
Arya masih tidak menyangka, Santi sedetail itu mencari tahu soal dirinya dengan Naira. Sudah lama sekali foto itu, dan sekarang Sinta melihatnya, lalu ia kirimkan foto itu pada Arya.
“Iya ini salahku. Harusnya saat itu aku tidak menemui Naira lagi, tujuanku satu, ingin menyelesaikan masalah Santi, dan ingin membujuk Naira supaya tidak meminta syarat yang seperti itu pada Santi, supaya dia juga bisa menerima kalau kenyataannya aku sudah menikahi Santi,” batin Arya.
Arya duduk di atas tempat tidurnya. Tempat tidur yang biasa ia bagi dengan Santi dan Anin. Sekarang kamarnya senyap, tidak ada ocehan lucu Anin, dan tawa lucu Anin.
“Ayah kangen, Nin,” ucap Arya dengan menahan tangisnya.
Arya mengambil mainan Anin yang tergeletak di atas tempat tidurnya, ia melihatnya dengan tatapan sendu, mengingat saat bersama Anin.
“Ar, ibu boleh masuk?” Terdengar suara Arni mengetuk pintu kamar Arya.
“Masuk, Bu. Tidak dikunci kok,” jawab Arya.
Arni melihat Arya sedang menyeka air matanya dengan memandangi maianan milik Anin.
“Ibu itu tidak menyangka kamu begitu? Kenapa sih, Ar? Kamu masih mengharapkan Naira? Kamu masih mencintainya?”
“Arya memang dulu sangat mencintainya, Bu. Sekarang bukan lagi cinta, Arya sayang sama Naira, Arya tidak tega kalau lihat dia menangis, Bu,” jawab Arya. “Arya sayang sama Naira, hanya itu saja perasaan ke Naira saat ini, Bu.”
“Ibu kira kamu dan Santi tidak menikah hitam di atas putih. Ibu tidak tahu harus bagaimana, dulu kamu memutuskan untuk menikahi Santi tiba-tiba. Sekarang, malah jadi seperti ini.”
__ADS_1
“Arya harus gimana, Bu? Arya tidak mau jauh dari Anin dan Santi bu. Arya menyesal, kenapa Arya sampai terbawa suasana dengan Naira kemarin, dan Santi sampai melihatnya.”
“Sudah kalian sama-sama menenangkan diri kalian. Beri Santi ruang, tapi ibu tidak akan merestui hubungan kamu dengan Naira, meski Santi memintanya. Menantu ibu hanya Santi, Ar,” ucap Arni.
Arni keluar dari kamar Arya. Dia juga sebetulnya kecewa dengan Santi, kenapa dia bisa meminta bantuan pada Naira, dan mengiyakan syarat yang Naira minta. Memang keadaannya darurat, dan Arni juga tahu, Santi saat itu sangat menyesal karena hubungan dengan papanya tidak pernah baik. Jadi apa pun dia lakukan supaya papanya sehat kembali.
“Sabar, Bu. Kamu juga jangan terbawa emosi, bapak juga paham situasi yang Santi alami saat itu, saat papanya membutuhkan darah, mungkin jika syaratnya nyawa dirinya sekali pun, Santi akan merelakan nyawanya ditukar dengan darah supaya papanya sembuh,” tutur Rozak.
“Iya, ibu juga paham begitu, yang ibu sayangkan kenapa Arya masih menemui perempuan itu, Pak? Ibu benci sekali dengan ayahnya, dia gak hanya mengolok-olok ibu, tapi Arya juga, kok ya Arya masih saja mau dengan itu perempuan?” ucap Arni.
“Bu, namanya cinta, ya mau bagaimana?” ucap Rozak. “Sudah biarkan mereka menenangkan pikirannya sendiri-sendiri, Bu. Mereka sudah sama-sama dewasa, biar saja menyelesaikan masalahnya sendiri,” imbuhnya.
^^^
Beberpa bulan berlalu, Arya masih menunggu Santi, ia setiap hari ke rumah Santi, tapi yang ia temui hanya Halimah dan Hermawan saja, Santi tidak mau keluar rumah, bahkan Anin saja jarang dibolehkan Santi untuk menemui Arya, kecuali saat Santi sedang ada pekerjaan, dan Anin di rumah dengan Halimah, baru Anin dibawa keluar untuk bertemu Arya.
Hari ini, tepat sepuluh bulan Arya berpisah dengan Santi, tapi status mereka belum jelas, Santi masih belum selesai mengurus perceraiannya, padahal ia sudah memasrahkan semuanya pada temannya yang pengacara, untuk mengurus perceraiannya, tapi belum ada titik terang hingga bulan kesepuluh. Temannya bilang, karena pihak laki-laki juga sangat sulit ditemui, apalagi pernikahan mereka dilaksanakan di Pekalongan, jadi harus melalui beberapa proses untuk benar-benar selesai.
