
Annabelle membuka matanya, wanita muda itu menatap Bibi Lily yang berada di sampingnya.
"Bibi..," panggil Annabelle.
"Kamu sudah bangun, Annabelle?" tanya bibi Lily.
Annabelle tersenyum menatap wanita yang selalu mendukungnya selama 1 tahun itu.
"Bagaimana kondisimu, Annabelle?" tanya Bibi Lily.
Anabelle menganggukkan kepalanya, wanita muda itu berusaha untuk bangun.
"Kamu mau apa?" tanya Bibi Lily.
"Aku mau duduk di jawab Annabelle." bibi Lily membantu Annabelle duduk. terasa begitu sakit, Annabelle benar-benar harus merasakan kesakitan berulang kali.
"Bagaimana, Apa sudah lebih baik?" tanya bibi Lily.
Annabelle menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian wanita itu meraba perutnya. bekas operasi di perut itu membuat Annabelle langsung berpikir mengenai sesuatu.
"Apa yang terjadi dengan anak ku, bi?" tanya Annabelle dengan suara yang sedikit lemah.
Bibi Lily tidak menjawab, namun dari raut wajah yang begitu sedih itu dia tahu kalau ada sesuatu yang terjadi.
"Heh..," helaan nafas bibi Lily.
"Ada apa, bi. apa yang terjadi dengan anak yang ada di kandungan ku?" tanya Annabelle.
Bibi Lily sangat berat untuk mengatakan mengenai kenyataan itu, namun sesaat kemudian wanita setengah baya itu menggenggam erat tangan Annabelle.
"Kamu harus tabah, Annabelle." jawab bibi Lily.
"Apa yang terjadi, bi." mata Annabelle langsung berkaca-kaca.
"Kamu harus kuat, anak itu tidak bisa bertahan." jawab bibi Lily yang menundukkan kepalanya.
"Tidak! tidak..," Annabelle meneteskan air matanya, hatinya benar-benar hancur setelah mendengar kabar dari bibi Lily.
"Hiks... hikss..,"
Air mata langsung menetes, rasa sakit itu sudah tidak tertahan lagi.
"Aaaaa!!"
suara tangis Annabelle yang sudah tidak terbendung lagi. Annabelle meringkuk kesakitan, barusan mendapatkan kabar yang begitu bahagia namun kabar itu sekarang direnggut oleh suaminya sendiri.
"Mengapa ini harus terjadi, Mengapa ini harus terjadi. Kenapa pria itu kejam sekali padaku!!" teriak Annabelle dengan suara yang begitu keras.
"Kamu harus sabar, Annabelle. kamu harus kuat." ucap bibi Lily.
"Aku menginginkan kebahagiaan, bi. Aku menginginkan sebuah keluarga, tapi kenapa semuanya harus seperti ini." Annabelle tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.
terasa semuanya benar-benar tidak bisa dia kendalikan lagi, semua rasa sakit itu membuat dirinya tidak bisa menahan air matanya.
"Kamu tidak boleh seperti ini, Kamu tidak boleh seperti ini." Bibi Lily kemudian memeluk Annabelle.
__ADS_1
suara tangis itu terdengar begitu keras, begitu memilukan bahkan suara tangisan itu benar-benar seperti rasa sakit yang tidak akan bisa terobati.
Setelah mendapat kabar dari bibi Lily Annabelle terus menangis, dua hari Annabelle di bawah kembali ke rumahnya diantar oleh Franco.
"Terima kasih, Franco." ucap Bibi Lily.
"Tidak apa-apa, Bu. nanti kalau ada sesuatu Ibu bilang sama aku." jawab Franco yang kemudian meninggalkan bibi Lily dan Annabelle.
Bibi Lily memapah Annabelle masuk ke dalam rumah, di dalam rumah terlihat seorang pria yang sedang bersenang-senang dengan kekasihnya.
"Dari mana saja kau selama beberapa hari ini, ke mana tiba-tiba kau menghilang!" seru David.
Annabelle tidak menjawab, wanita muda itu hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari David.
"Kamu tidak punya mulut ya!!" seru Lucia.
Terasa mulut Annabelle tidak bisa tergerak sama sekali, telinganya serasa tidak bisa mendengar. rasa sakit itu memang benar-benar menghancurkan dirinya tanpa tersisa.
