AIR MATA DAN PEMBALASAN

AIR MATA DAN PEMBALASAN
KALIAN JAHAT


__ADS_3

"Ibu..," Panggil Franco.


Bibi Lily menoleh, wanita itu menatap anak sambungnya dengan tatapan mata yang begitu merindukan.


"Bibi, Bagaimana kondisi bibi?" tanya Annabelle.


nafas yang sedikit terputus, tatapan mata yang benar-benar sudah tidak fokus. senyum yang begitu lemah ditunjukkan oleh Bibi Lily ketika melihat Franco dan Annabelle.


"Franco..," Panggil baby Lily.


"Iya, Ibu." jawab Franco.


"Franco, tolong jaga Annabelle untuk Ibu. tolong kamu jaga wanita muda ini, dia dia sudah tidak ada keluarga lagi." ucap bibi Lily dengan suara yang sedikit lemah.


"Aku akan menjaganya, Bu." jawab Franco.


"Bibi harus bisa bertahan, Bibi harus bersama dengan Annabelle." ucap Annabelle yang memegang tangan Bibi Lily.


"Annabelle.. Maafkan Bibi ya, maafkan Bibi jika Bibi tidak bisa bersamamu..," ucap lemah bibi Lily.


"Jangan seperti itu, bi. Bibi harus bersamaku, Bibi satu-satunya keluargaku." jawab Annabelle.


Bibi Lily menatap Franco, wanita itu meremas salah satu tangan Franco sebagai permintaan agar pria itu mau menjaga Annabelle.


"Aku akan menjaga Annabelle, aku akan menjaganya untuk ibu." ucap Franco yang kemudian mengelus wajah Bibi Lily.


Tak berselang lama senyum yang begitu indah ditunjukkan oleh Bibi Lily, senyum yang diiringi nafas yang terputus perlahan-lahan.


TUTTTT....


monitor jantung itu akhirnya menunjukkan garis lurus, Annabelle menatap monitor itu dengan tatapan mata yang begitu tak percaya.


"Tidak! tidak! Bibi tidak boleh meninggalkanku!!" teriak Annabelle dengan suara yang begitu keras.


"Mohon kalian keluar sebentar." beberapa dokter dan perawat mencoba untuk menolong bibi Lily, namun sayangnya takdir berkata lain.


"Maafkan kami, Nyonya Lily tidak bisa kami selamatkan." ucap dokter.


"Tidak! tidak! kalian harus menyelamatkan bibiku! kalian harus menyelamatkannya!!" teriak Annabelle dengan sangat keras sembari memukul tubuh salah satu dokter.


Franco yang melihat hal itu seketika pria itu memeluk Annabelle dengan begitu erat.


"Kamu harus kuat, Annabelle. kamu harus kuat." ucap Franco.


"Tidak boleh!! bibi tidak boleh meninggalkanku!! bibi tidak boleh meninggalkan! aku aku tidak punya siapapun aku tidak memiliki siapapun!!" teriak Annabelle dengan sangat keras.


Franco tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya bisa memeluk Annabelle dengan sangat erat. sekitar beberapa jam kemudian proses pengiriman jenazah dari rumah sakit pun telah selesai.


"Kita harus memakamkan ibu, Annabelle." ucap Franco.

__ADS_1


Tak ada kata yang bisa terucap dari mulut Annabelle, ketika dia berada di rumah besar itu Annabelle menatap David dan Lucia.


"Aku tidak bisa mengikuti pemakaman bibi." ucap David.


Annabelle menatap David dengan tatapan mata yang begitu menyakitkan, begitu membenci bahkan kebencian itu mengalir nadi Annabelle.


"Dasar pembunuh! kalian berdua adalah pembunuh!!" seru Annabelle yang kemudian memukul David dengan sangat keras.


BRUKK...


David menatap Annabelle, pria itu hanya diam ketika melihat Lucia mendorong tubuh Annabelle yang lemah itu dengan begitu keras.


"Apa yang kamu lakukan, David! Apakah kamu tidak punya hati sama sekali!!" seru Franco.


"Dasar anak pungut, diamlah! kamu tidak usah ikut campur dalam urusanku." jawab David yang kemudian pergi bersama Lucia.


Sakit itu benar-benar menghancurkan hati Annabelle, sakit itu benar-benar meruntuhkan semua kelemahan Annabelle.


