
Annabelle memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah David, semua beban dan rasa sakit itu di bawa pergi oleh Annabelle.
*RUMAH DAVIT*
"Baguslah kalau begitu, dengan perginya wanita itu.., semua ini akan menjadi milikku." ucap Lucia yang kemudian berdiri menatap rumah besar milik David.
Bibi Lily sudah meninggal, Annabelle sudah pergi dari rumah itu dengan begitu rumah besar itu akan menjadi milik David seutuhnya. Franco membawa Annabelle ke rumahnya dengan semua permintaan dari ibu sambungnya. Hal itu membuat Franco benar-benar tidak bisa meninggalkan Annabelle sendirian.
*SINGAPORE*
"Masuklah."
sebuah rumah yang begitu besar, taman yang begitu luas bahkan berjajar mobil-mobil mewah ada di depan rumah itu.
"Ini rumah siapa?" tanya Annabelle kepada Franco.
"Ini rumahku." jawab Franco yang kemudian membuka pintu rumah itu.
CEKLEK..
"Tuan sudah pulang?" tanya salah satu pembantu yang ada di rumah itu.
"Iya aku sudah pulang." jawab Franco.
"Saya senang tuan sudah kembali." ucap pembantu.
"Iya, di mana istriku? apa dia bersama putriku?" tanya Franco.
Annabelle menatap Franco, wanita muda itu tidak mengira kalau Franco sudah mempunyai keluarga.
"Isteri?" tanya Annabelle.
"Iya, anak dan istriku." jawab Franco yang kemudian tersenyum. tak berselang lama salah satu pembantu yang ada di rumah Franco mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang wanita.
"Selamat siang, sayang." Franco nampak mengecup kening wanita yang duduk di kursi roda itu.
Annabelle menatap seorang wanita yang tubuhnya terlihat begitu lemah, wanita itu membawa alat bantu nafas yang menempel di wajahnya.
"Perkenalkan, dia adalah Liliana istriku." ucap Franco.
Annabelle menatap wanita yang ada di kursi roda itu, senyumnya begitu lemah... namun senyum itu terlihat begitu lembut.
"Halo, Annabelle." ucap lemah Liliana.
"Halo Nyonya Liliana." jawab Annabelle yang kemudian memegang tangan Liliana.
Senyum yang ditunjukkan oleh Liliana benar-benar begitu lembut dan penuh sopan santun.
"Oh ya, sayang. dia adalah Putri angka dari ibu sambungku, mulai sekarang dia akan tinggal di sini, boleh kan!" tanya Franco dengan suara yang begitu lembut.
__ADS_1
Liliana menganggukkan kepalanya, wanita itu menatap Annabelle dengan tatapan mata yang begitu bersahabat.
"Tolong kamu tunjukkan kamar tamu yang ada di dekat kamar Nyonya." pinta Franco.
"Baik, Tuan." jawab pembantu.
"Mari, nona." ajak pembantu.
Annabelle tersenyum kemudian menatap Liliana.
"Saya taruh barang dulu, Nyonya Liliana." ucap Annabelle.
Liliana menganggukkan kepalanya, Annabelle pergi ke kamarnya bersama pembantu. Franco berjongkok di depan istrinya, menatap lembut sang isteri.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Franco kepada istrinya.
"Aku baik-baik saja, sayang." jawab Liliana.
"Apakah si kecil baik-baik saja?" tanya Franco kembali.
Liliana menganggukkan kepalanya.
"Azalea baik-baik saja, sayang." jawab Liliana.
"Kalau masih tidak enak badan lebih baik kamu tidak usah keluar, nanti kalau terkena angin kamu sakit lagi." Franco membelai wajah istrinya.
"Maafkan aku ya, Maafkan aku jika sudah membebanimu." ucap Liliana.
Liliana tersenyum, wanita yang mungkin umurnya tidak lama itu nampak menatap suaminya dengan tatapan mata yang begitu dalam.
"Mandilah dahulu, Setelah itu kita makan. aku mendengar kabar Kalau kamu mau pulang karena itu para pembantu aku minta memasak makanan kesukaanmu." ucap Liliana.
