Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 33 – Garis Khatulistiwa


__ADS_3

“Santi tunggu!” Arya menghentikan langkah Santi saat hendak masuk ke dalam kamarnya.


“Iya ada apa, Ar?” tanya Santi.


“Kamu gak ke kamar aku saja? tidur di kamarku?”


Santi terkekeh, ada apa dengan Arya? Tiba-tiba menyuruh dirinya tidur di kamarnya. “Ini gak salah, Ar?”


“Apa yang salah, San?”


“Ya kamu nyuruh aku tidur di kamar kamu? Modus, ya? Jangan ngaco kamu! Yang ada kamu macam-macam denganku!” ucapnya kepedean.


“Siapa yang mau macam-macam sama kamu?


“Ya kali saja, kamu lagi galau habis putus, pelariannya ke aku?”


“Ih kepedean sekali kamu? Awas kamu kalau nanti malam kamu ngerengek pindah kamar?”


“Gak lah!” tukas Santi langsung berlalu ke kamarnya.


Arya tersenyum melihat Santi seperti itu. Dia yakin Santi pasti akan berubah pikiran, dia akan tidur di kamar Arya. “Paling nanti kamu ke kamarku lagi?” batin Arya.


Arya masuk ke kamarnya, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Arya sudah lega semua sudah diceritakan pada Santi, tinggal satu langkah lagi tujuan Arya, yaitu belajar mencintai Santi, tapi rasanya Arya tidak perlu belajar, karena Santi sudah berhasil mengetuk hatinya perlahan.


Santi masih tersenyum di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Ia tidak tahu harus mengungkapkan kebahagiaannya dengan cara apa. Arya sudah benar-benar putus dengan Naira, dan Arya juga akan mengajak tinggal di rumahnya. Santi tidak peduli dengan ke depannya setelah pindah ke rumah Arya, ia tidak mau memikirkan Arya yang mungkin belum bisa mencintainya, tapi dirinya akan sekuat tenaga meyakinkan Arya, supaya Arya bisa mencintainya.


“Aku jatuh cinta. Iya aku sedang jatuh cinta, aku jatuh cinta dengan suamiku. Tantanganku akan segera dimulai, aku akan membuat kamu jatuh cinta denganku, Ar, dan melupakan Naira. Eh tapi tunggu, ini persaan senang dan jatuh cinta gini gak sesaat kan, San? Kamu sudah melupakan Fano, kan? Ah iya aku sudah melupakannya, sejak dia menolak untuk tanggung jawab. Ingat jangan sampai kek tadi siang, kamu malah mau terhipnotis Fano lagi? Kamu malah mau memberikan kesempatan lagi? Ingat Santi , tidak ada kesempatan untuk orang seperti Fano, meski dia ayah biologis dari anak yang sedang kamu kandung. Memangnya kamu mau memiliki suami yang masih berbaur dengan dunia malam dan seisinya? Tahu sendiri kehidupan disk jockey bagaimana, kan?” batin Santi.


Santi mengganti bajunya dengan baju tidur, ia mengambil dres lengan pendek berwarna maroon. Dia ingat, baju itu adalah baju yang pertama kali Arya belikan saat baru sampai di pekalongan. Dari mengancam sopir mobil pengantin untuk mengantar dirinya kabur, sekarang malah jadi istri dari sopir mobil pengantinnya.


“Dia bukan sopir, San! Dia itu bos! Kecewa sih tadi pas dia jujur, tapi ya sudah lah, dalam kekecewaanku terbesit kebahagiaan. Bagaimana aku tak bahagia? Suamiku bos? Hidupku terjamin dong? Bukan aku matre, tapi aku tidak mau munafik, siapa yang tidak mau bersuami seorang bos besar? Aku rasa semua perempuan di dunia mendambakan suami yang seperti Arya, good atitude, good looking, dan satu lagi, good rekening!” ucap Santi lirih dengan tersenyum bahagia.


