
"Beraninya kamu melakukan hal ini kepada kami." David terlihat begitu marah setelah para wartawan pergi dari perusahaannya.
"Memangnya kenapa sayang? kenapa kamu marah padaku." jawab Annabelle.
"Aku tidak akan membiarkanmu bernafas lega setelah kau mempermalukan kami." setelah mengatakan itu David langsung pergi dari tempat konferensi pers.
Annabelle hanya tersenyum melihat kepergian suaminya, senyum yang ditunjukkan itu tiba-tiba menghilang karena dia tahu David pasti akan melakukan sesuatu kepadanya.
siang itu Annabelle akhirnya pergi dari perusahaan David, wanita itu bergegas menemui Gabriel yang sudah menunggunya di salah satu restoran.
*RESTORAN GERDABO*
"Hai." panggil Annabelle.
"Hai." jawab Gabriel.
"Apa kamu sudah lama menungguku?" Annabelle duduk.
"Aku juga barusan sampai." jawab Gabriel.
"Untunglah." Annabelle tersenyum.
"Bagaimana, apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Gabriel.
"Makan dulu ya, aku sudah lapar."
salah satu pelayan mendekati meja Annabelle dan Gabriel.
"Wajahmu kelihatannya sangat bahagia?" Gabriel terus melihat wajah Annabelle yang tersenyum begitu bahagia.
"Tentu saja." jawab Annabelle.
"Bagaimana?" tanya Gabriel.
"Semuanya berjalan lancar." jawab Annabelle.
"Khemm..," suara dehem seseorang.
Annabelle dan Gabriel menoleh ke arah suara.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Franco.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gabriel.
"Aku? aku mau makan. memangnya apa yang di lakukan orang di restoran." jawab Franco.
"Hemm... aku kira kamu mengikutimu." canda Gabriel.
"Mana mungkin." jawab Franco.
Annabelle tersenyum sembari mengambil makan yang barusan di antar pelayan.
"Ayo makan." ajak Annabelle kepada Gabriel.
"Ayo." jawab Gabriel.
"Kelihatannya makannya enak." Franco langsung duduk di samping Annabelle.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gabriel.
__ADS_1
"Mau makan." jawab Franco.
"Cih.. kamu ini benar-benar tidak modal." Gabriel menarik piring yang di ambil Franco.
"Apa kita jadi makan? kalau kita tidak jadi makan lebih baik aku pergi dari sini." Annabelle yang hendak makan langsung menaruh piring makanan yang ada di depannya.
"Tentu saja kita makan, Kita kan sudah memesannya." jawab Gabriel yang langsung menarik piring yang ada di tangan Franco.
"Kamu ini pelit sekali sih." ejek Franco.
"Kalau kamu mau makan beli sendiri, lagian Kenapa kamu ada di meja kam? kalau kamu memesan makanan cari meja sendiri." Gabriel mengusir Franco.
"Kenapa kamu benar-benar menyebalkan, kalau kamu seperti itu Kamu mau aku kutuk?" tanya Franco.
"Kenapa kamu harus mengutukku? Memangnya kamu orang tuaku? Memangnya kamu itu siapa aku?" akhirnya perdebatan dua orang itu membuat Annabelle semakin kesal.
"Kalau kalian tidak mau makan pergi saja dari sini, aku masih mau makan aku masih mau melakukan sesuatu. perutku lapar lagian tadi aku sudah berkelahi dengan wanita itu, kalau kalian mau berkelahi di sini lebih baik kan kalian keluar dari tempat ini." Annabelle malah mengusir dua pria itu.
"Salah kan dia dong, Annabelle. Kenapa dia ada di sini, lagian dia itu mengganggu banget. kita itu di sini duluan dia malah datang-datang mengusik kita." Gabriel benar-benar sangat kesal.
"Kita ini kan saudara, apa seperti itu cara berbicara dengan saudara!" tanya Franco.
"Sudah nggak usah pakai perkataan seperti itu, Aku benar-benar malas melihat wajahmu." jawab Gabriel.
Akhirnya Franco memesan makanan, namun pria itu tidak mau pindah dari tempat lain.
"Pria ini benar-benar brengsek, dia berani mengusirku." guman Franco dalam hati saat dia mendapat pengusiran dari Gabriel sepupunya.
"Lebih baik dan kalian pergi dari sini kalau kalian masih berantem." usir Annabelle.
Akhirnya tiga orang itu makan dengan diam, tak ada suara yang keluar bahkan terlihat Franco juga makan tanpa mengeluarkan suara tapi tatapan matanya terus menatap Annabelle yang dari tadi tersenyum kepada Gabriel.
