
HF #45
Hai..hai..
Ini novel kedua ku di sini..
Semoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di luar sebuah ruang..
Aldrian mondar mandir.
Kegelisahan menghampirinya.
Pintu ruangan terbuka, seorang berpakaian putih keluar dari ruangan
"Bagai mana keadaannya?" Tanya aldrian
"Maaf tuan..bayinya tak dapat kami selamatkan dan nona masih dalam masa kritis, kami masih perlu memberinya penambahan darah." Ucap sang dokter
Aldrian mematung di tempatnya.
"Barapa persen kesembuhannya?" ucapnya lirih
"Jika masa kritisnya berakhir. Nona akan baik-baik saja" ucap sang dokter.
"Baiklah" jawab aldrian
__ADS_1
"Permisi tuan Saya pergi dulu" pamit sangdokter yang tak di jawab sedikitpun oleh aldrian
Aldrian duduk pada kursi tunggu di depan kamar operasi afshah berlangsung.
Kepala menunduk menatap ubin lantai.
Damian dan dave datang tergesa-gesa menuju rumah sakit sebelumnya membatalkan penerbangan mereka.
Ingin kepastian akan kesehatan afshah..
Bagi mereka keselatan afshah itu prioritasnya saat ini.
Tiga pasang kaki menutupi pandangan aldrian pada lantai mer-mer rumah sakit.
"Bagaimana keadaan afshah?" Damian membuka suara membuat aldrian menatap langsung ke arah asal suara
" kritis" jawab aldrian.
"Apa yang terjadi?" Tanya damian lagi
Aldrian hanya menatap damian sebentar dan beralih ke arah jimmy yang berdiri bersenderkan dinding di depan aldrian
"Kenapa kau bisa datang berbarengan dengan mereka?" Tanya aldrian pada jimmy yang dirasa datang terlambat. Tak memperdulikan pertannyaan damian.
"Aku baru saja dari labor rumah sakit ini,memeriksa sisa makanan dan minuman yang di kosumsi afshah terakhir kalinya. yang untungnya masih berada di dalam kamar." Damian berhenti sejenak
Beralih menatap damian dan dave sejenak.
" Soal damian dan dave. Kami kebetulan berjumpa di depan resepsionis saat menuju ke sini." Jawab jimmy menerangkan
"Aku butuh jawaban darimu aldrian" suara damian kembali. yang bernada kesal
__ADS_1
"Huh... kenapa kau terlihat kesal?, apa bayi yang tak dapat di selamatkan itu anakmu?" Tanya aldrian bernada mengejek
" jika itu anak ku. Akan ku pastikan hal ini tak akan terjadi" teriak damian
"Kenapa kau yang berteriak?!, afshah itu istriku!" Suara aldrian tak kalah kerasnya, berdiri menghadap damian
" hei..sudahlah, ini rumah sakit" jimmy menenangkan aldrian dan melirik orang yang metap ke arah mereka
"Ayo damian. Kau butuh ketenangan" ucap dave menarik paksa damian dari depan ruang operasi afshah
"Kau seharusnya bersabar aldrian, bukankah tadi damian bertanya baik-baik?!" Ucap Jimmy
"Dia terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku" jawab aldrian
" sebagai sahabat,apakah bertanya keadaan akan perihal kejadian yang menimpa keluargamu sama dengan mencampurinya?" Tanya jimmy bernada penekanan di setiap kalimatnya.
" sekarang biarkan aku sendiri" ucap aldrian kembali duduk ditempat sebelumnya.
"Ya.. bukan damian yang butuh di tenangkan.. tapi kau yang butuh pembersihan dalam kepalamu" ucap jimmy meninggalkan aldrian yang masih duduk pada kursi tunggu.
Aldrian melirik punggung jimmy yamg meninggalkannya.
Tanggan aldrian mengacak-acak kesal rambutnya..
Rasa marah,kecewa, curiga dan entah rasa apa lagi bercampur aduk di kepalanya..
Damian dan dave duduk di sudut ruang meja kantin rumah sakit dengan 2 cangkir kopi hanggat di depannya.
Dave mengintip keluar area rumah sakit dari dinding transparan di lantai dua tersebut.
Aktivitas luar rumah sakit terlihat masih ramai walau sore telah berganti malam.
__ADS_1