
Tak lama dokter datang ke rumah Tania dan memeriksa tubuh Tania. "Apa dia makan dan minum teraktur? seperti nya dia pingsan karena mengalami dehidrasi. Jangan sampai dia kejang lagi karena akan bahaya. Suhu tubuh nya 39. Lebih baik dia di bawa ke rumah sakit agar mendapat cairan untuk tubuh nya" ucap sang dokter. "Apa tidak bisa di berikan infusan di rumah saja dok? Agar bisa mendapat perhatian lebih dari orang rumah" tanya Bagas pada dokter yang biasa menangani Tania. "Bisa saja. Saya kasih resep nya nanti kamu terus dan saya akan minta tolong suster di klinik untuk ke sini dan memasang infus untuk Tania. Sementara itu tolong pastikan agar dia tidak mengalami kejang" ucap sang dokter memberikan peringatan pada Bagas dan membuat Bagas menganggukkan kepala. "Reno, gue minta tolong lo jagain adek gue dulu ya. Gue buru-buru mau nebus resep obat buat Tania" ucap Bagas pada Reno. "Ya udah sana lo anterin dokter nya sekalian lo terus resep nya. Gue coba kompres Tania pakai handuk kecil" jawab Reno menyakinkan Bagas.
__ADS_1
Bagas keluar kamar Tania dengan dokter dan mengantarkan nya kembali ke klinik. Sementara Reno mencari handuk kecil di lemari pakaian Tania dan mengambil air untuk mengompres badan Tania agar demam nya turun. Reno tampak khawatir dengan kondisi Tania. Terlebih lagi saat Reno mengetahui ternyata tubuh Tania tidak sekuat yang dia bayangkan. Tubuh Tania berbanding terbalik dengan sikap Tania yang ceria, tangguh. "Sudah lama aku tidak mendengar kabar kamu, ternyata seperti ini kamu. Di depan teman-teman yang lain kamu ceria tapi di balik semua nya ada ketakutan tersendiri dalam diri kamu karena sakit yang kamu alami. Maafin aku ya Tania karena sudah pergi tanpa pamit dan tanpa memberi kabar ke kamu" batin Reno. Reno menggantikan handuk kecil nya pada dahi Tania. Setelah itu Reno berjalan ke meja belajar Tania melihat foto-foto Tania di sana. Tanpa sengaja dia pun melihat foto nya bersama Tania waktu 10 tahun lalu. Di belakang foto itu terdapat coretan kecil berbentuk ❤. Coretan di mana Tania melakukan nya setelah mereka selesai foto. Reno tersenyum melihat nya.
__ADS_1
Tania mengigau menyebut nama "moo". Nama panggilan yang di berikan Tania saat kecil pada Reno. Reno terkejut ternyata Tania masih mengingat nama kecil itu. Reno mendekati Tania memegang dahi Tania masih panas. Reno memegang tangan Tania tapi langsung di lepaskan saat Dafa membuka pintu kamar Tania. "Loh pak. Kok bapak ada di sini? Di kamar Tania lagi" tanya Dafa kaget ada Reno di kamar Tania. "Saya teman kecil Bagas kakak nya Tania. Tadi saat saya bertamu Tania tiba-tiba pingsan di dapur. Jadi saya menemani dia di sini. Kakak nya sedang tebus obat dan mengantarkan dokter yang memeriksa Tania kembali ke klinik" jawab Reno membuat Dafa mengerti. Dafa mendekati Tania dan memegang tangan Tania "ya ampun Tan. kan gue udah bilang lo jangan main hujan. Lo bandel sih kalo gue bilangin.Kan jadi nya kayak gini" ucap Dafa. Reno melihat kedekatan Dafa dan Tania langsung sedikit menjauh dari tempat tidur Tania. Bagas baru saja kembali dan membawa suster yang akan memasang infus pada Tania. "Kak, Tania kenapa? Dia gak kejang lagi kan kak?" tanya Dafa. "Gak daf, lo tenang aja. Dia kata dokter dehidrasi. Emang dia jarang makan sama minum ya daf kalo di sekolah?" tanya Bagas pada Dafa. "Kalau istirahat Tania lebih banyak di kelas dan tidur kak. Gue pernah ajak dia makan ke kantin katanya gak mau nanti gendut, lebih baik dia tidur" jawab Dafa membuat Bagas menggelengkan kepala nya. Suster sudah selesai memasang infus dan memberikan obat demam pada Tania, lalu pamit pulang kembali ke klinik. Suster akan kembali sekitar 2 jam lagi ketika cairan infus sudah mau habis.
__ADS_1