“Ah suamiku ternyata seorang bos!” ucapnya dengan membanggakan dirinya.


Santi teringat asinan yang suaminya bawa tadi. Ia keluar dari kamarnya, untuk melanjutkan makan asinannya. Tadi baru makan dua suap saja, itu pun rasanya campur aduk tidak keruan, karena dia sedang merasa bersalah dengan Arya, karena sudah membawa laki-laki lain ke rumahnya, apalagi laki-laki itu adalah mantan kekasihnya sekaligus ayah dari anak yang sedang ia kandung.


Santi membuka kulkas, manik matanya langsung berbinar menatap asinan di dalam mangkuk. Ia mengambilnya lalu membawanya ke meja makan. Santi menikmati asinan yang sempat tertunda tadi.


“Hmm ... segarnya .... ngidamku keturutan lagi. Terima kasih suamiku?” ucap Santi dengan bahagia, lalu menikmati lagi asinannya.


Arya tersenyum di belakang Santi yang sedang asik menikmati asinan yang ia bawakan dari Jakarta. Senyumnya semakin mengembang saat mendengar santi mengucapkan terima kasih suamiku. Arya berjalan mendekati Santi yang sedang menikmati asinan bogor. Ia memeluk Santi dari belakang lalu berbisik di telinga Santi, “sama-sama istriku?” ucapnya lirih, namun membuat Santi terjingkat.


“Astaga, Arya!!! Kamu membuat aku jantungan saja! Aku kira siapa? Untung aku sedang tidak posisi mengunyah? Bisa-bisa aku tersedak, Arya!” ucapnya.


“Maaf, tapi enak, kan?” ucap Arya dengan masih memeluk Santi.


“Iya enak asinannya,  tapi aku gak enak nih, karena kamu meluk? Gak enak banget sumpah, Ar! Gak enak kalau dilepasin, peluk terus saja,” ucapnya dengan terkekeh.


“Kamu ada-ada saja. Nanti peluknya lagi di kamar, ya?” ucap Arya.


Mata Santi mendelik menetap Arya yang wajahnya tepat di samping wajahnya. Santi menyentuh dahi Arya. “Kamu sakit? Atau obatmu habis?” tanya Santi dengan wajah melongo.


“Gak aku baik-baik saja, memang sakit kenapa coba? Wajar kan aku meluk istriku?” ucapnya lalu tiba-tiba ia mendaratkan bibirnya di pipi Sinta.


“Kamu kok jadi gini ya, Ar? Aneh tau gak? Masa jadi agresif gini kamu. Udah ah lepas pelukannya, nanti kamu tambah macam-macam! Ya gak apa-apa kalau macam-macam, tapi ingat hatimu belum parkir ke hatiku!”


“Parkir? Kau anggap hati itu tempat parkir? Hati itu garasi, rumah, istana, di mana kalau sudah memiliki hatinya, pasti akan pulang dan terus menghuni istana itu. Gak Cuma numpang parkir saja, San?” ucap Arya. “Oke, mungkin hatiku pernah singgah di halaman rumah Naira, istilahnya numpang parkir saja, meski sering masuk ke rumahnya, aku tidak pernah menghuni rumahnya, karena aku sadar, ada hati yang akan tersakiti, jika aku sampai masuk dan bertahan di rumahnya. Aku memilih hati yang terpilih, apa salahnya aku belajar untuk menetap di hatimu? Menjadikan hatimu tempat untuk aku pulang, tempat untuk aku bersandar. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya kan, San?”


Santi hanya diam, mencerna ucapan Arya. Iya masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, tapi dirinya takut, jika suatu hari Arya yang mungkin masih memiliki perasaan pada Naira, akan kembali dengannya.


“Jangan pernah berpikir kalau aku akan kembali pada Naira, San. Itu sama saja aku menyakiti ibuku, dan juga kamu. Sudah sekarang hanya ada aku dan kamu, kita mulai dari awal ya, San?”

