Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 43 - Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya


__ADS_3

Hermawan hanya dia saja mendengar penuturan Santi. Dirinya pun sebetulnya sangat merindukan putrinya, tapi dia gengsi mengungkapkannya karena sudah terlanjur kecewa dan terlanjur tidak mau lagi berurusan dengan putrinya.


“Kalau kau hanya datang untuk bicara itu saja, percuma saya menemuimu di sini!” cetus Hermawan.


“Pa, papa boleh marah dengan Santi, tapi Santi mohon, papa jangan diami mama karena mama sering menemui Santi. Papa boleh benci Santi, sampai kapan pun, tapi jangan pernah papa menggoreskan luka di hati mama, Pa!” desah Santi.


Santi tahu mama dan papanya hubungannya sedang renggang, itu semua karena mamanya selalu membantah papanya. Halimah tidak mau lagi diatur-atur oleh Hermawan. Dirinya berhak menemui Santi kapan pun Halimah mau, sedangkan Hermawan tidak terima kalau Halimah terus-terusan menemui Santi, dan tidak pernah mau lagi mendengarkan tutur katanya.


Egois, memang Hermawan menjadi laki-laki egois, laki-laki yang otoriter terhadap anak dan istrinya. Hermawan seperti itu sejak ada sebuah kejadian yang sangat melukai hatinya. Sejak itu, semua yang membantah perintahnya akan mendapat hukuman yang setimpal. Seperti Halimah, yang sekarang kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari Hermawan.


“Kamu dan ibumu sama saja! Perempuan yang tidak tahu diri! Tidak tahu diuntung! Ucapnya kasar.


“Papa boleh mengataiku dan mama apa saja, sesuka papa, asal jangan sakiti fisik mama, Pa! Sudah cukup papa mengekan aku dan mama. Sudah cukup papa mengatur gerak hidupku dan mama. Sudah cukup, Pa! Aku dan mama juga berhak berpendapat, berhak menyalurkan asparisa, berhak menolak aturan papa yang terlalu mengekang kami! Kami memang perempuan, Pa, tapi tolong hargai sedikit keputusan yang kami buat!”


“Pintar bicara kamu sekarang! Jangan mentang-mentang sudah punya apa pun yang kamu mau dari suamimu, jadi kamu pintar melawanku? Orang yang sudah susah payah membesarkanmu, tapi kamu menjadi perempuan rendah seperti mamamu! Aku kira, dengan didikanku, kamu akan terhindar dari apa yang sudah terjadi pada mamamu, ternyata malah kamu lebih parah!” erang Hermawan kacau.


“Maksud papa apa? Ada apa dengan mama dan aku? Apa karena aku tidak menuruti aturan papa? Apa karena aku dan mama selalu menentang papa?”


“Tidak salah dengan pepatah yang bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya! Sama saja kelakuannya, dan sama saja rendahannya!”


“Lalu apa kabar dengan papa? Aku keras kepala, aku egois, dan mau menang sendiri, apa itu bukan termasuk sifat yang papa turunkan ke aku?” ucap Santi.


“Tidak ada rumusnya kamu menuruni sifat apa yang aku milikki, tidak ada! Karena kamu!” Ucapan Hermawan terhenti, dia menantap tajam Santi dengan penuh kebencian, bibirnya kelu saat ingin mengatakannya, hingga raut sendu pun perlahan terlihat.


“Karena apa, Pa? Karena aku bukan anak papa? Iya begitu? Gak apa-apa aku gak diakui papa anak, tapi bagaimana pun, papa adalah papaku, papa adalah sosok laki-laki yang sudah memberikan pelajaran berharga untuk menghadapi kerasnya dunia ini, mungkin aku sering membantah ucapan papa, menentangnya, bahkan aku tidak memedulikan apa yang papa bicarakan kalau aku sudah muak dengan aturan papa, tapi asal papa tahu, didikan papa berarti untukku, untuk menghadapi pahitnya dunia ini!” ucap Santi.

__ADS_1


Hermawan hanya diam, dia semakin tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Santi. “Percuma bicara dengan anak yang tidak tahu diri!” cetusnya kasar sambil berlalu pergi.


Santi terdiam, menunduk menahan tangisnya. Ia gagal membuat pertemuan dengan papanya yang harmonis. Pertemuannya berakhir semakin rumit, papanya tetap pada egonya. Santi membayar pesanan makanannya yang sudah ia pesan, tapi sama sekali belum tersentuh makanannya.


