
Readers yang baik...baca juga karya author yang lain
" Indonesia dan Korea " Menceritakan tentang single parent dan ketiga anaknya menemukan cintanya di Korea Selatan. Di tunggu semuanya...😊😊😊😊
sementara itu di kantor Fitrah. Ia sedang meeting dengan pimpinan divisi perusahannya. Perusahaannya semakin berkembang. Perusahaan yang memiliki 10 lantai. Tiap divisi memiliki 1 lantai.
Ketika meeting fokusnya hanya pada mamih dan apa jawaban Widi. Ketika meeting dengan asisten dan para staff. Terasa getar hand phone. Secepatnya Fitrah angkat.
" Ya mih, gimana?..."
__ADS_1
"APAAAAA....?
Fitrah berdiri dari duduknya berjalan cepat ke ruangannya. Ketika akan berjalan seketika teringat ia sedang meeting. Kemudian berbalik.
" Toni kamu yang pimpin rapat..."
Setelah mengatakan demikian Fitrah berjalan ke ruangannya. Dari jauh Fitrah bisa melihat mamih sedang duduk di sofa depan meja Toni asistenmya.
" Yeeee kamu ga percaya ya..? mamih ceritain dari awal ya...."
__ADS_1
Mamih pun menceritakan semuanya. Wajah Fitrah berubah bahagia. Tawanya tak henti. Akhirnya penantianku berakhir batinnya. Sebenarnya Fitrah sudah lama menyukai Widi. Awalnya Fitrah hanya mengangumi Widi dia cerdas, pekerja keras dan cantik. Sewaktu dia masih tinggal di rumah kedua orang tuanya Widi belum secantik sekarang. Masih kucel dan sedikit bulukan. Fitrah bingung bagaimana mendekatinya karena Widi pun seakan menutup diri dan menjaga jarak dengannya. Enggan menyapa atau tersenyum ketika mereka berpapasan di rumahnya. Fitrah tak mengerti bagaimana menyampaikan perasaannya. Banyak yang harus dia pertimbangkan. Ketika kuliah Fitrah berkenalan dengan Sania, ia seorang bunga kampus. Perasaan terhadap Widi sedikit berkurang. Di awal awal perusahaannya berdiri Sania masih mendampinginya, Memberi semangat dan memotovasinya. Sebenarnya Fitrah banyak mendengar peringatan dari teman temannya.
Mereka juga bercerita bagaimana rasanya pacaran dengan Sania, dengan perawatan dan hoby belanjanya yang selangit. Dan itu sesuai dengan pelayanan yang Sania berikan kepada pacarnya. Dia tak segan segan memberikan tubuhnya untuk apapun asal keinginannya tercapai.
Hingga waktu itu mamih menyadarkannya dengan mengatakan ada surprise di kamar hotel tersebut pesan mamih aku harus membuka pintunya. Harus.
Saat itu aku sedikit bingung. Namun aku tetap mematuhi mamihku. Saat aku membuka pintu tampaklah pemandangan yang tak bermoral.
Aku melihat Sania di bawah kungkungan partner kerjaku. Aku tak bisa berkerja sama atau berhubungan dengan seorang pengkhianat. Bisa jadi aku sendiri yang menjadi korban penghianatannya.
__ADS_1
Dari kejadian tersebut aku fokus bekerja dan membangun perusahaanku. Dengan bantuan modal awal dari papi. Aku ingin menunjukkan kepada Sania aku bisa lebih sukses tanpa dirinya. Ada alasan lain aku ingin sukses agar Pak Ujang yakin melepaskan anaknya untukku. Seorang lelaki bermasa depan cerah. Banyak wanita yang menggodaku bahkan ada partner kerja ketika meeting membawa anak gadisnya berharap aku menikahi anaknya. Tapi aku tidak dungu. Dari body languangenya aku paham apa yang mereka inginkan.
Sampai di saat itu Widi baru pulang dari Korea Selatan. Aku terpukau dengan kecantikannya. Kulitnya khas Korea, mata agak sipit, dan gayanya tidak bulukan. Dia terlihat lebih keibuan dan lembut. Ketika aku menatapnya ia menunduk. Aku yakin dia tipe setia dan baik. Tidak ada gaya yang menyatakan dia genit atau menggoda seperti wanita wanita yang aku temui. Aku menatapnya lagi. Dia hampir mirip wanita Korea. Apa dia operasi plastik fikirku sambil menatapnya. Lagi lagi dia mengabaikanku. Dia terus bercerita dengan mamih. Seakan akan cuma mereka berdua di ruang keluarga ini.