
HF #32
Hai..hai..
Ini novel kedua ku di sini..
Semoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi datang penyejuk pagi..
Afshah terbagun rasa berat di perutnya membuat kesadarannya kembali secepat kilat..
"Ah..kenapa dia memelukku begitu erat" batinnya
Dengan hati-hati afshah mencoba melepaskan tangan yang melingkar pada perutnya..
"Ah..kenapa sulit sekali" batingnya mencoba melepas pelukan yang semakin erat..
Afshah pasyah akan ketidak berhasilnya..
Namun tubuhnya yang di rasa tak berbeda memaksanya mengigat akan kejadian semalam..
"Assafirullah..." gumamnya air matanya menitis membasahi pipinya di temani kekuatan entah dari mana afshah menarik kuat tangan yang memeluk perutnya dan berlari menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun melekat pada tubuhnya.
"Assafirullah...cobaan apa lagi ini ya allah...hamba tak sanggup lagi?!" Tanggisnya pecah didalam guyuran air shower kamar mandi.
Afshah mencoba menggingat kejadian semalam...
Dia hanya bisa menginggat kejadian semalam iya jatuh pinggsan di bantu jimmy.
Dia tak bisa menggingat apapun lagi kecuali saat iya bangun pagi ini..
15 menangis di kamar mandi. Afshah keluar memakai handuk putih membalut tubuhnya..
Afshah melirik ke arah aldrian yang masih terlelap.
"Walaupun ku amgkat paksa tangannya..dia masih tetap terlelap" batin afshah berlalu menuju kamar ganti.
"Kenapa tubuh ku banyak merah-merah begini?" Gumamnya menatap tubuhnya yang hanya mememakai pakai dalaman pada cermin di kamar ganti.
"Sebaiknya aku memakai hijab mulai hari ini..agar sesuatu yang buruk tak menimpaku lagi..
Mungkin kesalahan ini adalah terugaran dari allah " ucapnya menuju pakaian yang tersusun rapi.
__ADS_1
"Alhmdullilah..ada gaun panjang..cukup aku padukan dengan pasmina" gumamnya.
Setelah sedikit menaburi bedak warna natural, lipstik warna peach pada bibir . tak lupa memakai hijapnya afshah.
keluar dari ruangan ganti.
Afshah membuka klop pintu ruanganti dan mulai melangkahkan kakinya.
"Tu..tuan Aldrian" ucap afshah ketakutan melihat tatapan aldrian yang masih duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa kau lama sekali?."ucapnya menatap ke arah afshah
Afshah hanya menatap ke arah lantai.tak sanggup melirik wajah aldrian.
"Kenapa dengan cara berpakaianmu?" Tannya aldrian lagi afshah semakin mematung tak sanggup menjawab pertanyan aldrian kembali
"Jawaaab!!" Suara aldrian teriak tertahan.
"Maaf tuan..saya mengubah penampilan saya" ucapnya lemah
"Ya..saya tidak buta..tapi kenapa?" Tanyanya lagi
"Aku harus jawab apa?" Batin afshah
"Tapi....kenapa?" Tanya aldrian dengan menajamkan intonasinya
"Maaf tuan..kalau di daerah saya..seorang wanita jika sudah menikah pada umumnya mengenakan hijab"jawab afshah menatap ke arah aldrian.
"Benar seperti tuan" jawabnya afshah lagi
"Ah..sudahlah..sekarang siapkan air mandiku" ucapnya yang langsung berdiri menuju kamar mandi tanpa penurup sedikitpun pada tubuhnya.
"Assaffirullah" ucap afshah spontan.
Membuat aldrian berdiri karnanya.
"Bukankah kau sedah merasakannya semalam" ucapnya tanpa dosa membuat wajah afshah tersemu.
Dengan sigap afshah berlari ke arah kamar mandi memeriksa air mandi yang telah di siapkannya tadi.
"Manisnya." batin aldrian melihat wajah afshah
Aldrian sudah berda di kamar mandi dan dengan langkah yang cepat dan jantung yang seperti habis lari berkilo-kilo meninggalkan kamar mandi.
"Kalau begini..aku bisa mati muda" batin afshah menuju lamar ganti menyiapkn pakaian aldrian.
Setelahnya..afshah menuju dapur.
__ADS_1
Memasak sarapan paginya.
"Selamat pagi nona cantik" sapa seorang pria yang di kenalnya semalam
"Pa..pagi tuan.. anda tidur di sini samalam?" Tanya afshah dengan hati-hati
" hmm.. apa kau tak keberatan cantik" jawab si pria dengan senyum dan mengedip-ngedipkan matanya.
"Jangan ganggu istri aldrian damian. kalau masih ingin mengirup oksigen" suara jimmy yang telah rapi dari ruang kerja aldrian.
"Kak Jimmy..kamu juga disini?" Tanya afshah..
"Iya shah.. damian,dave dan aku ada kerjaan semalam. Jadi kami semua nginap di sini" jawabnya.
"Apa kalian mau kopi?" Tanya afshah.
"Tentu.." ucap jimmy yang nampak melupakan sesuatu dan kembali ke ruang kerja aldrian.
"Jika. Kamu tidak keberatan cantik" jawab damian
"Tentu tidak tuan" jawab afshah
Yang kembali menyelesaikan nasi goreng yang sudah di tambahkan porsinya.
"Jangan panggil tuan.. Damian saja atau pamggil kakak juga boleh" titah damian
"Baiklah..duduklah dulu damian. Ini tinggal sebentar lagi selesai" ucap afshah lembut
Damian mengangguk dengan tersenyum.
Menarik dan menduduki salah satu kursi pada meja makan.
"Kau beruntung aldrian" batin damian melirik afshah.
"Kau jangan mencoba-coba damian" suara dari ujung tangga atas membuat damian dan afshah melirik ke asal suara
"Hahah..ternyata kau pecemburu juga bro" ucap damian
"Hei..ada apa..apa aku ketinggalan sesuatu?" Tanya dave yang baru saja datang ikut bergabung.
" cemburu?..apa selama ini aku terlihat mempunyai sifat itu?" Tanya aldrian yang sudah berada pada tangga terakhir lantai bawah.
"Ya...Semua orang bisa saja berubah" ucap dave acuh dan ikut duduk di sebelah damian.
"Tidak dalam kamusku. Semuanya
Yang terjadi semalam akan hilang saat pagi datang" ucapnya lantang.
__ADS_1
Membuat jantung afshah terasa berhenti berdetak mendengan ucapan aldrian.
"Aku harus kuat" batinnya