
Reno mengirim pesan pada Bagas. Dia meminta nomor ponsel Tania. Bagas tidak tahu apa dia harus memberikan atau tidak. Bagas pergi ke kamar Tania dan mengetuk pintu kamar nya "Tania... lo di dalam? gue boleh masuk gak?" tanya Bagas dari balik pintu. Tania diam saja, turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar nya. Bagas masuk ke dalam kamar Tania "Dek, lo kenapa? Lo abis nangis ya?" tanya Bagas melihat Tania dengan mata yang sembab. "Gak kak. Jangan sok tau. Mau ngapain kak?" jawab cepat Tania. Bagas menjelaskan bahwa Reno meminta nomor ponsel Tania. Bagas bingung boleh kasih atau gak. "Jangan kak. gue mohon" ucap Tania. "Emang kenapa kok gak boleh? lo gak suka kan sama Reno" tanya Bagas menyelidiki Tania. "Apaan sih lo kak? Gue suka sama cowo yang gue kasih tau sama lo kak. Dia keren, kapten basket" jawab Tania mencoba mendamaikan perasaan nya sendiri. "Jadi gue gak boleh kasih nomor lo nih? ya sudah lah. omong-omong lo jadi balikin kalung nya?" tanya Bagas membuat Tania menganggukkan kepala nya cepat. " Iya kak. Gue gak mau nanti ada salah paham" ucap Tania.
__ADS_1
"Salah paham gimana maksud lo dek?" tanya Bagas. "Iya jadi pas gue kirim pesan pake hp lo di foto profil nya gambar dia dan seorang perempuan" ucap Tania. Bagas mau menjawab, ponsel nya berdering. Dia memberi isyarat pada Tania bahwa Reno menelepon nya. Tania dengan cepat menggelengkan kepala nya, menandakan bahwa tidak setuju memberi nomor ponsel nya. "Kenapa bro?" tanya Bagas. Dari seberang sana Reno bertanya nomor ponsel nya Tania. Mendengar nya Tania galau antara mau memberi nomor ponsel nya atau tidak. Satu sisi Tania kangen sama Reno karena sudah lama tidak ngobrol, tapi satu sisi Tania takut kalau Reno sudah memiliki pasangan. Bagas memberitahu Reno bahwa dia tidak bisa memberikan nomor ponsel Tania pada Reno. Tania tidak setuju. Reno pun tidak memaksa. Dia akan mencoba sendiri saat di sekolah nanti. Reno mengakhiri panggilan nya. Bagas melihat Tania sedang melamun, "Dek, lo sehat kan?" tanya Bagas. "Sehat lah kak. Kenapa? Mau ajak gue jalan ya.. Hahahaha" ucap Tania meledek sang kakak. "Ikut gue yuk dek. Gue mau main basket di komplek" ajak Bagas pada Tania. Tania mengiyakan ajakan Bagas. "Ya udah lo siap-siap dulu sana. cuci muka lo sana udah kayak abis di pukulin aja lo" ucap Bagas sambil melempar handuk ke arah Tania. "Kak, tapi gak ada Reno kan? Males gue kalau ada dia. lo sampe malem banget gak kak? besok kan gue sekolah" tanya Tania pada Bagas. "Gak lah. Paling sampe jam 10 atau jam 11" jawab Bagas. Bagas keluar kamar Tania, dia siap-siap untuk bermain basket dengan teman-teman nya. "Dek, udah siap belum?" tanya Bagas pada Tania dari luar kamar nya. Tania pun keluar kamar dengan kaus oblong dan celana pendek. "Ayo kak" jawab Tania. Bagas dan Tania berjalan menuju lapangan. Di sana sudah ada teman-teman Bagas dan 1 pria yang tak asing yaitu Davin. Tania seperti melihat sang pangeran. Dia sudah salah tingkah. "Kak, ada Davin. Kok dia bisa ikut main basket sih! lo kenal?" tanya Tania penasaran. "Davin mana sih dek?" ucap Bagas penasaran. "Itu loh kak yang pakai baju basket putih list biru nomor 8. ya ampun tampan sekali sih" jawab Tania dengan mata berbinar-binar. "Ya ampun itu. Itu sepupu Reno, Tan." jawab Bagas membuat Tania langsung melamun. "Hah? serius lo kak? dia sepupu Reno. Gak percaya gue kak" jawab Tania bingung. Reno dan Davin sepupu? Kenapa harus kayak gini sih? Mati loh Tan, mereka sepupu. Lo deketin Davin otomatis ketemu Reno terus, batin Tania.
__ADS_1
Tania mengurungkan niat untuk melihat pertandingan basket tapi Davin mencegah nya "Tania... kamu mau ke mana? Di sini aja liat kita main basket" ucap Davin membuat Tania tersenyum dan bingung. "Owh tadi nya mau nyari minum tapi kayak nya kakak aku ada minum" ucap Tania. "Ini air putih masih baru kok. botol nya belum aku buka, kalau mau kamu minum aja" tawaran Davin membuat Tania tidak bisa menolak dan tersenyum. Davin meninggalkan Tania dan bergabung dengan teman-teman basket nya yang lain di lapangan.
__ADS_1