
Erika melihat setiap detail wajah Tania. Matanya, rambutnya, hidungnya, senyumnya, postur tubuh nya hampir semua mirip almarhum papa nya. "Kamu mirip dengan almarhum papa mu nak. Senyummu, matamu, rambutmu sama dengan papa. Mama hanya kebagian hidung nya saja" ucap Erika sambil tersenyum. "Kamu sudah sehat nak? Kamu mau makan apa? Apa ada pandangan makan?" tanya Erika kembali. "Tante, maaf boleh tidak kalau Reno duduk bersama kita? Karena selama aku di rumah sakit Reno yang tahu tentang pantangan makan aku" jawab Tania. "Kok panggil Tante? Panggil saya mama boleh?" tanya Erika pada Tania membuat Tania bingung dan merasa canggung. Karena selama ini Tania menganggap Ibu nya itu hanya satu bukan dua. Tania pun hanya diam. "Ya sudah tidak apa-apa nak kalau kamu belum bisa panggil saya dengan sebutan mama. Mama yakin kamu juga masih terkejut dengan kejadian ini. Sekali lagi mama minta maaf ya" ucap Erika kembali. "Sudah tidak usah di pikirkan ya nak. Sekarang kamu mau makan apa? Khusus hari ini mama yang akan masak makanan nya untuk kamu" tambah Erika.
__ADS_1
Reno yang melihat Tania memberikan isyarat untuk mendeket langsung menuju meja Tania dan menjawab pertanyaan Erika "Maaf Tante kalau saya memotong pembicaraan Tante dan Tania. Tapi Tania untuk sekarang masih belum dapat makan nasi. Dia hanya bisa makan yang hangat dan lembut". "Oh, seperti itu ya. Ya sudah bagaimana kalau mama buatkan kamu sup krim dengan isi daging ayam dan jagung. Kalau jagung apakah masih boleh?"tanya Erika pada Reno. "Untuk jagung masih boleh tante" jawab Reno. "Oke. Mama akan buatkan kamu sup krim hangat. Nak Reno pesan saja sekalian untuk makan" ucap Erika sambil berlalu menuju dapur untuk bersiap masak sup krim untuk Tania. Reno ke meja kasir dan memesan makanan serta minuman untuk dirinya dan Tania. Setelah itu ia kembali ke meja dan mengobrol dengan Tania. "Tania, kamu baik-baik saja kan? Kalau kamu kurang sehat lebih baik kita kembali" ucap Reno sangat perhatian pada kesehatan Tania. "Tidak kak. Aku baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir. Terimakasih ya kak" jawab Tania sambil tersenyum. Mata Tania merah dan bengkak akibat menangis membuat Reno tambah khawatir dengannya. "Kak, aku besok akan terbang apakah kakak mau temani aku di sana?" tanya Tania dengan suara perlahan.
__ADS_1
Reno tidak dapat berkata apa-apa, karena Reno tidak bisa menemani Tania untuk pengobatan di sana. Reno belum menjawab tante Erika sudah menghampiri meja mereka dan menghidangkan makanan khusus untuk Tania. Dan tidak beberapa lama kemudian makanan yang di pesan oleh Reno pun datang. "Nak, mama suapi ya" tanya Erika pada Tania. "Maaf tante. Aku tidak terbiasa di suapi" jawab Tania menolak tapi dengan sopan. Sebenarnya Tania sangat risih dengan sikap ibu kandung nya itu. "Tante, sup ini enak. Terimakasih" puji Tania. "Terimakasih ya nak. Resep sup itu memang tidak mama tampilkan di menu. Itu khusus untuk kamu, anak kesayangan mama" ucap Erika. Mendengar kata-kata anak kesayangan membuat Tania berhenti makan dan bertanya " Bila aku anak kesayangan tante, kenapa tante harus menyerahkan aku sama orang lain? kenapa tante tidak merawat aku?". Erika sekejap langsung terdiam oleh pertanyaan Tania. Erika sekarang tidak dapat berkata apa-apa. Reno yang mendengar ucapan Tania, seketika langsung memegang tangan Tania. Dia khawatir Tania akan drop lagi. "Kenapa kamu bicara seperti itu de?" bisik Reno. Tania menundukkan kepala dan meneteskan kembali airmata nya. "Maaf bila pertanyaan ku membuat tante terkejut. Aku hanya ingin tahu saja kenapa sampai orangtua kandungku sendiri memberikan aku kepada keluarga lain. Terimakasih untuk sup hangat nya tante. Saya pamit pulang dulu" ucap Tania sambil berdiri dan pamit keluar dari Cafe tersebut. "Tunggu nak... tunggu saja. Semua akan mama jelaskan" dalam hati Erika. Tania keluar dari Cafe lalu di susul oleh Reno. Sementara Erika hanya duduk terdiam di kursi tadi saat ia bertemu dengan Tania.
__ADS_1