Santi langsung meninggalkan cafe tersebut. Ia masuk ke dalam mobil, baru saja ia menyalakan mesin mobilnya, ia mendengar suaran dentuman keras, dari arah jalan raya. Semua orang berhamburan keluar dari cafe, berlari menuju jalan raya yang sudah macet karena ada kecelakaan lalu lintas. Santi penasaran, dia keluar dari mobilnya, dan berjalan mendekati jalan raya untuk melihat.


“Mobilnya ringsek sekali, itu bapak bisa selamat tidak, ya? Parah sekali, darahnya banyak sekali!” Santi mendengar orang-orang yang sedang membicarakan korban kecelakaan tersebut. Santi semakin penasaran dan melihat dari kejauhan.


Tubuh Santi bergetar hebat melihat mobil yang ringsek dan terbalik, dia mengusap wajahnya dan mengusap matanya, memastikan dia salah melhat atau tidak. “Papa!” Teriak Santi histeris saat dia yakin mobil itu milik papanya.


Ambulance dan polisi berdatangan, Santi berlari menerobos kerumunan orang yang sedang menyaksikan. “Papa ....!” Santi akan mendekati papanya yan terlihat hanya kepalanya saja, itu pun berlumuran darah. Namun, polisi mencegah Santi, dan menenangkan Santi.


“Biar kami yang mengurusnya, anda tenang, Bu,” tegasnya.


“Itu papaku, itu papaku! Selamatkan papa!” Isaknya dengan suara serak hingga sesegukkan.


Hermawan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Santi masih duduk tersungkur di tepi jalan. Ia dipapah oleh polisi, dan terpaksa ikut di mobil polisi untuk ke rumah sakit.


Santi masih menangis, ia belum bisa menelefon keluarganya di rumah. Santi masih panik dan takut melihat papanya berlumuran darah, dan mendengar papanya merintih kesakitan, dengan memanggil namanya. Iya, dia mendengar papanya memanggilnya dan meminta maaf pada dirinya, saat tadi sebelum papanya memejamkan mata.


“Papa ....” Isaknya.


“Bu, apa ada keluarga korban selain ibu?” tanya polisi.


“Ada, tolong hubungi suamiku dan mamaku, Pak,” jawab Santi dengan tatapan kosong. “Papa ... Sembuhkan papa, Ya Allah,” ucapnya lirih.

__ADS_1


Santi sudah sampai di rumah Sakit, papanya langsung ditangani oleh dokter, Santi duduk sendirian di bangku yang ada di depan ruang ICU.


Halimah tergopoh-gopoh berlari ke ruang ICU, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Polisi bilang suaminya mengalami kecelakaan lalu lintas. Halimah melihat Santi, dia lalu berlari ke arah putrinya. “Santi, ada apa, Nak? Ada apa dengan papamu?!” Tanya Halimah dengan raut wajah yang panik.


“Papa, Ma .... papa kecelakaan di depan cafe, Santi tidak tahu kenapa papa bisa kecelakaan di jalan itu, papa memang pulang duluan, aku kira papa sudah jauh, ternyata kecelakaan di depan cafe saat tadi kita bertemu,” jawab Santi dengan terisak.


Arya duduk di sebelah Santi. Ia meraih tubuh Santi dan memeluknya. “Mas, papa seperti itu, aku takut papa kenapa-napa, Mas,” ucap Santi.


“Kamu berdoa ya, San? Supaya papa diberikan kekuatan dan kesembuhan,” ucap Arya.


Arya tahu keadaan mertuanya sangat parah, karena dia tadi bertanya dengan polisi yang menangani kasus kecelakaan papa mertuanya. Ia juga sudah tanya dengan tim medis yang menangani papa mertuanya, katanya papa mertuanya dalam masa kritis, dan membutuhkan banyak darah.


Halimah menyandarkan kepalanya di bahu Arni. Arni menenangkan besannya itu. Arni pun tahu keadaan suami Halimah seperti apa.


“Keluarga pasien kecelakaan atas nama Hermawan?” tanya Suster.


“Kami, Sus!” jawab Santi. “Bagaimana keadaan papa saya, Sus?” tanya Santi.


“Pasien membutuhkan banyak darah, kebetulan stok darah yang sesuai dengan golongan darah pasien sedikit di sini. Apa ada diantara bapak dan ibu yang golongan darahnya sama?”


“Ambil darahku, Sus! Berapa pun yang papa butuhkan, ambil darah saya, Sus!” Santi langsung beranjak dari tempat duduknya.


“Baik, Bu. Ikut saya,” jawab Suster.


“Sus, saya juga, kali saja saya juga cocok dengan golongan darah pasien,” ucap Rozak.

__ADS_1


“Iya, saya juga ikut, Sus.” Arya pun ikut memeriksakan diri, barangkali darahnya cocok, dan memenuhi persyaratan untuk mendonorkan darah.


__ADS_2