
"Tidak, kamu tidak boleh melakukan hal ini padaku, Franco!!" seru Siria.
"Kenapa aku tidak boleh melakukannya, Siria. aku sudah bilang kan padamu kalau aku akan menunjukkan kepada dunia mengenai kebohonganmu. jadi aku tidak akan pernah melepaskanmu, Aku tidak akan pernah memaafkan apa yang kamu lakukan." Franco memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu kepada Siria.
"Apa yang akan kamu lakukan, Franco?" tanya Joni.
"Aku akan menyerahkan adikmu itu kepada polisi, biar dia menanggung semua kejahatan yang sudah dia lakukan. Dia sudah menjebakku, membunuh istrimu bahkan karena ulahnya kamu menabrak istriku." jawab Franco.
Joni kehilangan kata-kata, pria itu menundukkan kepalanya kalau bukan karena adiknya Joni tidak akan melakukan kesalahan yang sangat fatal. dia sudah menghabisi seseorang, walaupun Joni tidak langsung membunuh Liliana tapi Joni sudah membuat almarhum istri Franco menjadi wanita lumpuh.
"Franco." Panggil Joni.
"Ada apa." jawab Franco.
"Franco, Aku meminta maaf padamu.. Aku benar-benar meminta maaf padamu, walaupun aku tahu aku tidak akan pernah kamu maafkan, tapi aku akan tetap meminta maaf padamu." Joni berlutut di depan Franco.
Franco sedikit terdiam. mungkin jika bukan karena Siria dia tidak akan kehilangan istrinya. "Mungkin ini semua sudah takdirku, Joni. Mungkin ini semua adalah jalan hidupku, walaupun aku ingin membencimu tetap saja istriku tidak akan pernah kembali. walaupun aku membunuhmu tetap saja istriku tidak akan kembali." Franco yang kemudian menepuk pundak Joni dan meninggalkan tempat itu. anak buah Franco sudah membawa Siria ke kantor polisi.
Joni tidak melakukan apapun, pria itu ingin adiknya mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia lakukan. Dia telah membunuh wanita yang begitu dicintai oleh Joni. hanya karena merasa cemburu Siria melakukan segala cara.
"Heh..," Syria menghembuskan nafasnya, wanita itu menatap Franco yang sudah meninggalkannya. "Maafkan aku, sayang. maafkan aku.. maafkan aku karena aku bodoh, maafkan aku karena aku baru mengetahui kalau adikku lah yang telah membunuhmu." Joni langsung terduduk lemas pria itu menangis merasakan kesedihan yang begitu luar biasa.
Siria dibawa ke kantor polisi, wanita itu akan menjalani hukuman yang mungkin sangat panjang. 2 pembunuhan yang akan didakwakan kepada Siria, pembunuhan kakak iparnya juga Liliana. Setelah dari kantor polisi Franco kembali ke rumahnya, langkah kakinya begitu berat. hidupnya terasa sudah mendapatkan titik terang yang begitu melegakan hatinya. Franco duduk di teras rumahnya, menatap halaman rumah yang begitu luas. beberapa mobil berjajar di tempat itu.
"Seandainya waktu bisa diulang Aku tidak akan kehilangan dirimu. seandainya aku melakukan semua yang kamu minta aku tidak akan kehilangan dia." Franco memejamkan matanya. menghelas menghela nafasnya berulang kali kemudian merenungkan jalan hidupnya.
Di belakang tubuh Franco sudah berdiri Annabelle, wanita itu menatap Franco yang duduk di teras rumah. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Annabelle saat melihat Franco berada di luar rumah.
"Tidak ada apa-apa hanya merenungi hidupku saja." Franco menatap nyalang ke depan.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah kamu sudah menemukan keberadaan wanita itu?" Annabelle terus bertanya kemudian duduk di samping Franco.
"Sudah, Wanita itu sudah aku masukkan ke penjara. biar para polisi menangani wanita itu, wanita gila yang sudah menghabisi banyak nyawa." jawab Franco.
Penyesalan memang selalu datang di belakang, penyesalan selalu datang terlambat. kehidupan mungkin berjalan sesuai takdir Tuhan, namun adakalanya manusia selalu memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Masuklah dahulu, udara di luar sudah mulai dingin." Annabelle berdiri hendak meninggalkan Franco.
