
Sore itu, Arya dan Rozak langsung pergi ke rumah Hermawan untuk menjelaskan smeua yang terjadi tiga hari yang lalu. Arya memberanikan diri untuk bicara semuanya pada Hermawan karena dia tidak ingin menyembunyikan semuanya dari Hermawan soal Santi. Apalagi Santi telah mengandung.
“Permisi selamat sore, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Sapa Satpam di depan rumah Hermawan yang menyambut kedatangan Arya dan Pak Rozak.
“Selamat sore, Pak. Bapak masih ingat dengan saya, kan? Sopir mobil pengantin tiga hari yang lalu itu, tapi sempat diganti karena saya ada urusan mendadak waktu itu,” ucap Arya dengan sopan.
“Oh iya saya masih ingat, yang waktu itu bapak pamit dulu ke mini market buat beli minum, kan?” ucap salah satu satpam.
“Iya, betul, Pak,” jawab Arya.
“Ngomong-ngomong ada apa ke sini, Pak? Pengantinnya kabur, bapak mau apa ke sini? Apa minta uang bensin? Atau bayaran lagi? Tapi kan mobil bapak tidak jadi dipakai?” tanya Satpam.
“Oh bukan, Pak. Saya mau bertemu dengan Pak Hermawan, mau tanya soal ruko Pak Hermawan yang katanya mau dilelang atau di jual gitu? Ini saya mengantar bapak ini yang mau tanya-tanya,” jawab Arya dengan alasan seperti itu.
“Ehm ... baik, mari saya antar, Pak,” ucapnya dengan sopan.
Arya memarkirkan mobilnya, lalu dia diantarkan oleh salah satu satpam yang menjaga di depan sampai masuk ke dalam rumah Hermawann yang sangat megah.
“Silakan, Pak. Saya panggilkan dulu Pak Hermawannya.” Ujang mempersilakan Arya dan Pak Rozak duduk di ruang tamu.
Ujang meminta bantuan Yuda yang berada di dalam untuk memanggilkan bos-nya. Dan, tak lama kemudian Hermawan dengan gagahnya keluar dari dalam bersama dengan Yuda asisten pribadinya. Juga di belakangnya terlihat istri Hermawan yang turut keluar dari dalam.
“Yuda, Ujang, tinggalkan saya dan istri saya,” ucap Hermawan dengan angkuh.
“Baik, Pak,” jawabnya.
Yuda terpaksa ikut keluar bersama dengan Ujang. Tapi, Arya menghentikan Yuda dan Ujang supaya mereka tidak keluar, karena dia sangat butuh saksi dari mereka soal Santi.
“Biar mereka di sini, Pak,” ucap Arya.
“Kenapa? Apa urusannya dengan mereka? Kalian mau bertemu saya, kan?” tanya Hermawan.
“Iya, tapi saya juga butuh mereka, ini soal Santi putri bapak. Mempelai wanita yang kabur saat akan menikah,” ucap Arya.
“Maksud kamu? Apa kamu menemukan dia? Lalu di mana dia sekarang? Suruh pulang, karena saya akan menikahkan dia dengan laki-laki yang saya pilihkan!” geram Hermawan.
“Laki-laki yang dibayar bapak, bukan? Saya akan menjelaskan semua, asal mereka tetap di sini, karena mereka juga saksinya,” ucap Arya dengan menunjuk ke arah Ujang dan Yuda. “Kalian di sini saja, karena saya butuh kesaksian kalian juga,” ucap Arya dengan sopan.
__ADS_1
“Baik kalau itu mau kamu,” ucap Hermawan. “Sebentar sepertinya saya tidak asing dengan bapak?” tanya Hermawan dengn Rozak.
“Pemilik Berlian Tekstil,” ucap Rozak.
“Astaga, Rozak?” ucapnya dengan ramah dan dengan senyum sumringah, melihat Rozak di depannya.
“Ya, aku Rozak, kamu sudah lupa rupanya? Maklum sudah tidak pernah di ruko kamu sekarang,” ucap Rozak dengan akrab.
“Bapak kenal?” tanya Arya.
“Siapa yang gak kenal pengusaha sukses seperti beliau, Ar? Dulu saat kita sama-sama merintis dari nol, kita sering ngopi bareng, benar begitu, Her?” ucap Rozak.
“Iya, kami sering ngopi bareng di kedai Mbak Sri itu kan?” ucap Hermawan dengan tertawa.
“Ini siapa, Zak?” tanya Hermawan.
“Anakku lah, siapa lagi?” jawab Rozak.
“Wah tampan sekali anakmu, yang dulu sering bantuin kamu di ruko, kan? Waktu masih kuliah?” tanya Hermawan.
“Masih ingat saja kamu, Her,” ucap Rozak.
“Lalu kenapa kalian tahu soal Santi yang kabur? Anak itu, sudah mempermalukan keluarga, malah ditambah kabur waktu mau menikah. Memalukan sekali, punya anak semata wayang, perempuan, bukannya dia menjadi anak kebanggaan tapi malah pembangkang!” ucap Hermawan dengan geram, dengan dada yang naik turun karena menahan amarahnya.
