Air Mata Tania

Air Mata Tania
Tante Erika Tahu Bahwa Tania Sakit


__ADS_3

Ddrreett... Ddrreett... getar ponsel ayah di jok mobil. Ayah melihat tidak ada nama, ia pun ragu untuk menjawab nya. Getar ponsel kembali berbunyi untuk ke 4 kali nya. Ayah Tania pun menjawab "Assalamualaikum dengan siapa ini?". Sedangkan yang di seberang sana hanya terdiam. "Halo... halo... ini siapa? kalau tidak bicara saya tutup" ucap Ayah kembali. "Jangan mas. ini aku Erika" jawab si penelepon. Ayah terkejut mendengar suara erika. Ia pun menepikan mobil nya. "Erika... ada apa kamu menelepon saya? tanya ayah Tania. "Mas, aku dengar Tania sakit lagi dan ini lebih parah ya? Dia kenapa mas? Apa boleh aku ke Jakarta untuk melihat anak ku?" tanya kembali Erika. "Erika, dengar kamu tahu darimana anakku sakit? Dan satu lagi dia sudah menjadi anak ku, bukan anak mu lagi. Mohon kamu mengerti!" ucap sang ayah.

__ADS_1


Mendengar ucapan ayah Tania, Erika hanya bisa menangis di telepon. "Jika sudah tidak ada keperluan lagi ku tutup telpon nya. Aku sibuk" ucap Ayah Tania. "Mas, tunggu. Beri tahu aku Tania sakit apa? Kenapa dia bisa seperti itu mas?" tanya Erika terbata-bata sambil menangis. "Apa yang harus aku lakukan? apa aku beri tahu saja sama dia? Tania juga anak nya karena dia yang melahirkan Tania" batin sang ayah. "Tania... dia terkena kelainan darah. dia memerlukan transfusi darah dari orang lain untuk hidup nya. Dan harus mengawasi kelainan jantung nya agar tetap sehat" jawab Ayah Tania. Di seberang sana Erika hanya bisa menangis setelah mendengar pembicaraan Ayah Tania.

__ADS_1


Erika hanya bisa menangis dan menyesali perbuatan nya. Dulu dia menyerahkan Tania ke keluarga mas jefri karena keuangan erika yang tidak memadai. Sekarang ketika keuangan nya memadai, erika tidak dapat berbuat apa-apa pada Tania. Hati ibu mana yang tidak hancur berkeping-keping. "Semua salah ku... semua salah ku... coba dulu aku tidak menyerahkan putriku pada keluarga mas jefri. aku bodoh" jerit erika sambil menangis dengan keras nya.

__ADS_1


Mobil ayah Tania pun melaju kembali ke gedung perkantoran. Setelah melihat Tania di rumah sakit, ia harus ke kantor karena ada rapat mendesak mengenai proyek di kota pelangi. Sesampai nya di kantor suara erika terus membayangi ayah. Sampai ayah tidak konsen untuk menghadiri rapat. Dia meminta sekretaris nya untuk menunda rapat selama setengah jam. Pak Jefri masuk ke ruangan nya, menyandarkan kepala nya di atas sofa. "Apa aku harus memberitahukan Tania tentang cerita yang sebetulnya? mungkin benar kata erika. Dia yang melahirkan Tania, dan Tania harus tahu semuanya" batin ayah. Ayah pun langsung mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan pada Bagas serta istri nya agar nanti malam berkumpul di rs karena ada yang harus dia katakan kepada Tania di depan Bagas dan istrinya. Ayah beranjak dari sofa dan membuat secangkir teh hangat untuk sekedar membuat nya tenang. Dia kembali memberitahukan sekretaris untuk menyiapkan kembali rapat yang awalnya di tunda.

__ADS_1


__ADS_2