
HF #55
Hai..hai..
Ini novel kedua ku di sini..
Semoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
..............
Di kejauhan aldrian memperhatikan rumah sakit yang terlihat gelap.
"Jim.. percepat laju mobilmu" ucap aldrian terlihat khawatir
"Kenapa al?" Tanya jimmy
"Lihatlah. Lampu di rumah sakit mati. Afshah takut gelap jim" ucapnya tanpa sadar membuat senyum di wajah jimmy.
"Loe khawatir bukan?.. kenapa loe ngak bisa jujur dengan perasaan loe sendiri?!" Ucap jimmy
"Loe mau saya pecat?" Tanya aldrian formal
"Ok..ok boss" jawab jimmy terkekah membelokkan mobilnya memasuki parkiran rumah sakit.
"Kita lewat tangga darurat saja" ucap aldrian.
membuka pintu mobil dan melangkah menuju tangga.
"Siiap bos" ucap jimmy mengikuti.
Saat hendak menaiki tangga ke lantai tiga lampu rumah sakit kembali hidup.
"Kita lanjut saja" ucap aldrian menaiki tangga menuju lantai tiga ruangan afshah.
"Siap boss" jawab jimmy.
Sesampai di depan pintu ruang afshah..
Aldrian dan jimmy tak melihat bodigar yang di tugaskannya
berjaga disana.
Wajah aldrian memerah menahan amarah.
"Sabarlah al" ucap jimmy memperhatikan ekspresi aldrian.
Jimmy membuka pintu ruang afshah untuk di masuki aldrian.
Aldrian tertegun melihat tempat tidur afshah yang kosong.
"Mana kunci mobil jim?" Tanya aldrian.
"Ini boss" jimmy menyerahkan kunci mobilnya.
__ADS_1
"Jimmy..Kau uruslah bodigur itu. Dan cari afshah" titah aldrian yang berbalik ke arah lifh rumah sakit meninggalkan jimmy.
Aldrian melaju mobilnya.
Mobil merhenti di pekarangan rumahnya.
Aldrian memasuki rumah yang sunyi.
Kakinya tetap melangkah hingga dapat di lihatnya para bodigur dan pelayan masih di sana di apit 10 bodigur penjaga.
Aldrian melanjutkan langkah menuju ke tangga ke arah kamar pribadinya.
"Ceklek"
Pintu kamar di buka.
Mau menyengat tak di hiraukan aldrian.
Ranjang king size yang masih di penuhi darah yang sudah menyengat di dekatinya.
Aldrian duduk di tepi ranjang matanya sendu memperhatikan darah afshah.
Ada rasa pilu di hatinya dan rasa sesak di dadanya.
Tangan aldrian menjangkau bantal di dekatnya meletakan horizontal benda persegi tersebut pada kepala tempat tidur.
Dengan tubuh lelah Aldrian menyandarkan dirinya pada bantal tersebut.
Aldrian mengerok saku celananya.
Mengeluarkan ponselnya di sana.
Wajah afshah dan dirinya di pelaminan terpampang di sana.
"Huuuhf.."
Aldrian mengela berat nafasnya..
mengenyentuh layar ponsel. Mencari sesuatu di sana..dan meletakan benda pipih itu ke telingga kanannya.
"Tuut... tuuuuut.."
Suara tersambung Menunggu di angkat.....
"Hallo.." suara di seberang
"Ya.. hallo.. lan" suara aldrian
"Berita buruk apa lagi yang mau loe share ke gue" tanya wulan emosi
"Lan.. afshah ngak ada di rumah sakit" ucap lirih aldrian
"Ooh.. bagus donk.. loe ngak perlu capek-capek dan ngancem dia lagi buat memilih buang bayinya biar tetap bareng elo. Walau afshah udah niat buat ninggalin elo dan membawa bayinya. Sepertinya, tuhan ngak biarkan dia bawa apapun dari loe" jawab wulan judes
"Apa maksud loe?" Tanya aldrian.
"Gue yang nyuruh periksa wulan di klinik tempat biasa gue konsul. Dan ternyata hasilnya afshah hamil 7 minggu. Gue yakin loe juga belum tau. Menyuruh afshah untuk menelpon loe buat jemput dia di taman waktu itu. Tapi, lebih 10 menit gue nunggu loe ngak muncul. Gue putuskan buat pulang" wulan menghentikan sebentar ucapnya
__ADS_1
"Gue fikir dengan kehadiran bayi itu. Loe bisa sedikit berubah. Dan asal loe tau. Wanita hamil jauh lebih sensitif al" lanjut wulan
Aldrian terpaku akan cerita wulan
"Ya sudah.. loe urus masalah loe sendiri. Andaikan gue ketemu afshah dan dia bilang ngak mau balik ke elo.. mungkin gue akan milih tetap merasahasiakan keberadaanya dari loe aldrian. Karna gue rasa afshah berhak buat bahagia" ucap wulan yang membuat aldrian semakin lemah.
"Baiklah. Tapi apa boleh gue berantanya?" Ucap aldrian lemah
"Tentu" ucap wulan
"Menurut loe siapa saja yang tau akan kehamilan afshah?" Tanya aldrian
"Gue, dokter dan perawat tempat gue konsul" jawab wulan cepat
"Boleh gue minta alamat tempat loe konsul?" Tanya aldrian lagi
"Tentu. Nanti gue kirim alamatnya" jawab wulan.
"Terimakasih wulan.." ucap aldrian
"Sama-sama. Tapi,gue rasa loe harus tau dan mendengarkan suara hati loe al" ucapnya di akhir sambung pangilan aldrian.
"Entah wulan. Saat ini hanya afshah di fikiran gue. Sementara bagaimana janji gue kepada misya?" aldrian berbicraa menatap ponselnya yang tak ada lagi cahaya.
Aldrian menaruh ponsel di atas meja lampu tidurnya.
Aldrian menyandarkan kepalanya pada tepi tempat tidur dengan mata yang masih memperhatikan tempat tidur yang kotor.
Aldrian memperbaiki posisi duduknya yang serasa tak nyaman.
Tangan kanannya di taruh sampingnya sebagai penupang tubuhnya.
Tanganya tak sengaja menyentuh sesuatu dekat bantal yang di tempati afshah saat itu.
"Ini.... foto USG?!" Batin aldrian.
Matanya memerah.
Cairan bening mengalir dipipinya.
Kertas berbentuk potret berwarna warna gelap.
Potret yang memperlihatkan bentuk titik bulat di tengah gambarnya.
"Ini... ini.." ucap aldrian pilu mengusap-usap gambar yang di temukannya.
Aldrian mendekap gambar tersebut didadanya.
Dengan berurai air mata.
# Flas back off
########
hai..hai semua...
jangan lupa baca juga novel aku yang Dkas (Dulu kini ataupun selamanya ).
__ADS_1
terimakasih.😘😘😘