
Santi merasa jenuh dari tadi dia hanya melihat televisi sambil menunggu Arya keluar dari kamarnya. Perut yang sudah agak membuncit itu sudah merasa lapar lagi. Santi membayangkan makanan khas Pekalongan yang katanya enak dan sedap. Apalagi kalau bukan nasi megono. Dia asli orang Pekalongan, tapi dia tidak pernah merasakan nikmatnya makan nasi megono di kota kelahirannya itu. Pernah sekali dua kali makan nasi megono, tapi di Jakarta, dan sekarang dia ingin sekali makan nasi megono di warung lesehan.
“Arya mau gak ya, anterin aku ke lesehan nasi megono?” ucapnya lirih sambil membayangkan nikmatnya makan nasi megono. Hingga dia tidak sadar ada Arya di belakangnya, dan mendengar apa yang dirinya katakan.
“Mau makan nasi megono? Yuk aku antar, aku tahu di sini, tempat paling enak nasi megononya.”
“Ih, kamu kok di sini?”
“Ya memang aku sudah di sini dari tadi, waktu kamu ngomong pengin nasi megono,” jawab Arya.
“Beneran mau antar aku makan nasi megono?” Tanya Santi dengan wajah berbinar menunjukkan hatinya yang senang.
“Iya, yuk kita pergi sekarang,” ajak Arya.
“Serius?”
“Iya buruan yuk,” jawab Arya.
“Aku ganti baju dulu, ya?”
“Ngapain ganti baju? Udah kayak gitu saja, lagian itu baju saja bagus kok buat keluar rumah,” ucap Arya, mencegah Santi yang akan ganti pakaiannya.
“Masa aku keluar pakai daster? Ih gak mau ah! Ganti aja, gak ada bagus-bagusnya tau, masa gak modis?” ucap Santi kesal.
“Lagian siapa yang mau merhatiin kamu modis atau enggak? Sudah pakai itu saja, kan jadi kelihatan kamu keibuan, sedang hamil muda. Dah gak usah ganti, yuk!” Arya menarik tangan Santi, langsung mengajaknya ke tempat lesehan nasi megono.
“Ih apaan sih pegang-pegang! Modus kamu! Ya sudah gak ganti deh!” ucapnya sambil menepiskan tangan Arya.
“Idih lagian buat apa modusin kamu?!” tukas Arya.
“Gak modus tapi tadi ngajakin nikah!”
“Aku ngajak itu karena aku gak mau anak kamu nasibnya sama kek aku, Santi? Lagian kamu menolak pun aku akan menikahi kamu!” tegas Arya.
“Eh jangan maksa, ya?”
“Menikah denganku, atau aku telfon orang tua kamu?!” ancam Arya.
__ADS_1
“Eh, udah berani ngancam ya kamu? Atau kamu sekongkol sama orang rumah? Kamu dibayar papaku, iya gitu?!”
“Sudah jangan marah, yuk makan.”
“Gak jadi, gak mood makan lagi! Dasar penipu!” Santi mendorong bahu Arya, lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
Brakkk ...!!!
Pintu kamar Santi tertutup dengan kencang hingga Arya terjingkat. Memang Arya yang salah, memaksakan Santi supaya mau menikah dengan dirinya. Semua itu Arya lakukan juga karena dia tidak mau anak Santi lahir tanpa seorang ayah.
“Salah lagi? Padahal niatku baik. Aku hanya ingin bayi itu lahir ada bapaknya. Setelah itu terserah Santi mau bagaimana, mau melanjutkan pernikahannya atau mau berpisah, yang terpenting aku ingin anak itu lahir ada aku sebagai ayahnya. Mungkin kalau laki-laki lain tidak sudi menikahi wanita yang tengah hamil di luar nikah dengan laki-laki lain, tapi aku melihat diriku, aku tidak pernah mengenal ayah, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dan aku baru mendapatkan kasih sayang seorang ayah setelah SMA, dari bapak sambungku sekarang. Aku tidak ingin anak Santi seperti diriku,” gumam Arya.
