Air Mata Tania

Air Mata Tania
Pukulan Dafa


__ADS_3

Dalam mobil Tania hanya bisa meneteskan airmata nya. "Dek, udah dong. lo nangis buat siapa? si Davin? ngapain cowo begitu lo tangisin! sayang sama air mata lo. ada banyak cowo yang peduli sama lo" ujar Bagas. "Hiks... hiks... hiks... kesel gue kak. Dia kenapa kayak gitu sama gue? Pantes aja dari semalem gue kirim pesan gak ada balesan sama sekali. Dan dia tau cewe yang di ajak ngobrol itu musuh gue si Jehan. Kenapa sih? Kesel gue kak... kesel..." jawab Tania sambil menangis.

__ADS_1


Bagas hanya melihat adik nya menangis. Bagas ingat kalau Tania sedih dia paling suka makan ice cream dan cokelat. Akhirnya Bagas menepi di salah satu minimarket untuk membelikan makanan kesukaan Tania. Ketika sedang memilih ice cream, Bagas melihat seorang wanita cantik dan sederhana mirip sekali dengan Tania. Bagas mendekati nya dan menyapa Tante Erika. Wanita itu pun menoleh dan terkejut. "Bagas..!" ucap nya. "Iya Tante. Tante kapan kembali ke jakarta?" jawab dan tanya Bagas. "Tante di Jakarta dari satu bulan yang lalu dan mungkin akan kembali ke Riau akhir pekan ini" jawab Erika. "Tante, maaf apakah kemarin tante bertemu dengan Tania?" tanya Bagas. "Hhmm... iya gas. Tapi tante tidak berkata apapun. Berani sumpah Tante" jawab Tante Erika. "Bagas mohon sama tante, tolong tante menjauh dari Tania. Tania semalam pulang ke rumah dengan wajah sendu dan tatapan kosong Tante. Seperti banyak yang di pikirkan. Dan dia juga semalam bertanya pada saya tante, tapi maaf saya tidak dapat berkata jujur. Saya tidak mau kehilangan Tania. Karena saya sayang dengan Tania seperti adik kandung saya sendiri Tante" jelas Bagas. Erika pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia menyesal telah meninggalkan Tania. Seharusnya dia yang merawat Tania. "Tante permisi dulu Bagas" ucap Erika. "Tunggu tante, aku sekarang sedang bersama Tania. Jadi lebih baik aku dulu yang pergi dengan Tania. Sebelum Tania melihat Tante Erika. Permisi Tante" jawab Bagas kemudian dia berlalu ke kasir dan pergi ke parkiran mobil.

__ADS_1


Di dalam mobil Tania terlihat kelelahan setelah menangis. "Nangis nya udah?" tanya Bagas membuat Tania menoleh ke arah Bagas dan menganggukan kepala lemah. "Kak, itu ice cream buat gue ya? makasih ya. Lo kakak yang terbaik buat gue" tanya Tania. "Iya itu buat lo. Lo kan paling suka makan ice cream dan cokelat saat sedih gitu" jawab Bagas. Tania hanya tersenyum dan mengambil ice cream nya tersebut lalu memakan nya. Bagas melihat nya lalu tersenyum. Bagas mengendarai mobil nya ke tempat di mana Tania merasa damai yaitu kebun teh. Tania sangat suka dengan suasana pegunungan dan kebun teh. Kebetulan ayah mereka mempunyai villa di daerah puncak. Sementara Tania tertidur, Bagas mengendarai mobil dengan aman.

__ADS_1


Dafa pun terpaksa pergi dengan Reno. Sedangkan Davin pelipis pipi nya sedikit memar akibat pukulan dari Dafa. Sampai di ruangan Reno, Dafa pun duduk. Perasaan nya masih kesal dengan perbuatan Davin. "Kamu tidak bisa berbuat seperti itu Dafa" ucap Reno. "Tapi pak, saya kesal ketika tahu sahabat saya ternyata hanya di buat taruhan oleh sepupu pak Reno" jawab Dafa. Reno pun hanya menepuk-nepuk bahu Dafa. "Kejadian ini jangan sampai di ketahui oleh Tania. Saya khawatir Tania akan semakin terpuruk" ucap Reno. Mendengar ucapan Reno, Dafa terkejut. "Bagaimana Reno tahu kalau Tania merasa terpuruk? apa dia menceritakan pada Bagas? atau jangan-jangan dengan Reno! ah... tidak mungkin!" batin Dafa heran.

__ADS_1


__ADS_2