“Jadi saya yang membawa Santi kabur, maksudnya saya yang di suruh Santi untuk mengantar Santi kabur, Pak. Saya menolak tapi Santi mengancam ingin bunuh diri, jadi mau bagaimana lagi, saya juga ditodong pisau di leher saya, saya takut lah, masih muda, belum menikah tapi mau mati konyol,” ucap Arya.
“Kok bisa sama kamu?” tanya Halimah.
Arya menjelaskan semuanya pada kedua orang tua Santi. Tidak ada yang Arya tutup-tutupi soal semua tentang Santi.
“Apa dia baik-baik saja, Nak Arya?” tanya Halimah.
“Santi baik, dia aman di sana,” jawab Arya.
“Untuk apa kamu menanyakan kabar anak kamu yang pembangkang itu?! Mau dia pergi, mau dia mati sekali pun aku tidak peduli! Biar saja dia pergi!” hardik Hermawan pada istrinya.
Halimah hanya diam saja. Dia sudah tidak bisa berkutik saat suaminya sudah marah seperti itu, apalagi soal Santi. Halimah tidak berani angkat bicara kalau sudah mengenai hal seperti itu.
__ADS_1
“Pak, saya datang ke sini juga mau meminta izin menikahi putri bapak. Dia tidak mau pulang, tidak mungkin juga saya lepas tanggung jawab membiarkan Santi hidup sendiri, karena saya yang membawa dia kabur sampai ke Pekalongan. Maaf kalau saya lancang bicara seperti ini,” ucap Arya.
“Kamu mau menikahi perempuan kotor seperti dia? Lihat tampang kamu! Kamu pengusaha sukses, masa depan kamu cerah, kamu baik seperti bapak kamu, tidak pantas kamu menikahi wanita kotor seperti dia!” hardik Hermawan.
“Kalau dia tidak menikah dengan orang baik, apa bapak ingin dia menikah dengan laki-laki yang tidak baik? Lelaki yang dibayar bapak misalnya?” ucap Arya.
“Tahu apa kamu soal itu! Kamu memberitahu Santi di mana juga saya tidak sudi menjemputnya, tidak sudi dia mengijakkan kakinya di sini!” ucap Hermawan geram.
“Rozak, dengarkan saya! Saya tidak setuju anak kamu menikahi anak saya yang pembangkan dan sialan itu! Tidak akan pernah saya menyetujuinya!” ucap Hermawan.
“Her, tapi anak saya kan baik meminta anakmu?” ucap Rozak.
“Tidak, biarkan saja dia lontang-lantung di sana, tanpa ada orang yang iba padanya. Ini jalan yang dia pilih, kerena sudah melawan aturanku!” geram Hermawan dengan wajah yang merah padam.
“Pa, jangan seperti itu. Santi juga berhak memiliki suami yang baik,” ucap Halimah.
“Tahu apa kamu soal itu, Halimah! Arya laki-laki baik, tidak pantas bersanding dengan anakmu yang hina itu! Kamu dengar Halimah? Tidak pantas, sama sekali tidak pantas!” teriak Hermawan.
“Kalian lebih baik pulang, jangan meminta restu dengan saya, saya tidak akan peduli lagi dengan anak itu! Dan kamu Rozak, bilang sama anak kamu, untuk tidak menikahi wanita yang kotor itu!” ucap Hermawan dengan langsung berlalu masuk ke dalam.
Halimah masih duduk di depan Rozak dan Arya. Dia menangis hingga sesegukkan, mendengar suaminya berkata seperti itu. Mendengar suaminya mengatakan hal sekeji itu pada putrinya.
“Nak Arya, jika kamu ingin menikahi putri ibu. Ibu merestuinya, nikahilah, meski tanpa restu papanya. Jaga Santi, ibu titip dia. Kalau dia belum mau pulang, biar dia menenangkan hatinya. Kabari ibu saja tentang kesehatannya dan kabarnya. Ibu tidak akan mencarinya, karena ibu percaya kamu bisa menjaga Santi,” ucap Halimah.
“Arya memang akan menikahi Santi, Bu. Dengan atau tanpa restu ibu dan Pak Hermawan,” ucap Arya. “Tapi, kalau suatu hari ibu ingin menemui Santi, jangan beritahu Santi soal saya siapa, karena dia tahunya saya adalah seorang sopir, jadi saya mohon jaga rahasia ini,” imbuh Arya.
“Iya, ibu akan jaga rahasia ini, asal kamu mau menjaga anak ibu, setidaknya sampai Santi melahirkan,” ucap Halimah.
“Iya, Bu. Saya akan jaga Santi, karena saya yang harus tanggung jawab atas kepergian Santi,” ucap Arya.
“Sebelum kamu ke Pekalongan lagi, ibu mau menitipkan sesuatu dengan kamu, ibu beritahu besok saja. Ibu tidak berani menitipkan di sini, takut papanya Santi marah besar jika tahu semuanya,” ucap Halimah.
“Baik, Bu. Saya dan bapak pamit pulang dulu,” pamit Arya.
“Halimah, saya pamit. Sampaikan salam untuk Hermawan,” ucap Rozak.
“Iya Pak Rozak.”
__ADS_1
Arya pulang dengan bingung, kenapa Hermawan sebegitu bencinya dengan Santi, hingga kalau Santi mati pun dia tidak peduli sama sekali. Padahal harusnya seorang ayah senang dan bahagia anaknya akan dinikahi oleh orang yang tulus dan berniat baik.