Air Mata Tania

Air Mata Tania
Tania Semakin Drop


__ADS_3

Reno mengajak Erika untuk istirahat di ruang tunggu. Tapi Erika tetap tidak mau. Dia terus berdiri di depan kaca menatap Tania yang sedang terbaring lemah. "Nak, kamu harus kuat ya. Mama, Ibu, Ayah dan kakak mu ada di sini. Kami semua sangat menyayangi mu Tania" ucap Erika perlahan. "Kamu istirahat saja dulu Erika. Jangan kamu paksakan tubuh mu. Kamu baru saja sampai" ucap Mas Jefri. "Tidak mas. Aku mau di sini saja, mau temani Tania. Aku salah Mas. Aku bodoh sudah meninggalkan Tania dan tidak menjaga nya. Maafkan aku mas" jawab Erika sambil berlutut dan menangis. Ayah Tania langsung meminta Erika untuk berdiri. "Semua nya sudah berlalu Erika. Lagipula Tania sudah kami anggap sebagai anak kandung kami sendiri. Kami menyayangi. Kamu harus tahu itu" ungkap Mas Jefri pada Erika. "Seandainya dulu adik ku tidak nekat pergi dan tidak akan terjadi kecelakaan itu. Pasti Tania sekarang sangat bahagia memiliki ayah seperti dia.

__ADS_1


Reno sudah memutuskan untuk memperpanjang waktu off kerja nya sampai Tania membaik. Tapi... Tiba-tiba dokter dan perawat di sana sangat panik masuk ruangan Tania. Reno yang melihat keadaan ini memanggil Bagas, Tante Erika dan orang tua Tania. Airmata Erika dan Ibu sudah mengalir melihat tindakan yang di lakukan oleh dokter. "Tania... kamu harus bertahan nak. Ibu yakin Tania anak kuat. Tania harus sembuh, harus sehat lagi ya sayang" ucap Ibu. Ibu menangis di pelukan ayah. Sedangkan Erika menangis dan terjatuh pingsan. Bagas dan Reno membawa Erika ke tempat duduk serta membaringkan Tante Erika. Reno di minta oleh Bagas untuk menemani Erika sementara dirinya pergi menemui dokter. Bagas bertanya pada dokter bagaimana keadaan Tania. Dokter menjelaskan Tania semakin drop. Kerja Jantung nya semakin melemah. Dokter tidak dapat mengoperasi nya bila keadaan Tania semakin drop. Bagas hanya meminta dokter melakukan yang terbaik untuk Tania. Karena Tania adalah adik yang sangat dia sayang. Dokter hanya berkata bahwa ia akan melakukan hal terbaik buat pasien, semua nya tergantung pada yang Maha Kuasa. Karena Ia yang mempunyai kehendak.

__ADS_1


Reno mengajak Bagas untuk sholat ke masjid. Bagas mengikuti Reno. Setelah selesai sholat Reno berdoa memohon kesembuhan untuk kekasihnya Tania. Sementara Bagas hanya duduk terdiam dengan airmata menetes. Reno yang sudah selesai dan melihat Bagas lalu mendekati nya. "Tenangin hati lo. Yakin sama Allah kalau dia akan memberikan kesembuhan buat adik lo. Lo boleh nangis. Karena sebagai pria kita juga manusia yang punya perasaan" ucap Reno dengan menepuk pundak sahabat nya itu. "Gue... gue gak mau adik gue sampai kenapa-napa. Ini semua gara-gara ayah. Harus nya Tania langsung di ambil tindakan saat di indo. Bukan nya di bawa ke sini. Di sini malah kondisi nya menjadi drop" jawab Bagas dengan emosi dan menangis. "Lo, jangan salahkan ayah lo. Ayah lo bermaksud baik. Dia ingin yang terbaik buat anak-anak nya. Mungkin kalo lo di posisi Tania sekarang, om jefri akan melakukan hal yang sama buat kesehatan lo" ujar Reno dengan sedikit menaikkan nada suara nya karena sahabat nya ini menyalahkan orangtua nya. Reno sangat tidak suka dengan ucapan seperti itu. Dia percaya semua sudah takdir. Sudah di atur oleh yang Maha Pencipta. Bagas pun lalu mengusap airmata nya lalu bangkit berdiri. "Thanks ya bro. Kalau gak ada lo, gue mungkin bingung harus cerita ke siapa. Gue super mencemaskan adik gue" ucap Bagas pada Reno dengan menepuk lengan Reno. "Sekarang lo tenangin diri lo. Karena di sini cuma lo yang bisa kuatin orang tua lo. Kalau lo nya sendiri kayak gini, siapa yang bakal nguatin dan ngeyakinin mereka kalau Tania akan sembuh?" jawab Reno sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit bersama Bagas.

__ADS_1


__ADS_2