
HF #50
Hai..hai..
Ini novel kedua ku di sini..
Semoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
....................
Mobil damian memasuki parkiran sumah sakit.
Tak membuang banyak waktu. Mereka keluar mobil menuju ke dalam rumah sakit.
Kini Damian dan dave berdiri di depan salah satu pintu ruang inap VVip di rumah sakit tersebut.
"Ceklek"
Damian masuk di ikuti dave tentunya.
Damian melirik aldrian duduk di samping ranjang afshah yang juga duduk bersandar pada ranjang ,matanya sembab dan berwajah pucat.
Jimmy duduk mematung pada sofa ruang tersebut.
Damian menghampiri afshah tanpa memperduliakan aldrian.
"Deck. Gimana kabarmu?" Tanya damian lembut
"Kak..." ucap afshah dengan air matanya kembali turun
Damian mengelus lembut kepala afshah.
Aldrian yang tak tahan tingkah damian berdiri dari duduknya.
Menatap damian tajam.
Damian yang terlihat acuh membuat aldrian semakin geram.
Jimmy yang memahami situasi sedari tadi memperhatikan aldrian.
Aldrian beralih menoleh jimmy.
__ADS_1
Jimmy memberi isyarat untuk mengajaknya keluar dari ruangan asfshah.
Aldrian faham dan Memulai lagkahnya..
Tepat di depan pintu langkah aldrian terhenti..
Dalam diam Afshah memperhatikan aldrian yang mematung.
Aldrianpun memalingkan wajahnya ke arah afshah.
"Aku akan menyelidiki ini.. apakah benar kau di rajuni atau sengaja membuangnya. Siapa tau, karna ke inginanmu ingin hidup mewah denganku. Kau tega membunuh bayimu" ucap aldrian membuka pintu dan berlalu pergi keluar ruangan di ukuti jimmy.
"Hiks...hiks...hiks..." tangis afshah kembali pecah mendengar ucapan aldrian seperti jarum di dadanya.
Dave dan damian mengepal tangannya menahan amarah.
Kini hanya tersisa afshah, damian dan dave di ruagan tersebut.
"Ayo cerita. Apa yang terjadi" ucap damian duduk di tepi ranjang afshah
Dave pun mulai mendekat, berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding samping ranjang afshah.
"Kak.... hiks.... anak ku sudah ngak ada..hiks... " tangisnya menatap damian seperti mengadu.
" tenanglah.. kita akan cari tau siapa pelakunya dan akan kakak balas mereka..untukmu" jawab damian
Membuat damian dan dave bersitatap
"Kenapa kamu curiga pada suami mu deck?" Tanya damian
"Kak.. aldrian tak mengakui itu anaknya..hiks...hiks..dia.. dia juga tak terima anak itu..hiks..hiks" tangis afshah semakin pilu.
Damian menarik afshah dalam pelukannya.
Hatinya semakin pilu melihat penderitaan afshah..
"Aku sudah berencana pergi dari aldrian membawa anak itu.. tapi... anak itu malah meninggalkan ku.. hiks...hiks"tangis afshah dalam pelukan damian.
" tenanglah deck. Apakah Kamu benar-benar ingin pergi darinya?" Tanya damian menundukkan kepalanya.
"Iya." Jawab afshah mendongakkan kepalanya.
Damian menatap dalam mata afshah yang memancarkan kejujuran dan kerapuhan.
"Baiklah.. tapi siapkanlah hatimu untuk berpisah dengannya" ucap damian
__ADS_1
Membuat afshah kembali memeluk erat tubuh damian dengan tangis di tumpahkanya di sana.
"Memangislah.. karna esok tak boleh ada lagi air mata " ucap damian
Afshah terus saja menanggis mengikuti ucapan damian.
Setelah lama menagis afshah tertidur dalam pelukan damian.
Damianpun mebaringan afshah.
Damian duduk pada sofa.
Sementara dave sibuk memasang sesuatu pada kursi yang ada di sebelah ranjang afshah.
Dave yang telah menyelesaikan tugasnya.
Ikut duduk di samping damian memainkan ponselnya.
Setalah 2 jam berlalu.
Aldrian bersama jimmy datang kembali.
"Kalian sudah datang" ucap damian
"Tentu. Ini ruang inap istriku bukan istri orang" sindir aldrian
"Ciiih.. istri yang tak di anggap" jawab damian
"Apa urusanmu?" Tanya aldrian yang mulai memanas
"Sudahlah.. kami berangkat ke itali hari ini.. kau jagalah istrimu dengan baik" ucap damian meninggalkan ruangan afshah
Di ikuti dave.
Aldrian tak memangapi ucapan damian.
aldrian mendudukan dirinya di sofa yang duduki damian dan dave sebelumnya
Matanya melirik afshah yang tertidur pulas di ranjang dengan infus masih tertancap di tangannya.
"Apa wulan sudah tau akan hal ini?" Tanya aldrian masih menatap afshah
"Belum boss" jawab jimmy
"apa wulan akan ikut menyalahkanku?" Tanya damian
__ADS_1
Jimmy hanya diam tak bisa menjawab ucapan aldrian.
Mereka larut dengan kesunyian. Hidup dengan fikiran mereka masing-masing.