
"Davin, kamu tidak apa-apa nak? apa yang terjadi?" ucap sang mama saat tiba di rumah sakit. "Dia terjatuh dan terpental saat balapan liar. Saya tidak menyangka Davin yang di kenal sebagai kapten Basket di sekolah masih nekat berbuat seperti itu" jawab Reno. Mama dan Papa Davin datang ke rumah sakit karena di telepon oleh Reno. "Wanita yang bersama Davin masih belum sadarkan diri. Saya harap Davin akan bertanggungjawab atas perbuatan nya" tambah Reno. Dokter yang menangani Jehan keluar dari IGD "Keluarga pasien Jehan" panggil sang dokter. Davin mendekat "Saya pacar nya Jehan dok" ucap nya. "Orangtua Jehan apakah dapat di hubungi?" tanya dokter tersebut. "Bicara pada saya saja dok. Saya guru pembimbing mereka di sekolah" sahut Reno. "Jadi gini pak, Jehan mengalami pendarahan yang cukup hebat. Mengakibatkan janin yang ada di kandungan nya gugur. Dan saya perlu tandatangan orang tua pasien perihal operasi yang akan kami lakukan pada pasien Jehan. Jehan mengalami patah tulang di bagian kaki dan sedikit pendarahan di kepala nya" ucap Dokter membuat orangtua Davin dan juga Reno syok. "Apa Jehan hamil? Davin keterlaluan!" batin Reno. "Baik dok, saya yang akan tanda tangan surat persetujuan operasi nya" ucap Reno. Dokter pun kembali ke dalam untuk melakukan persiapan. Reno di minta ke bagian administrasi untuk tandatangan surat persetujuan operasi dan biayanya. Selesai dari sana, Reno melihat orang tua Davin yang duduk lemas tak berdaya setelah mendengar semua. "Plak" tamparan pas di pipi Davin dari sang mama. "Apa yang telah kamu perbuat nak? apa kamu sengaja melakukan itu untuk membunuh nya?" ucap sang mama pada Davin. "Davin nyesel ma. Davin gak tahu kalau Jehan hamil" jawab Davin. "Bohong. Kamu pandai sekali beralasan. Bila sudah seperti ini bagaimana kamu dapat bertanggung jawab vin?" suara sang mama lemah. "Mama kecewa sama kamu vin. Kamu yang mama banggakan kenapa berbuat senekat ini?" tambah sang mama.
__ADS_1
"Maafin Davin ma. Maafin Davin ma" Davin memegang tangan sang mama. "Saya menghubungi orangtua Jehan dulu mbak" ucap Reno. "Om, jangan om. Jehan gak mau kalau orangtua nya tahu hal ini. Karena ibu nya ada sakit jantung om. Dia takut nanti ibu nya terkena serangan jantung" jawab Davin. "Jadi saya harus bagaimana? Kamu yang bertanggungjawab!" kesal Reno pada Davin. "Sudah Ren. Biar mbak dan mas yang bertanggungjawab dengan Jehan. Kamu kenapa ada di sini sepagi ini ?" tanya mas Agung yang merupakan ayah Davin. "Ada teman yang sedang di rawat mas. Semalam saya yang jaga. Ketika saya mau pulang, saya ketemu dengan Davin" jelas Reno. "Kalau gitu saya pamit mas. Mau pulang istirahat. Kalau ada apa-apa hubungi saya saja" ucap Reno seraya pamit pada mas nya. Ayah Davin hanya menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
Dari ruang IGD terlihat jehan yang di bawa oleh suster dan dokter keluar menuju ruang operasi. Davin dan orangtua nya bergegas mengikuti Jehan menuju ruang operasi. Operasi berjalan sangat lama. Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi menyatakan bahwa Jehan memerlukan darah B+ karena Jehan mengalami pendarahan. Davin bergegas ke bank darah rumah sakit, tapi mereka menjelaskan bahwa stok darah sedang susah. Tapi ayah Davin berkata "biar ayah saja yang mendonorkan darah. Darah ayah B+ dan kalau tidak salah darah kamu pun sama B+. Lebih baik kamu juga memeriksa nya" ucap sang ayah. Davin terkejut karenanya. Akhirnya Davin pun memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan golongan darah. Ayah dan Davin melakukan donor darah untuk Jehan. "Nak, kenapa kamu melakukan itu? kamu anak satu-satunya kami tapi kenapa kamu tega berbuat seperti itu?" tanya ayah pelan. "Maafkan aku ayah. Aku menyesal. Aku akan bertanggungjawab pada Jehan yah" jawab Davin. "Apa maksudnya? kamu akan menikahi dia? kamu saja belum lulus vin. belum kamu kuliah dan mencari kerja" tegas Ayah. "Setelah lulus aku akan menikahi Jehan yah. Setelah nya aku mencari kerja untuk menafkahi nya" Davin terlihat lemah saat di depan ayah. Ayah sangat menyayangi Davin. Dia tidak mau sesuatu terjadi pada Davin. Karena Davin anak satu-satunya.
__ADS_1