"Oh ya, hari ini kamu ada janji nggak?" tanya Gabriel.
"Bagaimana kalau nanti kita keluar, Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." jawab Gabriel.
"Entahlah, tapi kalau kamu mau nanti aku mau menjemputmu. Aku mau melihat wajah dari pria menjijikkan itu." Gabriel kemudian membersihkan mulutnya.
"Ini akan menjadi permainan yang sangat menyenangkan." jawab Annabelle yang tersenyum.
Franco memutar kedua bola matanya dengan begitu kesal, Annabelle dan Gabriel terlihat begitu serius. bahkan dua orang itu berbicara seperti tidak melihat kehadiran Franco sama sekali.
"Kamu mau main-main ya, Gabriel. Baiklah kalau begitu nanti aku akan merusak kencan mu dengan Annabelle." guman Franco dalam hati sembari tersenyum.
Tak berselang lama akhirnya Annabelle meminta Gabriel untuk mengantarnya pulang.
"Bisa antarkan aku pulang, tidak?" tanya Annabelle.
"Tentu." jawab Gabriel.
"Gabriel, kamu kan masih ada pertemuan dengan salah satu klien mu. jadi lakukan pekerjaanmu biar aku yang akan mengantar Annabelle." Franco yang kemudian menarik tangan Annabelle.
"Kalian ini ngapain sih?" tanya Annabelle.
"Sudah aku akan mengantarmu pulang, lagian aku juga ingin melihat wajah pria Brengsek itu. wajah pria yang sudah membunuh ibuku." jawab Franco yang kemudian membuka pintu mobil untuk Annabelle.
Sedangkan Gabriel terlihat pria itu kesal karena memang dia harus menemui salah satu rekan bisnisnya, jadi dia mengalah untuk hari ini.
"Dasar pria brengsek, Kalau hari ini aku tidak ada janji ketemu sama klien lihat aja aku akan menonjok mukanya." kesal Gabriel.
__ADS_1
Franco mengemudikan mobilnya, pria itu menatap Annabelle yang membenarkan rambutnya.
"Ada apa dengan rambut mu?" tanya Franco.
"Tidak apa-apa, cuma aku mau mengikat rambutku saja." jawab Annabelle.
"Tidak usah diikat, Biarkan saja terurai Kamu sangat cantik jika rambutmu terurai seperti itu." puji Franco secara tiba-tiba.
Baru kali ini Franco memuji Annabelle yang sudah bersamanya, selama 2 tahun itu Annabelle tersenyum, wanita itu menatap Franco yang hari ini sangat aneh.
"Hari ini kamu salah makan sesuatu ya?" tanya Annabelle.
"Memangnya ada apa?" tanya Franco kembali.
"Aneh aja tumben sekali kamu memujiku seperti itu." jawab Annabelle yang membuat Franco langsung memalingkan wajahnya.
"Aku tidak memujimu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. kalau tidak terima dengan perkataanmu ya sudah ikat saja rambutmu." ucap Franco yang kemudian melajukan mobilnya.
Annabelle hanya tersenyum, dia tidak mengatakan apapun namun wanita itu menatap Franco dan tatapan mata yang tidak akan pernah berubah. Annabelle sempat memiliki perasaan kepada Franco namun pria itu selalu mengatakan kalau Annabelle tidak akan pernah memiliki tempat di hatinya. karena pria itu hanya mencintai Isterinya seorang.
*RUMAH KELUARGA REIS*
"Apa pria itu tidak ada di rumah!" tanya Franco.
"Dia masih di perusahaannya bersama selingkuhannya." jawab Annabelle.
Annabelle keluar dari mobil, terlihat wanita itu menatap Franco yang juga keluar dari mobil.
"Kamu mau masuk dulu?" tanya Annabelle.
"Tentu aku mau masuk, Aku mau melihat rumah dari pembunuh ibuku." jawab Franco yang kemudian masuk bersama anaknya.
Salah satu pembantu melihat Annabelle datang bersama dengan salah satu temannya.
"Selamat siang Nyonya." sapa pembantu.
"Selamat siang." jawab Annabelle yang kemudian masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau aku buatkan apa? kopi atau apa?" tanya Annabelle.
"Kamu masih tetap seperti pembantu?" tanya Franco kembali.
"Ya tidak sih, Aku kan cuma bertanya padamu Kenapa kamu bilang aku pembantu?" tanya Annabelle sambil tersenyum.
Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- Crazy love
__ADS_1
- AIR MATA DAN PEMBALASAN
- TIME TRAVEL KE KERAJAAN KUNO