__ADS_1


“Ar, kamu ini ngomong apa? Kamu gak sedang ngelindur kan?”


“Enggak, aku sadar ngomong gini, San?”


“Ar, kalau kita mau mulai semua dari awal, oke aku tidak masalah, aku juga sadar, aku bisa sekuat ini karena siapa? Ya yang pertama karena anakku, yang kedua adanya kamu, Ar. Kamu yang membuat aku sadar, jika hidup itu harus tetap berjalan dan harus baik-baik saja. Aku merasa, sekarang aku jauh lebih baik, meski kamu tahu bebanku itu sangat berat, apalagi aku belum bisa berdamai dengan papa. Kemarin aku coba menghubungi papa, papa langsung membentakku, papa mencaci maki aku, dan papa bilang aku sama saja seperti mama, wanita murahan. Apa maksud ucapan papa, Ar? Tega sekali papa bicara seperti itu?


“Kamu yang sabar, ada aku. Apa pun masalah kamu, itu juga menjadi masalahku, San. Nanti kita hadapi papa sama-sama ya, San? Sudah asinannya habiskan, habis itu tidur,” tutur Arya.


Arya menemani Santi menghabiskan asinannya, sesekali Santi dan Arya bergantian saling menyuapi. Malam ini, Santi menuruti apa kata Arya. Santi tidur di kamar Arya, tapi Santi membuat batas, membuat garis di tengah-tengah tempat tidur.


“Awas jangan melewati garis khatulistiwa ini!” tukas Santi.


“Halah, yang ada kamu yang melewatiny!” ejek Arya.


“Gak mungkin!”


“Kemarin saja gitu pas tidur di sini? Mintanya dipeluk mulu?”


“Itu aku tidak sadar, Arya?”


“Kayaknya gak ada orang tidur itu sadar deh, San?”


“Sudah aku ngantuk!”


Santi memunggungi Arya, tapi tidak lama dia membalikkan tubuhnya lagi menghadap Arya, dan terus begitu, bolak-balik mencari posisi tidur yang nyaman.


“Kenapa, San?”


“Susah tidurnya,” jawab Santi. “Gini susah, gini juga susah, Ar.”


“Terus gimana? Mau peluk?”


Santi langsung  melirik garis yang ia buat tadi, ia tidak mau melanggar aturan yang ia buat sendiri.


“Gak usah, aku coba cari posisi yang pas dulu,” jawab Santi.


Santi mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Arya tahu Santi sudah merasa susah untuk mencari tidur yang pas. Arya mengusap pinggang Santi, mungkin akan membuat dia nyaman. Arya mengusap pinggang Santi sampai Santi tertidur pulas. Arya menaikan selimut Santi, lalu ia tidur memejamkan matanya. Sejenak Arya berpikir, kenapa dirinya bisa langsung memutuskan Naira tanpa memikirkan bagaimana perasaan Naira. Arya hanya tidak mau saja semakin membuat Naira menunggu dan menunggu karena sampai kapan pun ibunya tidak akan merestuinya. Biar saja sekarang Naira sakit hati karena diputuskan dirinya, daripada harus menunggun dan menunggu, tapi akhirnya tetap tidak direstui, itu malah akan menambah sakit hati Naira saja.


^^^


Halimah masih belum bisa memejamkan matanya, dia membolak-balikan tubuhnya, karena kangen dengan putri semata wayangnya itu, yang sekarang jauh darinya, padahal sedang berbadan dua.


“Kamu ini tidur gelisah sekali kenapa, Hah?!” Hermawan sedikit membentak Halimah yang dari tadi belum bisa tidur. “Masih memikirkan anak yang tidak tahu diri itu? Sudah enak aku bisa menerimanya, aku menyayanginya, aku buat dia bahagia, segala apa pun yang dia  mau aku turuti, tapi apa balasannya? Dia seperti itu!”


