
*BEBERAPA JAM KEMUDIAN*
"Uhuk.. uhukk..," Franco terbangun.
"Kamu sudah terbangun?" tanya Annabelle yang langsung mendekati Franco.
Franco menatap Annabelle.
"Aku ada di mana?" tanya Franco yang penuh dengan kebingungan.
"Kamu ada di rumah sakit, tadi kamu tidak sadarkan diri." jawab Annabelle.
"Apa yang terjadi denganku?" tanya Franco.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu." jawab Annabelle.
Franco terdiam, pria itu menatap langit-langit kamar rumah sakit.
"Sudah beberapa hari ini aku tidak enak badan, pekerjaan di rumah sakit perusahaan sangat banyak." jawab Franco.
"Kalau sudah tahu Sakit kenapa harus memaksakan diri? lebih baik beristirahat. kan ada Tuan Gabriel." ucap Annabelle.
"Itu adalah perusahaanku, aku ingin semuanya terkondisi dengan semua dari upayaku." jawab Franco.
"Jika tubuh tidak bisa menopang raga, Jiwa tidak bisa berdiri dengan kokoh.. lalu apa yang akan terjadi? hati mungkin bisa menghianati tapi ragamu akan berdiri dengan kekosongan seperti inilah yang terjadi padamu, mencoba untuk menutupi sesuatu mencoba untuk menahan rasa sakit." jawab Annabelle.
"Aku tidak tahu, aku tidak ingin orang lain tahu kalau aku sakit. aku tidak ingin orang lain tahu kalau aku sedang tidak enak badan." ucap Franco.
Annabelle mengambil segelas minuman hangat. "Minumlah dahulu." minta Annabelle.
Franco mencoba untuk duduk, dengan segera Annabelle meletakkan gelas itu kemudian membantu Franco.
"Di mana Gabriel?" tanya Franco.
"Tuan Gabriel tadi ke perusahaan, katanya ada beberapa tamu yang sudah datang ke sana." jawab Annabelle.
Franco menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, aku ingin beristirahat dahulu. Aku ingin mengistirahatkan pikiranku yang lelah." ucap Franco.
Annabelle duduk dengan semua rasa lelah.
"Kamu pulanglah dahulu." pinta Franco.
"Tadi aku sudah menelpon pembantu yang ada di rumah, aku bilang hari ini aku tidak pulang karena aku ada urusan keluar kota." jawab Annabelle.
"Lalu, apa pria itu tidak akan mencarimu?" tanya Franco kembali.
"Semenjak kapan dia mencariku? Jika dia mencariku pasti dia akan mencariku beberapa tahun yang lalu." jawab ketus Annabelle.
Di rumah David terlihat pria itu sedang mondar-mandir, matahari sudah tenggelam namun Annabelle masih belum pulang.
"Kenapa dia belum pulang juga." David mulai mengkhawatirkan Annabelle.
"Tuan, apa Tuan tidak mau makan?" tanya Vania.
"Nanti saja, nanti aku akan makan." jawab David.
"Tuan." Panggil Vania.
"Ya." jawab David.
__ADS_1
"Apa Tuan menunggu nyonya Annabelle?" tanya Vania yang menebak.
"Iya, kenapa sampai jam begini dia belum kembali. biasanya kan biasa sampai rumah pukul lima sore, tapi kenapa dia belum pulang juga. ini hampir pukul tujuh malam." jawab David.
"Tadi Nyonya Annabelle bilang kalau hari ini dia keluar kota, Tuan. ada beberapa urusan mendesak dari rekan bisnis bosnya yang baru." jawab Vania.
Seketika David mengambil ponselnya, pria itu ingin menelpon Annabelle.
"Aku mau menelepon dia, Lalu aku harus pakai nomor telepon siapa. aku kan tidak mempunyai nomor teleponnya." ucap David.
"Ada apa, Tuan?" tanya Vania.
"Apa kamu punya nomor ponsel Nyonya Annabelle?" tanya David.
"Nomor ponsel Nyonya Annabelle?" tanya Vania.
"Iya.' jawab David.
"Maaf, Tuan. Nyonya Annabelle selalu menelpon ke telepon rumah. jadi saya tidak tahu nomor ponselnya." jawab Vania.
David langsung mengecek telepon rumahnya, pria itu akan melacak nomor ponsel milik Annabelle.
"Ya sudah kamu pergi saja dulu, kalau Nyonya Lucia sudah bangun buatkan dia sesuatu." pinta David.
"Baik, Tuan." jawab Vania yang kemudian pergi.
David mengecek telepon rumahnya, dia melihat nomor ponsel mungkin ini nomor ponselnya." ucap David yang kemudian mulai mencoba untuk menelpon.
Tuttt..
Tuttt...
Nomor ponsel itu nampak tersambung.
