
HF #51
Hai..hai..
Ini novel kedua ku di sini..
Semoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
.......
Dua hari telah berlalu...
Afshah duduk di ranjangnya di temani wulan hari ini.
" bagaimana kabarmu hari ini shah?" Tanya wulan duduk pada kursi di samping ranjang afshah.
"Aku sudah lebih baik kok mbak" jawabnya walau bernada sendu
Melirik perut wulan semakin membuncit
"Mbak bisa rasakan apa yang kamu rasakan shah" jawab wulan menyentuh lembut tangan afshah
Berharap menyalurkan tenaga baru untuk afshah
"Iya mbak. Shah harus kuat kan?!!" Ucap afshah yang seperti paksaan dalam diri wulan
"Iya.. tak hanya ucapan afshah.. hatimu harus lebih kuat untuk bertahan" jawabnya menatap afshah.
"Mbak. Shah ingin keluar dari semua ini" ucapnya menatap keluar dari sela jendela yang terbuka.
__ADS_1
" mbak tak bisa bantu apapun shah. Keadaan kakak seperti ini. Damian dan dave juga tak ada di sini. Mbak ngak tau bagaimana membantumu" ucapnya lirih. Wajah wulan berubah murung.
"Mbak datang dan mau mendengarkan ucapan gila shah saja.. shah udah sangat senang" ucapan afshah cepat melihat perubahan wajah wulan.
" iya.. tetap saja mbak tak bisa lakuin apapun untukmu" jawabnya pasrah.
"Tenanglah mbak.. afshah akan coba bersabar. Setidaknya sampai kak damian dan kak dave datang" jawabnya dengan memaksa tersenyum
"Baiklah.. bertahanlah sebentar. Mbak yakin damian tak akan diam melihatmu menderita" ucap wulan menatap teduh wajah afshah dan masih Menegengam erat tangan afshah.
Tok..tok..tok..
Seorang dokter dan 2 perawat memasuki ruang afshah.
2 perawat mengcek semua alat. Kemudian mengetik sesuatu pada table tab di tangannya.
Kemuadia perawat tersebut memberikanya pada dokter yang telah berdiri di samping afshah,
tempat wulan duduk sebelumnya.
Wulan yang saat ini telah berdiri di arah jendela bersama dua perawat lainnya.
Membiarkan sang dokter melaksanakan tugasnya.
Dokter mengeluarkan alat kedokterannya dari kotak persegi yang sedari tadi di bawanya dan telah berada di dekat tangan kanan afshah yang tengah di infus.. sang dokter kembali memeriksa afshah lebih rinci.
"Nona harus di rawat paling lama 2 hari lagi. Agar anda pulang dalam keadaan benar-benar pulih" ucap sang dokter yang menyelesaikan pemeriksaannya.
Afshah dan wulan hanya menggangguk.
"Terimakasih dok" ucap afshah tanganya masuk kembali ke dalam selimut. Saat sang dokter menaikan kembali selimut hingga dada afshah. Saat sebelum pemeriksaan Yang tadi di singkap hingga pinggangnya .
"Sama-sama nona" ucapnya meningalkan ruangan afshah di ikuti dua perawat.
__ADS_1
"Baiklah shah. Sepertinya sudah saatnya mbak balik. Penjaga aldrian masih berjaga di depan pintu. Kalau ada yang shah inginkan..panggilah dia" titah wulan mengampiri afshah, mencium pucuk kepalanya dan berlalu meninggalkan ruangan afshah..
Afshah mendorong tongkak infusnya menuju kamar mandi.
Menutup dan tak lupa mengunci pintu kamar mandi tersebut.
Afshah membuka sebuah kertas yang di lipat kecil dan membacanya.
Setelah membaca note tersebut. Afshah meremas kertas tersebut memasukan dalam kloset dan menyiramnya hingga kertas itu di pastikan afshah sudah tak ada lagi.
Afshah keluar dari kamar mandi dan kembali ke ranjangnya.
Matanya menatap lurus di atas loteng kamar ruangnya saat ini.
"Ya allah.. bantulah hambamu ini" gumamnya Menitiskan air mata dan memejamkan matanya.
Entah berapa lama terlelap.
Afshah terbangun dengan suasana semua terasa gelap.
"Panjaaaagaaaaaaa"teriak afshah
Penjaga yang di penpintu berlari menghampiri afshah
"Ada apa nona?" Tanya penjaga di dekat afshah demgan di terangi cahaya ponselnya
"Aku..takut gelap.. berikan aku cahaya ponselmu. Kau pergi lihatlah cadangan lampu amergency rumah sakit ini." Titah afshah dengan mimik ketakutan akan gelap.
Tanpa bertanya apapun si penjaga keluar mencari ruang emergency rumah sakit.
Dengan sigap afshah memcabut infus yang terpasang berjalan melewati tangga darurat di samping kanan ruangnya.
Afshah sudah berada pada parkiran dasar rumah sakit.
__ADS_1
Yang untungnya afshah di rawah di lantai tiga sehingga tak lama untuk mencapai latai dasar rumah sakit.
Dengan tubuh yang bergetar .. perasaan yang gelisah, ketakutan akan ketahuan afshah menunggu mobil yang akan menjemputnya di tempat yang di tentukan oleh note yang di terimanya.