“Santi hanya korban kekanganmu yang otoriter, Pa!” Jawab Halimah lalu ia beranjak dari tempat tidurnya, dan keluar dari kamarnya.


“Kamu sama saja dengan anak itu!” jengkel Hermawan.


Halimah tidak peduli lagi dengan ucapan suaminya yang semakin membuatnya sakit hati. Ia mengalah keluar kamarnya, karena tidak ingin debat kusir dengan suaminya yang nanti ujungnya Hermawan membahas hal yang sudah tidak seharusnya dibahas lagi, dan sudah Halimah tutup rapat-rapat.


“Aku paham kamu kecewa, Pa. Dulu andai saja kamu tidak memutuskan keinginanmu, mungkin Santi tidak akan terkekang, dan tidak akan seperti ini,” ucap Halimah dengan melihat foto Santi, yang ada di kamar Santi.


Halimah pindah ke kamar Santi. Ia lebih baik menjauh dari suaminya dulu, karena sejak kepergian Santi suaminya gampang marah. Dia sudah tidak lagi hangat dengan Halimah, tidak seperti biasanya, sekarang Hermawan sangat dingin dengannya, dan sering marah-marah.


Sejak kejadian itu, di mana saat Hermawan terpuruk, dan Halimah lah yang menjadi tulang punggung keluarga, sejak itulah Hermawan berada di dalam kekuasaan Halimah. Namun, sejak ada sesuatu yang membuat Halimah bertekuk lutut dengan Hermawan, Halimah tidak berani lagi mengusai Hermawan, dan Hermawan pun kembali menjadi pemimpin setelah ia bisa bangkit dari keterpurukannya. Halimah hanya bisa menuruti setiap apa yang Hermawan katakan. Karena keadaannnya, dia tidak mau melawan Hermawan. Apalagi urusan Santi, Hermawan yang sudah mengatur Santi sejak Santi masih berusia lima tahun.


Di usia yang masih ingin bebas menjadi bocah kecil, Santi sudah harus ikut les sana-sini. Les musik, les membaca, menulis, dan berhitung. Dunia Santi adalah dunia yang Hermawan ciptakan. Santi terbentuk dari kekangan papanya, hingga semakin dewasa ia semakin berontak.


“Maafkan mama, Nak, ini semua salah mama. Mama yakin Arya adalah pria yang baik untukmu. Dia pria yang bertanggung jawab,” ucap Halimah.


Halimah meringkuk di tempat tidur Santi. Ia memilih tidur di kamar Santi. Sejenak ia teringat memori lama saat ia masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar. Tapi, Halimah langsung menepiskan bayangan itu.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak mau mengingatnya lagi. Cukup, semua itu adalah awal dari kehancuranku,” batin Halimah


^^^


Santi sudah bersiap untuk pulang ke Jakarta. Ia memantapkan lagi hatinya utuk pulang. Ia percaya ada bahagia di depan matanya jika nanti ia pulang. Arya juga membantu Santi berkemas, karena dia sudah selesia dari tadi. Pakaian Arya tidak terlalu banyak, hanya beberapa stel saja, tidak seperti pakaian Santi yang hampir satu lemari penuh.


“Sudah?” tanya Arya.


“Sudah sih, lemari juga sudah kosong,” jawab Santi.


“Yuk berangkat sekarang, aku ada meeting sore ini, jadi biar sore sudah sampai,” ajak Arya.


“Siap pak bos! Ternyata suamiku seorang bos,” ucap Santi.


“Kenapa kalau bos? Gak mau?”


“Ih mau lah, masa gak mau punya suami bos?”


“Tapi gak mau disentuh sih?”


“Ih apaan sih! Itu mah beda. Ayo ah berangkat,” ajak Santi.


“Kamu sudah memberitahukan ibumu kalau hari ini kamu akan pulang ke Jakarta?” tanya Arya.