"Dengarlah aku, berdoa kepada Tuhan.. aku berdoa kepada Tuhan agar Tuhan tidak pernah memberikanmu kebahagiaan! aku akan meminta kepada Tuhan untuk menghancurkan seluruh kebahagiaanmu! kamu telah membunuh anakku, Kamu tidak akan mempunyai keturunan seumur hidupmu! kamu telah membunuh bibiku, Kamu tidak akan mempunyai kebahagiaan sampai kapanpun!!" teriak Annabelle dengan suara yang begitu lantang.


David dan Lucia yang Mendengar hal itu mereka tidak menghiraukan sumpah serapah Annabelle, mereka langsung pergi dengan raut wajah yang begitu kesal. mungkin dalam hati David tidak bermaksud membunuh bibinya, namun semuanya sudah terlanjur terjadi.


Franco menenangkan Annabelle, meminta wanita muda itu untuk tegar menghadapi kehidupan. pemakaman pun akhirnya dilangsungkan, Annabelle terus menangis di pemakaman.


"Apa yang harus aku lakukan, aku sudah tidak mempunyai siapapun. tidak akan ada orang yang melindungiku." tangis pilu Annabelle.


"Aku akan membawamu pergi dari sini, Ibu sudah bilang kan kalau aku harus menjagamu." jawab Franco.


"Aku membenci pria itu, aku sangat membenci pria itu..," ucap Annabelle.


setelah selesai pemakaman di David tetap tidak menunjukkan batang hidungnya, pria itu bahkan tidak pulang ke rumah. dia pergi ke suatu tempat bersama dengan Lucia.


"Kemasih barang-barangmu, Annabelle. aku akan membawamu pergi dari sini." pinta Franco.


Annabelle pergi ke kamarnya, membawa barang-barang yang tidak terlalu banyak yang ada di tempat itu.


"Apa Nyonya akan pergi?" tanya salah satu pembantu.


Annabelle menganggukkan kepalanya.


"Saya berdoa semoga nyonya Annabelle menemukan kebahagiaan, saya berdoa semoga Nyonya Annabelle menjadi wanita yang tegar kuat dan mempunyai hati sekeras baja." ucap salah satu pembantu.


Annabelle hanya menganggukkan kepalanya, wanita itu kemudian memeluk salah satu pembantunya itu.


hari ini Annabelle menatap rumah yang sudah menjadi tempatnya selama 1 tahun, rumah yang menjanjikan kebahagiaan namun kenyataannya hanya kepahitan.


"Ayo, Annabelle." Franco kemudian mengajak Annabelle. entah ke mana pria itu akan membawa Annabelle pergi.


SATU MINGGU KEMUDIAN

__ADS_1


satu minggu telah berlalu, David baru pulang ke rumahnya bersama Lucia, pria itu menatap rumah kosong yang selalu dia datangi. bibinya sudah tidak ada, wanita yang selalu memberinya ceramah itu sudah tidak ada lagi. rasa bersalah terkadang menyelimuti hati David.


"Tuan," Panggil salah satu pembantu.


"Ada apa." jawab David.


"Tuan, apa Tuan mau saya buatkan sesuatu?" tanya pembantu.


"Tidak usah, suruh wanita itu untuk membuatkan aku makanan." jawab David.


"Maaf, Tuan. Nyonya Annabelle sudah tidak ada di sini." jawab si pembantu.


"Maksudmu?" tanya David.


"Nyonya Annabelle sudah pergi dari rumah ini, tuan." pelayan nampak menundukkan kepalanya.


"Wanita itu pergi dengan siapa?" tanya David.


"Nyonya pergi sendiri, tuan." jawab pembantu.


"Baguslah kalau begitu, lebih baik Wanita itu pergi dari sini. dia selalu merusak pemandangan." jawab Lucia yang kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


David tidak bisa mengatakan apapun, pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan semua perasaannya yang bercampur aduk.


"Ya sudah kalau begitu, buatkan aku kopi. Aku mau menyelesaikan beberapa pekerjaanku." ucap David yang kemudian pergi ke salah satu ruangan yang ada di rumahnya.


sebuah foto yang menghiasi kantor yang ada di rumah David, foto bibi Lily bersama David ketika pria itu masih kecil.


"Aku tidak bermaksud melakukan hal itu, semuanya kesalahan wanita itu. kenapa Bibi harus selalu melindunginya." ucap David bukan merasa bersalah malah David melimpahkan kesalahannya kepada Annabelle.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- aku mencintai isteri yang ku benci


- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)


- The royal palace


- Crazy love


- Legend of the dragon kingdom


- Terlempar ke dimensi kerajaan

__ADS_1


- Air mata dan pembalasan


__ADS_2