Salah satu tangan Franco langsung memegang tangan Annabelle. "Jika waktu bisa aku ulang. Bisakah kamu bersamaku, Annabelle? Bisakah kamu menjadi pelabuhanku, menjadi tempat bersandar ku?" tanya Franco dengan suara yang begitu lemah.
Annabelle terdiam, wanita itu jantungnya sedikit berdebar ketika Franco mengatakan hal itu. "Bisakah kita melakukannya? Bisakah kita berdiri diantara jembatan yang bergoyang?" tanya Annabelle balik.
Franco melepaskan tangannya, pria itu tahu apa yang dimaksud oleh Annabelle. "Kamu benar, aku minta maaf karena membuatmu seperti ini. aku memang egois." tiba-tiba Franco tersenyum kemudian mengusap rambut Annabelle. pria itu masuk ke dalam rumah dengan semua kelegaan yang sudah dia dapatkan. "Di mana Gabriel, Annabelle?"
"Gabriel ada di dalam kamar, kelihatannya dia berbicara dengan seseorang."
Franco menganggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu, Apakah kamu sudah makan?"
Annabelle ikut tersenyum kemudian berjalan di belakang tubuh Franco. "Sudah, aku tadi sudah makan bersama dengan Gabriel. dia selalu merajuk jika aku tidak makan bersamanya."
Ada sedikit rasa sakit. ada luka yang begitu menganga di hati Franco.
"Anabelle!" Panggil Gabriel dari lantai 2.
"Iya, ada apa." Annabelle berjalan mendekati Gabriel.
"Benarkah?!" Annabelle juga ikut bahagia mendengarnya.
"Baguslah kalau begitu, Gabriel. Kamu harus berjuang, Lihatlah Annabelle benar-benar ingin melihatmu sembuh!" seru Franco. di luar mengatakan hal itu namun di dalam hati begitu perih.
"Tentu saja aku akan berjuang untuk Annabelle, Aku tidak akan melepaskannya untuk siapapun." jawab Gabriel.
Tiga hati yang mungkin saling menyakiti berdiri saling bertatapan namun luka yang sama-sama dirasakan. malam menjelang menjadi pagi, pagi-pagi sekali Gabriel sudah mengemasi beberapa barangnya untuk dibawa ke rumah sakit. Franco dan Annabelle juga bangun pagi.
"Apakah kamu sudah membawa semua barang-barangmu?" tanya Franco.
"Sudah, aku sudah membawa semua barang-barangku. kamu jangan khawatir." jawab Gabriel sambil menunjukkan satu koper pakaian.
"Memangnya kamu mau ke mana? Yang aku tanya itu Annabelle. Dia kan mau menunggumu di rumah sakit, sedangkan kamu.. kalau di rumah sakit kan pakai pakaian Rumah Sakit, kenapa bawa pakaian sebanyak itu? kamu mau piknik ya?" Franco menyindir keras Gabriel.
"Sesuka hatiku dong, lagi pula ini pakaianku kan." jawab acuh Gabriel.
__ADS_1
Ketiga orang itu akhirnya aku pergi ke rumah sakit, di rumah sakit Gabriel sudah ditunggu oleh dokter pribadinya. beberapa tes kesehatan langsung dilakukan oleh Gabriel, tidak menunggu lama semua proses mulai dilakukan.
"Annabelle, Kamu jangan kemana-mana tunggu aku di sini." pinta Franco.
"Tenang saja, aku pasti ada di sini. lagi pula aku mau ke mana." Annabelle menepuk salah satu tangan Gabriel.
Melihat pemandangan seperti itu hati Franco benar-benar begitu terluka, rasa sakit itu semakin hari semakin membesar.
"Aku minta kamu menjaga Annabelle saat aku di dalam, Franco." pinta Gabriel.
"Tentu saja aku akan menunggunya, lagi pula dia sudah besar, kan."
"Kalian ini apa-apaan sih." Annabelle mulai menunjukkan kekesalannya.
Gabriel masuk ke dalam ruang pemeriksaan, di luar ruangan Annabelle dan Franco menunggu hasil dari pemeriksaan kesehatan Gabriel. mereka berdua berdoa agar hasilnya bagus dan Gabriel sesegera mungkin dioperasi agar penyakitnya segera hilang.
Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- Crazy love
- AIR MATA DAN PEMBALASAN
- TIME TRAVEL KE KERAJAAN KUNO
__ADS_1