“Sudah tadi pagi-pagi sekali,” jawab Santi. “Tapi hanya di baca saja, belum dibalas, mungkin mama sedang sibuk,” imbuhnya.


“Ya sudah, yang penting kan sudah bilang.”


Arya memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya. Lalu ia pamit dengan dua asistennya yang selalu menemani Santi.


“Kami pamit ya, Mbak?” pamit Arya dan Santi.


“Iya, Pak Arya dan Mbak Santi hati-hati, ya? Semoga selalu bahagia,” ucap mereka.


Santi melambaikan tangannya pada kedua asisten yang selalu setia menemani saat Arya di Jakarta. Rasanya meninggalkan rumah itu ada rasa berat pada hati Santi. Santi masuk ke dalam mobil, lalu Arya menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya untuk berangkat ke Jakarta.


Selang lima belas menit Arya dan Santi berangkat, ada sebuah mobil masuk, Mbak Sri dan Mbak Tati kenal mobil itu, mereka menemui tamunya sebelum pulang ke rumah.


“Santinya ada, Bi?” tanya pria yang baru saja turun dari mobil.


“Oh Mbak Santinya sedang pergi sama suaminya, untuk beberapa hari. Katanya mau liburan,” jawab Mbak Sri.


“Maaf, ini dengan mas yang kemarin ke sini, kan?” tanya Tati.


“Iya, Bi. Saya Fano, teman Santi dari Jakarta,” jawabnya.


“Sayang sekali, Mas, mereka sudah berangkat sekitar lima belas menit yang lalu, katanya mau liburan ke mana itu, ke luar pulau lah, bukan luar kota. Gak tau di bali atau di mana,” jelas Tati.


“Oh begitu, ya sudah bi saya pamit,” ucap Fano.


Dua asisten itu sudah dikode Arya dan Santi kalau ada tamu bilang saja sedang liburan ke luar kota atau luar pulau.


Fano mengepalkan kedua tangannya, ia masuk ke dalam mobilnya, dan berteriak dengan memukul kemudinya. “Arrgghhtt ... sialan! Mereka benar-benar sudah menikah rupanya!” umpat Fano. “Aku pastikan kamu jatuh ke pelukanku lagi, Santi!” geramnya.


Fano ingin Santi kembali, itu semua karena papanya akan menjodohkan dirinya dengan perempuan yang fisiknya jauh dari apa yang Fano bayangkan. Perempuan itu bertubuh gempal, mungkin berat badannya hampir seratus kilogram, tapi dia adalah perempuan kaya raya. Anak tunggal dari seorang pengusaha sukses dari Kalimantan.


Tidak mungkin Fano akan menikah dengan perempuan pilihan papanya. Itu semua karena papanya terlalu banyak memiliki utang pada orang tua perempuan yang bernama Zahra itu.


“Papa ada-ada saja, jelas dia bukan tipeku! Aku biasa dengan perempuan seksi, dada besar, pinggul bak gitar spanyol, pantat juga aduhai, ini dijodohin sama perempuan gembrot, iya kaya, tapi lihat dong profesiku? DJ terkenal, masa menikah dengan wanita bertubuh gempal?” umpat Fano.


Fano frustrasi dengan keputusan papanya itu. Fano kira perempuan yang akan jadi calon istrinya itu perempuan yang cantik, bertubuh seksi, tidak gendut seperti yang kemarin ia lihat saat pertemuan antara keluarga.

__ADS_1


“Utang digedein! Giliran gak bisa bayar, anaknya jadi korban! Kalau tahu perempuan itu macam gentong, aku milih nikahin Santi, meski papanya setengah gila over protektifnya!” Fano berkali-kali mengumpat. Dia melepas Santi karena memang ingin menuruti permintaan papanya. Kata papanya perempuan yang akan dijodohkan dengan dirinya itu canti, seksi, dan kaya raya, ternyata hanya kaya raya saja, cantik dan seksinya nomor sekian ratus.


__ADS_2