Air Mata Tania

Air Mata Tania
Tante Erika Pergi


__ADS_3

Malam pun tiba, Tania lelah seharian menangis dan pergi dengan Bagas. Dia memutuskan untuk istirahat sampai dia lupa bahwa ada janji dengan Dafa untuk pergi mencari Tante Erika. Dafa mencoba menghubungi ponsel Tania dan mengirimkan pesan padanya tapi tidak ada tanggapan. Dafa ke rumah Tania pun tidak ada yang menjawab. Akhirnya Dafa pun mencoba hubungi Bagas. "Halo kak. Ada Tania?" tanya Dafa. "Tania baru saja tidur. Dia lelah seharian menangis. Kenapa?" jawab Bagas. "Tania harusnya janjian sama gue kak ke Cafe depan komplek" ucap Dafa. "Mau ngapain lo ngajak Tania ke sana? Gara-gara semalem lo ajak Tania pergi dia sampai seperti ini. Kayak orang bodoh, tatapan kosong" ujar Bagas sedikit marah pada Dafa. "Maksud nya gimana kak?" tanya Dafa heran. "Ya dia pulang setelah dari Cafe itu mengajukan pertanyaan ke gue. Tanya ini, tanya itu yang gue gak paham kenapa! emang ada apa di sana?" jawab Bagas. "Maaf kak. Gue ke sana cuma kasih tau ke Tania kalau pemilik Cafe di sana wajah nya mirip sekali dengan Tania. Gue gak bermaksud apa-apa" ucap Dafa. "Lain kali jangan pernah ajak Tania ke sana. Oke" jawab Bagas kesal.

__ADS_1


Dafa tidak berani menjawab Bagas lagi setelah mendengar nada bicaranya yang marah dan kesal seperti itu. Dengan Bagas seperti itu, Dafa semakin penasaran. Sebenarnya ada apa dan apa yang terjadi. Dafa pergi ke sendirian ke Cafe depan komplek. Sampai di sana ternyata Cafe sudah mau tutup. Dafa mendekati salah satu karyawan di sana dan bertanya "loh bang, kok tumben jam segini sudah tutup?" Karyawan itu pun berkata "iya nih mas, kata anak pemilik Cafe ini dia mau anter mama nya balik ke Riau. Makanya Cafe di tutup cepat" jawab nya. Dafa tambah heran, "kok bisa secara kebetulan setelah kejadian seperti ini Tante Erika pergi, Tania menangis, Bagas marah karena gue aja Tania ke sini. Ada apaan sih ini?" batinnya. Dafa pun kembali pulang ke rumah. Dalam perjalanan dia bertemu dengan Davin. Dia melihat Davin sedang bersama Jehan. Dafa mengambil keputusan untuk mengambil foto Davin dan juga Jehan. Dia harus membahas ini dengan Tania. "Kasian Tania kalau Davin berbuat seenaknya. Dasar Baj***an. Seenaknya mempermainkan perasaan Tania" batin Dafa kesal. Dafa mendekati Davin yang sedang nongkrong dengan Jehan "Wow... gue gak sangka kapten basket kesayangan sahabat gue ternyata playboy ya. Loe belum puas gue tonjok tadi di sekolah?" tanya Dafa kesal. Davin pun berdiri setelah melihat Dafa. "Loe jangan ikut campur ya fa. Ini urusan gue. Terserah gue mau pacaran sama siapa. Lagian sahabat lo itu ngebosenin. Terlalu banyak ngatur dan banyak nuntut" jawab Davin.

__ADS_1


Dafa yang tidak senang mendengar jawaban Davin tiba-tiba ingin melayangkan pukulan dan itu di tahan oleh Bagas. Ya ternyata daritadi Bagas memperhatikan Dafa. "Kak" ucap Dafa. Bagas menggelengkan kepala nya lalu kepalan tinju milik Bagas mendarat di pipi Davin "Bbrruukk" Davin pun terjatuh. "Gue kasih peringatan ke lo ya vin, gue gak peduli lo sepupu Reno atau gak. Tapi siapa yang berani membuat adek gue nangis dan nyakitin perasaan adek gue, siap-siap berhadapan sama gue" ucap Bagas memberi peringatan ke Davin lalu dia pergi meninggalkan Davin dan Dafa. "Tapi buat apa lo lindungi Tania, dia kan bukan adek kandung lo! Sok Pahlawan lo Bagas" teriak Davin. Kali ini Davin sudah keterlaluan. Bagas kembali lagi ke tempat asal teriakan itu dan mengancam Davin "sekali lagi lo bilang Tania bukan adek gue, gue hajar lo habis-habisan!". Dafa yang mendengar itu syok. Tidak tahu harus berkata apa. Dia melamun sambil mengikuti Bagas berjalan dari belakang. Kepala nya saat ini penuh dengan tanda tanya. Tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam. Dia mau bertanya pada Bagas tapi dia sangat takut. Dafa takut nanti Bagas akan meninju nya bila bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2