"Kenapa kalian melakukan hal ini, padaku. Kenapa kalian membunuh anakku!" seru Annabelle dengan suara yang begitu keras.
"Apa maksudmu? anak dari mana maksudmu, lagi pula Siapa yang menginginkan anak darimu." jawab David dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. hanya ada rasa sakit yang benar-benar tidak bisa terucap dari mulut Annabelle.
GREPP...
Salah satu tangan David tiba-tiba mencengkram wajah Annabelle dengan sangat keras.
"Aku lebih suka anakmu itu mati daripada dia harus lahir, aku tidak mau dipanggil papa oleh anakmu. aku sudah bilang kan aku tidak mau mempunyai anak darimu." setelah mengatakan hal itu David langsung mendorong tubuh Annabelle. tubuh yang masih lemah itu hanya bisa merasakan kesakitan. bibi Lily yang melihat hal itu seketika dia menampar wajah David.
PLAKK!!
"Aku sudah bilang kan, bi. jangan menamparku berulang kali, aku mempunyai batas kesabaran." ucap David.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan, hah.. apa? Dengarkan aku baik-baik David, kamu ini pria brengsek dan wanita itu adalah pelacur. kalian berdua itu adalah pasangan hina yang tidak seharusnya lahir di dunia ini!!" seru Bibi Lily dengan suara yang begitu keras.
BUGG..
BRUKK..
karena emosi David langsung mendorong tubuh Bibi Lily hingga membentur sisi pinggiran dari meja. seketika wanita itu tidak sadarkan diri dengan luka bagian belakang di kepala.
"Apa yang kamu lakukan!!" seru Annabelle yang mendorong tubuh David.
Darah yang mulai mengalir, David yang melihat hal itu seketika dia membulatkan kedua bola matanya.
"Tolong! tolong!!" seru Annabelle dengan suara yang begitu keras.
Beberapa pembantu langsung mendatangi ruang tengah.
Para pembantu melihat Bibi Lily yang sudah tergeletak dengan kepala yang bersimbah darah.
"Tolong!! Tolong panggil ambulans!!" seru Annabelle dengan suara yang begitu lemah.
Beberapa pembantu langsung menelpon ambulans, David menatap bibinya yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir.
"Apa yang kamu lakukan." ucap Lucia.
__ADS_1
"Aku.. aku tidak sengaja." jawab David.
sekitar beberapa menit kemudian mobil ambulans sudah datang, mereka membawa bibi Lily ke rumah sakit terdekat. Annabelle kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang sangat berbeda, Anabelle takut, kebingungan perasaan wanita muda itu bercampur aduk.
"Aku harus menelpon pria itu..," ucap Annabelle yang kemudian menelpon Franco.
Sekitar satu jam kemudian Franco sudah berada di tempat itu.
"Apa yang terjadi, Annabelle?" tanya Franco.
"Bibi Lily didorong oleh David, Aku tidak tahu.. Bibi membentur sesuatu, kepalanya berdarah..," jawab Annabelle.
"Sekarang dia berada di mana?" tanya Franco.
"Bibi masih berada di ruang ICU, sudah 1 jam masih belum ada kabar." jawab Annabelle.
wajah yang begitu pucat, tubuh yang gemetar keringat yang mulai dingin itu membuat Annabelle tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Tenanglah, kamu harus tenang." ucap Franco yang mencoba untuk menenangkan Annabelle.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada bibi Lily?" tanya Annabelle.
"Ibu adalah orang yang sangat kuat, Ibu tidak mungkin menyerah bahkan berhenti di sini." jawab Franco.
Sekitar beberapa menit kemudian salah satu dokter mencari Annabelle.
"Siapa keluarga yang ada di sini?" tanya Dokter.
Franco dan Annabelle langsung berdiri, kedua orang itu berjalan mendekati dokter.
"Kami anak-anaknya, dokter." ucap Franco.
"Masuklah dahulu, kondisi wanita yang ada di dalam sangat kritis." jawab dokter.
Mendengar perkataan seperti itu Franco dan Annabelle langsung masuk, mereka berdua menatap bibi Lily yang kondisinya benar-benar tidak berdaya.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- The royal palace
- Crazy love
- Legend of the dragon kingdom
- Terlempar ke dimensi kerajaan
__ADS_1
- Air mata dan pembalasan