
Reno memberitahu kabar duka ini di grup sekolah nya. Dan ia juga memberi kabar kepada para siswa, agar mereka dapat mendoakan Tania. Davin tidak percaya membaca isi pesan dari reno, dia mencoba menghubungi Reno. "Halo" ucap Reno. "Tolong bicara yang jujur. Jangan bercanda! Tidak mungkin Tania sudah tidak ada! Pasti semua ini bohong" Davin pun tak berhenti berbicara. "Sabar vin... Sabar... Semua yang saya sampaikan benar. Hari ini jenazah Tania akan kembali ke Jakarta. Dan besok akan di makamkan. Tolong kamu kabari yang lain ya, agar bisa melihat Tania untuk terakhir kali nya" ucap Reno dengan nada suara yang mencoba untuk tegar. Telepon pun di matikan oleh Reno, dia tidak dapat menahan airmatanya lagi.
Sebelum meninggal Tania sempat menuliskan surat untuk Kakak yang di sayang yaitu Kak Bagas, Ayah dan Ibu, serta tidak lupa untuk kekasih hatinya Reno. Bagas membuka dan membaca kembali surat yang di tulis oleh Tania untuk nya.
"
__ADS_1
Untuk Kak Bagas,
Kak, gue sayang banget sama lo. Terimakasih lo udah jadi kakak terhebat di hidup gue. Kakak yang selalu menemani gue, ya meskipun lo tau dari awal kalau gue bukan adik kandung lo. Lo kenapa gak ngmng jujur sih kak kalau gue bukan adik kandung lo?? Lo gak mau kehilangan gue ya? Atau lo bener-bener sayang sama gue makanya lo gak mau liat gue sedih?? Ya sudah lah kak, sekarang lo harus tetap semangat. Lo jadi anak satu-satunya milik ayah sama ibu 😄.
Jaga mereka ya kak, lindungi mereka. Gue doain lo biar berjodoh sama Dokter Cantik Denia... 😘
__ADS_1
Perih hati Bagas membaca tulisan Tania. "Kenapa dek lo pergi ninggalin gue? Gue iklas de sayang sama lo meskipun lo bukan adik kandung gue... Gue sayang sama lo dek" batin Bagas dan kembali lagi airmata menetes di pipi nya.
Reno yang melihat Bagas menangis kembali berusaha menguatkan dengan menepuk pundak Bagas. "Gas, Tante dan om kemana? Dan juga tante Erika?" tanya Reno pada Bagas. "Ibu di apartemen sedang berkemas, Tante Erika dia pulang ke hotel juga untuk berkemas. Kalau ayah... Ayah sedang membereskan dokumen-dokumen untuk almarhumah di bawa ke Jakarta" jawab Bagas. "Lo udah sarapan Gas? Lo keliatan pucat gitu. Gue ambilin teh manis hangat ya, biar lo gak masuk angin", ucap Reno perhatian pada sahabat nya itu. Tetapi Bagas lantas menolak, dia mengatakan bahwa dia tak berselera untuk makan. Reno hanya dapat menepuk pundak sahabat nya itu, Lalu ia pergi. Reno berjalan menyusurui rumah sakit. Dia terbayang oleh wajah Tania yang sedang tersenyum. Hati nya serasa teriris. Airmata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Dokter Denia berpapasan dengan Reno yang sedang termenung di pinggir koridor. "Are you okay?" tanya Dokter Denia pada Reno membuat ia sedikit terkejut. "Oh Hai Dok. hhmm, dokter boleh saya minta tolong?" tanya Reno kembali. "Ya ada apa?" jawab Denia. "Bisa bantu saya untuk bawakan minuman hangat ke kakak nya Tania? karena wajah nya terlihat sangat pucat. Saya sebagai sahabat tidak ingin terjadi sesuatu padanya" ucap Reno. Denia berpikir dan akhirnya dia mau membantu untuk membujuk Bagas agar minum atau makan. Reno meminta Denia untuk menunggunya, sedangkan Reno pergi sebentar membeli teh manis / susu hangat untuk Bagas. Ternyata Denia sudah ke tempat Bagas. Dia sedang mengobrol dengan Bagas. Reno datang dengan membawa susu hangat untuk Bagas dan juga Roti. "lo sarapan dulu Gas. Jangan sampai lo ikutan sakit" ucap Reno sambil memberikan Roti dan segelas susu hangat. Bagas menolak, lalu Roti dan susu hangat itu di ambil oleh Denia.
__ADS_1
"Kamu harus makan ini. Kalau tak kamu dapat sakit. Kasihan lah emak bapak mu. Ayo cepat di makan" ucap wanita cantik di sebelah nya itu. Bagas tak dapat menolak bila Denia yang memberikan. Dia mengambil Roti dan segelas susu hangat itu dari tangan Denia lalu memakan nya. Reno pun tersenyum melihat Bagas yang sedikit demi sedikit menghabiskan Roti serta susu hangat nya itu. "Kamu lihat sayang, kakak mu menurut dengan wanita cantik yang di sebelah nya" batin Reno memanggil Tania.