
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 waktu Malaysia. Dokumen yang di perlukan untuk membawa pulang Jenazah Tania sudah selesai. Ibu dan Tante Erika pun sudah kembali ke rumah sakit untuk bersiap pulang ke Jakarta. Reno meminta izin pada ayah Tania untuk mendampingi Jenazah almarhumah menuju bandara. Dan ayah pun menyetujui nya. Jenazah sudah di masukkan ke dalam peti dan mobil Jenazah pun sudah menunggu di pintu keluar. "Sebelum peti nya di tutup aku ingin melihat wajah mu untuk yang terakhir, sayang. Karena aku masih belum percaya secepat itu kamu pergi ninggalin aku. Love you Tania" ucap Reno sedikit berbisik.
Reno terus mendampingi jenazah Tania sampai masuk ke dalam pesawat. Reno pun kembali ke kursi penumpang di sebelah Bagas. Tante Erika pun bersama kami, sedangkan om mencoba memeluk dan menenangkan Tante. Kami semua sayang, sangat sayang pada almarhumah Tania.
__ADS_1
Penerbangan ke Jakarta sampai sekitar pukul 13.30 wib. Mobil jenazah sudah tersedia di sana untuk menjemput peti Tania. Reno pun mendampingi kembali di dalam mobil jenazah itu menuju rumah Tania. Suasana Rumah sudah sangat ramai. Tenda, karangan bunga berdatangan, dan teman-teman Tania serta rekan-rekan Ayah Tania sudah ada di sana.
Pukul 14.30 wib mobil jenazah sampai di rumah. Reno pertama kali turun dari mobil Jenazah meminta tolong kepada orang-orang di sana untuk membantu menurunkan peti jenazah. Sampai di dalam rumah peti jenazah di buka, karena untuk memandikan jenazah serta mengucapkan kata-kata terakhir dari teman-teman nya. Terlihat di sana teman-teman Tania sudah berkumpul sambil membacakan yasin. Dan juga terlihat rekan guru dari sekolah Tania. Mereka menanyakan kepada Reno bagaimana kronologi nya dan Reno pun menceritakan. Ibu masih saja menangis di samping jenazah Tania. Beliau masih belum terima kalau anak bungsu nya pergi dengan cepat meninggalkan dia. "Nak, bangun dong. Kita sudah sampai di rumah loh. Katanya kamu kangen sama rumah" ucap Ibu. Bagas hanya bisa memeluk Ibu nya. "Bu, kita harus ikhlaskan Tania. Biar Tania istirahat dengan tenang. Sekarang dia sudah jauh lebih baik bu. Tania sudah tidak menangis lagi bu, dia sudah bahagia di sana" ucap Bagas pada Ibu.
__ADS_1
Orang-orang datang silih berganti untuk mendoakan Tania dan untuk berbelasungkawa. Reno mewakili pihak keluarga Tania menemani orang-orang yang datang untuk mendoakan almarhumah. Ketika sedang duduk sendiri, Reno merasakan Tania berada di samping nya. Wangi tubuh Tania yang seperti wangi permen tercium persis di samping Reno. Reno hanya berkata di dalam hati "Wangi ini seperti Wangi kamu sayang. Aku ikhlas kamu pergi, ku akan selalu mendoakan kamu. Tenang di surga nya ya sayang. I always love you, Tania". Airmata Reno pun menetes dan Wangi itu pun perlahan menghilang.
Dafa dan Davin datang mendekati Reno dan menepuk pundak nya. "Sabar ya pak" ucap Dafa. "Eh kalian ada di sini. Sudah ke dalam?" tanya Reno. "Sudah pak. Tania sungguh cantik, dia pun meninggalkan senyuman di wajah nya" jawab Davin. Dafa pun menganggukkan kepala menyetujui ucapan Davin. Reno hanya dapat tersenyum mendengar perkataan dua sahabat Tania ini. Mereka yang peduli dengan Tania saat Tania jatuh sakit dan di rawat. Ya meskipun Davin pernah menyakiti hati Tania, tetapi Tania sudah bisa memaafkan nya. "Owh ya, kalau kalian besok bisa ikut pemakaman, ikut saja ya. Ini akan menjadi kesempatan untuk kalian mengantarkan Tania ke tempat istirahat terakhirnya" ucap Reno. Davin dan Dafa kompak mengatakan "Pasti ikut pak". Dan mereka pun tersenyum.
__ADS_1