
HF #11
Hai..hai..
Ini novel kedua ku di sini..
Semoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 16.00 di kamar afshah tengah terjadi proses pelepasan selang infus oleh seorang dokter.
"Apa saya sudah bisa pulang dok?" Tannyanya
"Sudah..ubah pola makan, makan makanan yang bergizi dan yang penting perbanyak istirahat" ucap sang dokter
"Boss...semua sudah beres" ucap jimmy yang baru kembali dari area luar ruangan
"Baiklah..mari pulang" ucap aldrian memeganggi tangan afshah tanpa melirik pada sang dokter
"Saya bisa sendiri" ucap afsah menepis tangan aldrian
"Kamu berani??" Bisiknya dingin
Seketika wajah afsah berubah pucat dan memundukan kepalanya kebawah.
"Ayo" ucap aldrian lagi menarik tangan afsah yang pasrah mengikutinya meninggalkan ruang tempatnya menginap selama dua malam ini.
"Terimakasih dokter atas bantuan anda" ucap jimmy mengantikan aldrian yang telah pergi
"Sama-sama tuan. ini resep obat yang harus anda tebus" ucap sang dokter memberikan secerbis kertas pada jimmy
"Baiklah..sekali lagi terimakasih" ucap jimmy dan berlalu meninggalkan sang dokter dan perawatnya
"Baru kali ini..kita di tinggalkan pasien dan walinya" gumam sang dokter pada perawat dan ikut melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
........
Mobil mewah melaju membelahi jejalanan yang ramai di tenggah kota.
Mata seorang gadis dengan teliti memperhatikan jalanan dari kaca mobil.
"Ini bukan arah jalan menuju tempat tinggalku" gumamnya memperhatikan arah jalur mobil yang membawanya.
Namun dia tak mampu bersuara ataupun bertanya pada seorang pria yang duduk tenang di sampingnya.
30 menit perjalan..
Mobil berhenti pada sebuah rumah mewah yang sangat luas.
"Ayo turun" ucap aldrian
Melirik ke arah afshah
Masih dengan mode diam afshah hanya mampu mengikuti.
"Kenapa aku di bawa kisini?" Batinya membuat afshah tertegun.
"Apa kau hanya akan berdiri saja disana?" Suara aldrian menyadarkan afshah
"Maaf..pak" ucapnya melangkah mendekati aldrian
"Ikuti aku" aldrian berjalan menuju ke dalam rumah yang tentunya jimmy selalu setia mendampingi.
Sesampai di sebuah kamar besar pada lantai dua.
Afshah memperhatikan kamar bernuansa menly..
"Ke..kenapa kita kesii..ni?" Tanya afshah dengan nada takut
"Sekarang kamu bisa istirahat disini" ucap aldrian seraya memberi isyarat pada jimmy untuk meninggalkannya.
"Sa..saya..mau balik ke kossan saja" jawab afshah dengan masih menunundukkan wajahnya
__ADS_1
"Apa kami belum keluar dari alam bawah sadarmu??..Haruskah saya memberi penjelasan?" Ucap aldrian duduk pada tepi rancang memperhatikan afshah yang masih berdiri pada tenggah ruang kamar.
"Maaf..tuan...sa..sayaa."
Sebelum afshah menyampaikan apa yang ada di fikirannya.
Aldrian melangkah dan berhenti tepat di depan afshah,
membuat afshah tak sanggup melanjutkan ucapnya
"Semua barang-barang jelek tak bermutu mu itu, sudah di bawa kesini.."aldrian berhenti sejenak
"Kau ingat,malam ini pukul 12 malam waktumu berakhir...
melihat keadaanmu saat ini.. sudah di pastikan kau menerima Pe..Na..wa..ran ku" ucap aldrian tepat pada telinga kanan afshah
Seketika tubuh afshah menegang.
"Akankah aku akan berakhir seperti ini" batinnya
"Kau tak usah khawatir.." suara aldrian terdengar menjauhi afshah
"Kita akan menikah satu minggu lagi dan tentu saja dengan ini" suara aldrian dari arah sofa kamarnya dan melihatkam sebuah kertas di tangannya
Afshah mengikuti aldrian dan meraih kertas yang di sodorkan aldrian di akhir ucapannya tadi
"Apa?.. saya menikah dengan anda dengan waktu yang tidak di tentukan?.. Maksud anda apa tuan??" Tanya afsah setelah membaca isi kertas yang di berikan aldrian
"Di sana jelas bukan..kalau saya menikahimu secarah sah baik hukum maupun agama..namun kamu tak berhak. Menuntut apapun dari saya..cukup jadi istri yang baik dan penurut..jika waktunya sudah tiba..saya pasti akan memberi kebebasan untukmu" ucapnya
"Dan masalah finansial..saya akan menanggung seluruh hidup mu dan juga biaya kuliah kedokteran yang adikmu cita-citakan" lanjutnya.
Afshah hanya tertegung mencerna semua ucapan aldrian
"Kamu istiratlah dulu" aldrian meninggalkan afsah.
Yang masih berdiri terpaku dengan memeganggi kertas yang harus di tandatanganinya.
__ADS_1