" Ya Aku Bisa...."

" Ya Aku Bisa...."
Extra Part


__ADS_3

Setelah menyaksikan jenazah suaminya di kuburkan. Widi berjalan dengan hampa dan lemah sesekali tampak ia terisak. Pelan ia menuju ke rumah mamih. Tiba di rumah mamih tamu yang bertakziah membludak. Widi memaksakan untuk tersenyum sesekali air matanya mengalir deras. Setelah melayani tamu bercerita ringan. Tamu mulai menyusut. Pukul 12 malam rumah mamih benar benar sepi tak ada tamu. Wajah kuning langsat Widi terlihat memerah karena menangis seharian dan matanya terlihat bengkak. Ia baru ingat ia belum makan seharian. Belum melihat si kembar. Seakan tersadar Widi bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamarnya terlihat si kembar sudah tidur dengan memeluk guling masing masing. Widi berjalan mendekati anak anaknya memandang wajah anaknya yang mirip suaminya, mas Fitrah. Widi menghitung usia anaknya 7 bulan. Widi mengingat lagi ia menikah dengan mas Fitrah saat minggu kedua bulan Desember. Akhir bulan ia di nyatakan hamil. Widi terus menghitung ternyata usia pernikahannya hanya setahun tujuh bulan.


Perlahan agar tak membangunkan si kembar ia berjalan keluar kamar. Keluar kamar pandangannya tertuju pada foto pernikahannya yang terpampang besar. Tangan mas Fitrah memegang erat tangannya. Tangisnya kembali pecah. Widi berusaha tenang. Teringat kembali saay hamil si kembar tengah malam ia terbangun.


Tengah malam Widi terbangun meraih hand phonenya melihat jam. Pukul 02.00 malam Widi bangun perlahan membuka pintu khawatir suaminya terbangun. Berjingkat dan pelan ia ke dapur berjalan ke kulkas mencari buah. Di raihnya pisau di kupasnya kulit mangga. Setelah dua buah di kuliti ia pun memakan buahnya. Setelah membaca bismillah ia mulai memakan mangga tersebut. Sangat nikmat batinnya.


" Sayaanggg...." Terlihat Fitrah berjalan mendekatinya


memeluk pinggangnya dari belakang.


" Kenapa ga bangunin mas.." sambil menyandarkan kepalanya dibahu Widi.

__ADS_1


" Mas tidurnya nyenyak ga tega bangunin.." sambil memasukkan buah mangga ke mulutnya.


" Mas mauuu..aaaaak" sambil membuka mulutnya


Widi menyuapi mangga. Setelah mangga masuk ke mulutnya Fitrah menyodorkan ke mulut Widi. Widi menyambutnya sambil mengalungkan tangannya ke leher Fitrah dan Fitrah memeluk pinggang istrinya.


Saat lahir si kembar ASI miliknya tak cukup. Mas Fitrah lah yang bangun tengah malam membuat susu menggendong si kembar secara bergantian.


Kenangam demi kenangam bersiliweran di kepalanya. Widi kembali terisak. Perutnya terasa perih karena seharian belum ada masuk asupan makanan. Semua terasa berputar. Widi jatuh pingsan.


Sebelum tubuhnya menyentuh lantai sebuah tangan menangkapnya. Mengangkat tubuhnya ala bridal style. Meletakkan tubuhnya di sofa. Dengan lembut.

__ADS_1


Ia tidak tahu ada orang tua yang memandangnya. Orang tua Widi. Mamih dan papih yang memperhatikan segala tingkah lakunya.


Setelah membaringkan Widi dan menyelimutinya. Farhan berbalik. Kaget. Ada orang tua yang memandangnya seakan meminta penjelasan. Farhan menyerah. Ia pun meminta kedua orang tua tersebut mengikutinya.


Sebelum mengikuti Farhan mamih memanggil asistennya agar mengurus Widi dengan mengoleskan minyak kayu putih di hidungnya. Dan meminta Widi makan. Karena seharian belum makan.


Asistennya mengangguk.


Mereka pun berjalan beriringan mengikuti Farhan.


Dengan penuh tanda tanya. Tiba di kamarnya Farhan mempersilakan mamih papih serta mamak dan ayah Widi untuk duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia berjalan mengambil kursi. Dan duduk di kursi.

__ADS_1


" Sebenarnya...."


__ADS_2