Adanya proses perceraian Santi yang lambat, itu karena Hermawan dan Rozak yang memang meminta pengacara Santi menunda-nunda proses cerai mereka. Hermawan dan Rozak yakin mereka masih saling membutuhkan.
Arya begitu saat itu rindu dengan Anin, dia diberitahu Hermawan kalau Santi tidak di rumah jadi dia bergegas menemui Anin di kediaman Hermawan. Ia melihat Anin yang sudah bisa berjalan, usianya sudah delapan belas bulan, dan entah kenapa Anin langsung berlari ke arahnya, saat ia baru sampai di teras rumahnya, dan memanggilnya yayah. Iya, dengan suara cadel Anin memanggil Ayah, dengan sebutan Yayah.
__ADS_1
Arya teringat di saat Anin ulang tahun ke satu, Arya juga tidak diperbolehkan menemui Anin, dia hanya menitipkan kado pada Halimah, padahal saat itu sisa pesta ulang tahun ke-1 Anin masih terlihat meriah, meski tamu undangan sudah pulang. Anin masih terlihat duduk bersama Santi, di depan mainannya, dan kado dari tamu undangan. Anin terlihat bahagia di hari ulang tahun pertamanya.
Saat Arya masuk, Santi segera menggendong Anin, dan membawanya masuk, padahal Anin sudah melihat dirinya, dan menangis ingin ikut dengannya. Mungkin Anin sangat rindu, karena lima bulan tidak bertemu dengan Arya. Tangisan Anin menyisakan kepedihan di hati Arya. Dia tidak menyangka Santi akan seperti itu, tidak memperbolehkan dirinya menemui Anin.
“Untuk apa menemui Anin! Anin bukan anakmu! Kau tidak berhak menemui Anin!”
Ucapan sarkas Santi saat itu masih selalu Arya ingat. Memang Anin bukan anaknya, bukan darah dagingnya, tapi dia sangat tulus mencintai Anin, dan sudah menganggap Anin seperti anaknya sendiri.
“Ayah merindukanmu, Sayang,” ucap Arya dengan memeluk Anin, juga menciumi wajah Anin.
Anin langsung menarik tangan Arya untuk masuk ke dalam, dan mengajak Arya bermain. Arya juga membawakan mainan untuk Anin, dia begitu menyukainya, dan langsung mengajak Arya bermain juga. Hermawan jadi teringat saat Santi kecil, ia yang selalu menemani Santi bermain, setia harinya ia curahkan untuk Santi, Santi adalah hidup Hermawan meski bukan anak kandungnya, sama seperti Arya, Arya pun bukan ayah kandung Anin, tapi Hermawan melihat ketulusan Arya yang begitu dalam pada Anin.
“Lihat, Ma, bagaimana aku tega memisahkan Anin dan Arya. Mama lihat sendiri, kan? Anin bahkan sembuh dari demamnya, dia ceria lagi,” ucap Hermawan.
“Iya, Pa. Tapi, mama takut kalau Santi tahu, nanti malah dia kabur lagi?”
“Tidak mungkin, aku yakin Santi masih sangat mencintai Arya, dia hanya kecewa saja, dan dia hanya ingin menepati janjinya pada Naira. Tapi, tenang saja, papa yakin Santi tidak akan bercerai dengan Arya, biar papa yang mengurusnya, papa tidak mau mereka pisah, mau Naira setiap hari mengancam Santi, yang penting Arya tidak menginginkan perceraian itu, dan papa yakin, saat Arya menemui Naira, bukan berarti Arya masih mencintai Naira. Kalau Arya masih mencintai Naira, tidak mungkin setiap hari Arya tanya sama papa bagaimana kabar Santi dan Anin?” jelas Hermawan.
“Iya juga sih, mama juga masih ingin mereka bersama.”
“Ini saatnya papa ikut andil, Ma. Santi seperti ini, mempertaruhkan pernikahannnya, karena papa, sekarang papa akan mempertahankan pernikahan Santi dan Arya, supaya mereka tidak berpisah, apa pun akan papa lakukan demi Santi dan Anin, demi keutuhan rumah tangga mereka, Ma,” ucap Hermawan dengan sungguh-sunggug. Halimah tidak tahu sama sekali, rencana yang Hermawan dan Rozak lakukan, supaya Santi dan Arya masih tetap bersama.
__ADS_1