Annabelle yang berada di rumah sakit dia menatap ponselnya, di sana terpampang nomor telepon seseorang yang tidak dia kenal.
"Ini nomor telepon siapa." ucap Annabelle.
"Ada apa?" tanya Franco.
"Entahlah, ada nomor ponsel seseorang yang masuk." jawab Annabelle.
"Itu kan nomor ponselku, Kenapa ada yang tahu?" tanya Franco kembali.
"Aku menelpon rumah David dengan ponsel ini, jadi pasti mereka menelponku balik." jawab Annabelle.
"Itu kan telepon rumah, lalu yang menelpon kamu sekarang kan ponsel?" tanya Franco.
TUTT..
Annabelle akhirnya menjawab panggilan telepon dari seseorang.
"Ini siapa ya?" tanya Annabelle.
"Ini aku, David." jawab David.
"David, ada apa?" tanya Annabelle.
"Kamu sekarang ada di mana? katanya kamu ada di luar kota?" tanya David.
"Sebenarnya...," Annabelle yang belum melanjutkan perkataannya ponsel itu dirampas oleh Franco.
__ADS_1
"Annabelle Ada di rumah sakit merawatku." jawab Franco.
"Apa maksudmu?" tanya David.
"Annabelle sedang berada di rumah sakit, dia merawatku." jawab Franco yang kemudian mematikan ponselnya.
"Nggak usah dijawab lagi nggak usah diangkat teleponnya dan nggak usah membalas pesan yang dia kirim nanti." ucap Franco yang terlihat memaksakan diri.
"Lalu, kenapa kamu yang jawab. Bukankah tubuhmu itu masih lemas?" tanya Annabelle.
"Kamu jangan kemana-mana, jangan pergi kemanapun, tolong kamu temani aku." ucap Franco dengan begitu lemah. Tubuhnya benar-benar seperti tidak bertulang sama sekali.
Sesaat kemudian salah satu suster membawakan makanan untuk Franco.
"Ini makanannya." ucap perawat.
"Baiklah, suster. boleh aku ambil makanannya? Aku akan menyuapinya." ucap Annabelle.
si perawat wanita nampak tersenyum. "Tuan benar-benar sangat beruntung, istri tuan dari tadi menjaga Tuan." ucap perawat yang membuat Annabelle melotot tajam ke arah suster. "Aku salah ya nyonya?" tanya perawat.
"Maaf ya suster, dia ini bukan suamiku.dia bosku." jawab Annabelle sembari tersenyum kecil.
sempat dikatakan sebagai suami Annabelle raut wajah Franco terlihat tersenyum, sesaat kemudian malah Annabelle menangkis perkataan suster itu.
"Biarkan saja mereka menganggapmu istriku, memangnya aku tidak pantas ya dikatakan sebagai suamimu?" kesal Franco.
"Bukannya seperti itu, Tuan. apa Tuan mau dikatakan sebagai suamiku? nanti Tuan bilang aku ini mengharapkan sesuatu." jawab Annabelle.
DEG..
Franco kembali tersentak, kata-kata yang diucapkan oleh Annabelle adalah kata-kata yang dia ucapkan beberapa tahun yang lalu. semua yang dikatakan oleh Franco masih diingat oleh Annabelle dengan baik, jangan pernah mengharapkan cintanya jangan pernah mengharapkan perhatiannya Karena semua itu tidak akan pernah didapatkan oleh Annabelle.
Franco menghela nafasnya dengan begitu dalam, pria itu menyandarkan tubuhnya dengan rasa lelah yang benar-benar tidak bisa dikatakan.
"Apakah tidak boleh jika Aku mengharapkan sesuatu? Apakah tidak boleh jika aku menginginkan sesuatu darimu? waktu bisa berjalan, waktu bisa berubah. aku memang sudah menyakitimu dengan kata-kataku, tapi bisakah kamu melupakan semua kata-kata kejam ku itu?" tanya Franco dengan tiba-tiba.
Annabelle langsung terdiam, dia tidak bermaksud mengatakan hal itu. namun Annabelle tidak ingin dikatakan sebagai wanita yang mengharapkan sesuatu dari Franco.
"Bukan seperti itu.. maksudku..," ucap Annabelle.
"Aku tahu, mungkin kamu tidak akan memaafkan aku. aku tahu mungkin kamu masih kesal dengan semua kata-kataku beberapa tahun yang lalu. aku tidak bermaksud seperti itu, Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. waktu itu aku masih belum bisa melupakan istriku, dia adalah cinta pertama dan cinta yang begitu aku puja." ucap Franco.
Annabelle kembali terdiam, dia tidak berani mengatakan sepatah kata pun. bukan seperti ini bukan ini yang dia inginkan.
Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- Crazy love
- AIR MATA DAN PEMBALASAN
__ADS_1
- TIME TRAVEL KE KERAJAAN KUNO