
"ya mamih pergi...sehat ya nak,..cucu mamih juga..." mencium kening Widi. Ia pun berjalan menuju pintu. Ekspresi wajahnya berubah menandakan ada amarah di dadanya. Mamih mengambil hand phonenya menekan nomor dan...Biiippp.
Tersambung.
" Toni dia masih di sana? mamih ke sana..."
Mamih berjalan menuju tempat parkir mobil. Meminta supir mengantar ke perusahaan milik Fitrah.
Tiba di perusahaan Fitrah mami masih tersenyum saat staf Fitrah menyapa atau senyum. Mamih terus berjalan menuju ruangan Fitrah.
Melewati meja toni hanya dengan menatap, toni paham ia bangkit dari duduknya berjalan di belakang mamih. Mamih membuka pintu ruang kerja Fitrah. Menatap Sania tengah duduk di sofa berjalan mendekatinya. Menjambak rambut Sania hingga wajahnya mendongak ke atas menatap wajah mamih. Mamih berbisik.
"Dengar...aku tak kan mengulangi kata kataku...dulu waktu kau mengkhianati anakku aku masih diam kali ini anakku sudah menikah kalau kau berani muncul di hadapan anak dan menantuku...aku yang akan turun tangan, nyonya Farid....ya nyonya Farid yang akan turun tangan...ingat itu..."
__ADS_1
Nyonya Farid melepas tangannya, mengambil tisu mengelap tisu dan membuangnya kemudian memijak mijak tisu tersebut sambil menatap tajam Sania.
"Toni beri dia peringatan yang berkesan...."
Ibu Farid keluar dari ruangan Fitrah. Menenangkan diri kemudian senyum dan kembali berjalan anggun. Seakan kemarahannya menghilang. Sesekali menyapa beberapa staf yang mami kenal.
"Lihat saja kalau kau masih berani muncul di hadapan anak dan menantunya..." omel mami
Mamih meminta supir untuk mengantar ke kantor papih.
Sementara itu di rumah sakit. Fitrah menelepon Toni memberi tahu bahwa ia tidak kembali ke kantor menjaga istrinya di rumah sakit. Setelah menutup teleponnya ia memegang tangan istrinya.
Widi yang kembali mengantuk karena pengaruh obat dan vitamin kembali tertidur dengan memeluk pergelangan tangan Fitrah. Fitrah memperbaiki hijab istrinya. Mengecup keningnya. Perlahan ia melepaskan pelukan istrinya. Berjalan pelan ia menuju sofa mengirim pesan kepada Toni agar mengirimkan perlengkapan untuk 2 hari ke depan.
__ADS_1
Selama di rumah sakit Fitrah tak pernah keluar mamak dan ayah Widi datang gantian jaga Widi Fitrah pun istirahat.Rumah cantik di jalankan oleh asistennya. Mamih dan papih juga datang menjenguk setiap hari.
Hari ini Widi akan pulang ke rumah sebelumnya dokter berpesan agar Widi tidak boleh terlalu letih dan tetap beristirahat. Di rumah juga Fitrah menjaga Widi. Sebenarnya Widi sudah meminta Fitrah untuk bekerja tapi Fitrah tidak mau alasannya dia yang punya perusahaan. Widi hanya menggeleng. Keesokannya Fitrah juga memanggil dokter agar memeriksa kesehatan Widi. Doktr meminta agar mereka ke praktek dengan peralatan yang lengkap dan canggih mereka bisa langsung melihat buah jati keduanya. Widi dinyatakan sehat. Sorenya mereka ke dokter praktek untuk memeriksa kandungan Widi.
Wodo terharu dengan perhatian Fitrah. Ketika jalan keluar dari dokter praktek menuju parkiran.
" Mas...terima kasih telah memperhatikan aku dan anak kita, i love u..."
Fitrah menghentikan langkahnya. Dengan ekspresi kaget. Ia menatap Widi terkejut. Widi juga tak kalah heran dengan ekspresi suaminya. Fitrah memeluk istrinya.
" Sayang...sudah lama aku menunggu kata kata itu dari bibirmu...aku juga sangat sangat mencintaimu"
Widi tersenyum bahagia. Bersyukur atas semua kebahagiaan yang Allah berikan padanya.
__ADS_1