"Terima kasih ya sayang." Franco yang kemudian memberikan kecupan di kening sang istri. pria itu berjalan meninggalkan istrinya menaiki anak tangga lantai 2 menuju kamarnya.
"Tolong kamu bawa pergi aku ke kamar wanita yang barusan datang." pinta Liliana.
"Baik, nyonya." jawab pembantu yang kemudian mendorong kursi roda itu menuju kamar Annabelle.
Annabelle menatap kamar itu, ruangan yang memang besar dengan barang-barang yang berharga mahal juga.
"Apa kamu senang dengan kamar ini, Annabelle?" tanya Liliana.
"Nyonya Liliana..," ucap Annabelle.
"Jangan memanggilku Nyonya Liliana, panggil saja aku dengan panggilan kakak, bisa kan?" tanya Liliana.
Annabelle menganggukkan kepalanya, Apa kamu suka dengan kamar ini, Annabelle?" tanya Liliana kembali.
"Aku suka, Kak. aku suka dengan kamar ini, kamarnya besar bagus dan aku bisa melihat taman yang ada di belakang." jawab Annabelle.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu suka, tapi kamarmu bersebelahan dengan kamarku. Jadi jika ada ribut-ribut Kamu jangan kaget ya." ucap Liliana.
Annabelle kebingungan, namun wanita muda itu hanya tersenyum.
"Saya yang harus berterima kasih, Kak. karena kakak mau menerimaku di tempat ini." jawab Annabelle.
"Aku ingin kamu menjadi temanku, menjadi saudaraku dan menjadi tempat curahan hatiku." Liliana nampak meminta Annabelle mendekatinya.
Terlihat wanita itu memegang erat tangan Annabelle.
"Kamu masih muda cantik dan benar-benar sangat menarik." ucap Liliana.
"Terima kasih atas pujiannya, Kak." jawab Annabelle.
Setelah hari itu waktu mulai berjalan, Annabelle sangat dekat dengan Liliana. pembantu yang ada di rumah itu jarang sekali bersama Liliana, sekarang Annabelle yang akan membantu Liliana dalam hal apapun.
DUA HARI KEMUDIAN
"Di mana Nyonya?" tanya Franco.
"Nyonya ada di taman belakang bersama Nona Annabelle, Tuan." jawab pembantu.
"Ya sudah kalau begitu, Oh ya kalian sudah bilang kepada Annabelle mengenai putriku kan?" tanya Franco.
"Sudah, Tuan. sudah saya sudah bilang kepada Nona Annabelle mengenai nona Azalia." jawab pembantu.
Sebenarnya putri dari Franco sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu, bayi yang masih ada di kandungan Liliana mengalami kecelakaan dan tidak tertolong. kandungan yang berusia 9 bulan itu harus merenggang nyawa, Setelah kejadian itu Liliana mengalami depresi, dia tidak bisa berjalan bahkan terkadang dia seperti wanita gila yang berteriak tidak karuan.
Beberapa bulan yang kemudian Franco mendapat kabar kalau istrinya mengalami kanker otak, penyakit yang selalu membuat istrinya merasa kalau dunia ini begitu kejam padanya.
BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN
"Tolong! tolong!!" teriak Annabelle.
"Ada apa, Annabelle?" tanya Franco.
"Tolong.. tolong kak Liliana." jawab Annabelle.
"Ada apa dengan isteriku?" tanya Franco.
"Tiba-tiba kak Liliana kejang." jawab Annabelle .
Mendengar jawaban dari Annabelle seketika Franco langsung berlari kencang, tanda-tanda itu semakin hari semakin mendekati apa yang dikatakan oleh dokter.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit, kamu Cepat ikut." pinta Franco.
Dengan segera Annabelle meminta supir Untuk mengantarkan mereka, kondisi Liliana sudah semakin lemah. wanita itu terlihat sudah tidak sadarkan diri, beberapa hari ini Liliana selalu meminta Franco untuk selalu disampingnya. karena hari ini Franco ada rapat darurat jadi dia meminta Annabelle untuk menjaganya.
*RUMAH SAKIT*
__ADS_1
"Cepat Panggil dokter!!" seru Franco.
Annabelle berlari masuk ke dalam rumah sakit, wanita muda itu berteriak untuk meminta bantuan kepada orang-orang yang ada di dalam rumah sakit.