
Bagas masuk ke dalam kamar Tania untuk memastikan Tania tertidur. Tapi Tania bukan tidur melainkan melamun di meja belajar nya. "Dek, lo belum tidur?" tanya Bagas pada Tania membuat Tania terkejut. "Eh kak. Belum nih gue belum ngantuk. Kak, gue mau cerita sama lo. Tapi janji ya lo jangan ngeledekin gue atau gimana gitu ke gue" jawab Tania membuat janji dengan Bagas dan Bagas pun mengiyakan. "Kenapa sih lo dek? Coba cerita sama gue" ucap Bagas duduk di pinggir tempat tidur Tania. Tania sendiri menyerahkan kotak kalung dari Reno "ini kak yang buat gue jadi pertanyaan sendiri. maksudnya apa temen lo kasih ini ke gue?". Bagas membuka kotak hadiah itu dan membaca surat di dalam nya. "Dari moo? siapa itu moo? lo juga sering ngigau nama moo" tanya Bagas heran. "Hah? masa kak gue suka panggil-panggil nama moo gitu? gak mungkin kak, gue gak gila" jawab Tania seakan tidak percaya pada ucapan Bagas. "Sumpah dek. Dulu saat lo demam tinggi lo sering panggil-panggil nama moo. Tadi aja saat demam lo tinggi juga, lo manggil nama moo. Emang siapa sih moo yang lo maksud? Dafa? atau siapa?" tanya Bagas kembali.
__ADS_1
Tania terdiam lalu menjawab "Reno. Moo itu nama panggilan dari gue buat Reno kak dulu waktu gue masih berumur 10 tahun. Reno dulu sering nemenin gue kak saat gue nangis setelah di marahin ibu karena di tuduh nyuri apel tetangga atau saat gue nangis karena ibu gak ngebolehin gue main sama temen-temen gue karena temen-temen gue bilang gue penyakitan, kak. Reno yang selalu buat gue tersenyum, di saat lo pergi main sama temen-temen lo yang lain. Reno malah nyamperin gue dan ngajak gue ngobrol. Tapi gue gak tau kenapa Reno gak pernah kelihatan lagi setelah gue ketawa kencang saat dia bilang dia akan buat gue bahagia selamanya. Gue kira dia marah kak sama gue karena gue ngetawain dia. Makanya sekarang pas ketemu lagi sama dia rasanya gue canggung kak. Apalagi ternyata dia guru gue di sekolah." Tania cerita tentang Reno pada Bagas dengan air mata yang sudah hampir jatuh. Bagas jadi tahu siapa itu "Moo". "Terus sekarang lo mau apain nih kalung? Mau lo buang? Jangan sayang tau mending kasih gue ntar gue kasih ke kak gladis. Hahahaha" Bagas mencoba mencairkan suasana di kamar Tania. "Iiihh... kak. Kak Bagas serius dong. Gue bingung nich" tanya Tania pada Bagas.
__ADS_1
"Ya kalau menurut kakak gimana hati lo aja dek! Kalau lo mau simpan ya silahkan, atau lo mau kembalikan ya silahkan. Atau lo mau nomor hp nya dia?" tanya Bagas pada Tania yang sedang galau. "Kak, lo jangan ngomong apa-apa ya sama Reno. Gue gak mau dia salah sangka sama gue. Udah lo sana keluar ah dari kamar gue. Gue mau tidur" jawab Tania mendorong tubuh sang kakak. "Cie.. cie... yang mau mandangin kalung dari Reno" ledek Bagas pada Tania. "Udah ah lo diem kak jangan ngeledekin gue lagi" ucap Tania sambil cemberut. Bagas tersenyum melihat tingkah laku adik nya itu, ternyata Tania bisa juga malu-malu. Bagas tidak terlalu mengenal Reno seperti apa yang sekarang ini. Kalau kecil Reno itu terkenal pendiam dan tidak pernah usil pada teman lainnya.
__ADS_1