidak bisa di gunakan lagi. Mubazir.


__ADS_2