
Reno menanti kabar dari Bagas tak kunjung datang. Ponsel nya dan ponsel ayah Tania mati. Sudah 2 hari berlalu tetapi tidak ada kabar. Reno pun akhirnya memutuskan untuk berangkat ke tempat Tania. Dia membeli tiket secara dadakan. Karena dia ingin mencari tahu tentang keadaan kekasih hatinya itu. Dia memang sengaja untuk memilih jadwal keberangkatan pertama. Pukul 06.00 ia sudah sampai bandara tetangga. Dia memanggil Taksi dan menuju ke rumah sakit tempat Tania di rawat. Di sana dia bertanya pada admission. Tetapi hal mengejutkan terjadi. Tania sudah tidak di rawat lagi. Ketika di tanya mengenai operasi Tania, petugas tidak dapat memberikan jawaban. Dia tidak ingin melanggar kode etika sebagai pegawai. Reno memahami itu. Dia mencoba menghubungi Bagas, ponsel nya aktif tetapi tidak di angkat.
__ADS_1
Keluar dari admission tidak sengaja dia bertemu dengan dokter cantik yang di sukai oleh Bagas. Reno memberanikan diri untuk bertanya pada dokter itu. "Permisi dok, boleh minta waktu nya sebentar? saya ingin menanyakan perihal operasi Tania, pacar saya" tanya Reno. Dokter yang tadinya muka ceria berubah jadi sedih. "Oh baik. saya ada waktu 15 minit, boleh kita bercakap di bilik praktek saya" jawab dokter itu sambil berjalan ke ruangan praktek nya. Reno pun mengikuti Denia ke ruangan nya. Sampai di ruangan nya Denia mempersilahkan Reno untuk duduk. Dia siap untuk menjelaskan nya. Perasaan Reno tidak karuan. Di hati nya seperti ada yang mengganjal. Denia pun akhirnya menjelaskan dengan wajah sedih "Maaf.., saya nak meminta maaf. Tania sekarang sudah bahagia. Dia sudah tidak merasakan perih ataupun sakit lagi. Tania Bahagia dengan senyuman di wajah nya" ucap dokter itu.
__ADS_1
Serasa petir yang menyambut di siang bolong, Reno menetekan airmata nya. Dan dia berkata "Dokter, coba tolong di jelaskan secara benar. Dokter bohong kan? Bilang sama saya dok, kalau Tania baik-baik saja dan dia berhasil dalam operasi nya!" ucap Reno tidak percaya. Wanita yang di cintai nya harus pergi meninggalkan dirinya. "Saya tak bohong. Hari ni adalah hari Tania di kembalikan ke Jakarta. Kamu bisa melihat nya terakhir di bilik jenazah. Mari saya bawa kamu ke sana" jawab Denia. Tanpa pikir panjang lagi Reno berlari menuju ruang jenazah di ikuti oleh Denia. Sampai nya di depan ruang jenazah, dia melihat Bagas sedang melamun dan menangis di sana. Jantung Reno serasa teriris. "Bagas... Bagas..." teriak Reno kesal. Bagas menoleh menatap Reno dan terkejut. "Lo ngapain di sini? Sudah lo gak usah ke sini lagi!" airmata Bagas menetes. "Lo apa-apaan si Gas. Panggilan gue gak lo jawab, wa gue juga gak lo jawab! Gas, tolong bilang sama gue semua yang di bilang Dokter Denia itu bohong kan Gas. Tania masih hidup kan gas!!! Jawab Gas!!" bentak Reno tak percaya dengan semuanya.
__ADS_1
Kalung itu terlepas dari genggaman Tania. "Gue, boleh taruh kalung ini di bingkai dengan foto2 Tania, gas?" tanya Reno pada Bagas. Bagas hanya menganggukkan kepala dan menepuk kembali pundak sahabatnya itu. "Kita bicara di luar saja yuk" ajak Bagas. Reno pun berdiri dan berjalan keluar bersama Bagas. Dia mengikuti Bagas dari belakang. "Hari ini Jenazah Tania akan di pulangkan ke Jakarta. Orangtua gue sedang mengurus hal-hal mengenai kematian Tania dan dokumen untuk pengiriman Tania ke Jakarta. Kemungkinan Esok Tania akan di makamkan" ucap Bagas. "Kenapa lo gak hubungi gue? Firasat gue tidak enak, dan ternyata benar sesuatu terjadi pada Tania. Gue izin harus memberitahu ini ke pihak sekolah meskipun Tania sudah tidak bersekolah lagi, tetapi guru-guru, teman-teman nya harus tahu tentang keadaan Tania" jawab Reno. Bagas pun mempersilahkan nya untuk menghubungi sekolah dulu tempat Tania belajar.
__ADS_1