Arya tahu Santi marah dengan dirinya, tapi dia yakin, Santi mau menikah dengan dirinya, meski nantinya Arya harus diam-diam tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Arya keluar dari rumah, dia melajukan mobilnya ke lesehan nasi megono. Arya tahu Santi ingin sekali makan nasi megono, dan gara-gara dirinya mood makannya jadi terganggu, jadi Arya ingin membelikannya, untuk menebus rasa bersalahnya.
^^^
Arya baru saja sampai di rumah, setelah membeli nasi megono untuk Santi. Pintu kamar Santi masih tertutup rapat. Arya mencoba membukanya, dan masih terkunci dari dalam pintu kamar Santi.
“Santi, makan dulu, ini aku udah beliin kamu nasi megono. Jangan ngambek dong, San. Nih aku beliin es krim, cokelat, bubur kacang ijo, terus jajanan lainnya untuk kamu. Yakin kamu gak mau? Gak sayang sama anak kamu? Sayang dong, San? Anak kamu nanti kelaparan. Oke, aku janji, aku janji gak bakal bahas nikah-nikah lagi. Besok juga aku mau balik ke Jakarta. Lagian kamu percaya sama ucapan aku, aku sudah punya pacar, lalu untuk apa aku menikahi kamu. Udah ya, jangan ngambek, makan dulu.” Arya bicara dari depan pintu kamar Santi setengah teriak, biar Santi mendengarnya.
“Satu ... dua ... ti .... benar kan dia keluar? Gak usah sok gak mau makan, tadi makan di rumah makan padang saja sampai nambah dua kali? Sok gak mau makan! Kamu akan kalah sama aku, dan aku pastikan kamu mau menikah dengan aku!” gumam Arya sambil melihat Santi yang keluar dari kamarnya.
“Apa lo liat-liat!” sarkas Santi saat Arya melihatnya.
“Siapa yang liatin kamu, pede ...!” jawab Arya.
“Tuh lihat?” ucap Santi.
“Emang salah lihat orang lagi marah-marah? Sudah tuh makan dulu sana.” Arya beranjak dari sofa, dan menyuruh dia makan. “Sudah aku tata di meja makan makanannya, tinggal pilih saja mau makan apa,” imbuh Arya.
Arya masuk ke dalam kamarnya, membiarkan Santi makan sendirian di ruang makan. Santi melihat Arya yang masuk ke dalam kamarnya, keninganya mengerut, dan bahunya terangkat sedikit, lalu mengembuskan napasnya dengan kasar saat Arya sudah tak tampak lagi.
“Dasar laki-laki aneh, baru saja kenalan tadi siang, udah ngajak nikah!” ucap Santi kesal.
Santi membuka tudung saji di meja makan. Matanya berbinar melihat banyak makanan di meja makan, apalagi semua makanan itu yang sedang ia inginkan. Santi langsung mengambil bungkusan nasi dengan menggunakan daun pisang, dan membukanya.
__ADS_1
“Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Santi ... sudah ketemu sama orang baik, diperhatiin, dibeliin baju, makanan, disewain rumah lagi? Senang, kan? Tapi, kenapa aku menolak dia untuk menikahi aku? Ah itu urusan beda, kalau menikah aku maunya sama Fano, bukan yang lainnya, apalagi Arya!” ucapnya lirih.
Santi mulai menyantap makanannya. Makanan yang benar-benar sangat lezat dan sedap sekali, sampai dia makan tiga bungkus nasi megono.
“Sumpah ini sedap sekali, makasih Arya?” ucapnya sambil menikmati makanannya. Dia tidak peduli Arya belum makan atau sudah, yang penting dia suka, dan semuanya dihabiskan.
Sedangkan Arya, dia sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dengan menatap langit-langit kamar memikirkan apa yang tadi diucapkan pada Santi.
Niat baiknya itu masih kekeh ingin dilaksanakan, dia akan tetap menikahi Santi, meyakinkan Santi agar mau menikah dengan dirinya, meski nantinya setelah anak itu lahir Santi memilih kembali lagi dengan kekasihnya atau bagaimana itu tidak masalah. Arya tetap akan terus membujuk Santi dan bicara baik-baik dengannya soal menikah.
“Arya ... buka pintunya!” Santi menggedor pintu kamar Arya. Arya terjingkat mendengar Santi menggedor pintunya kencang sekali.
“Dasar cewek bar-bar!” umpat Arya.
Arya turun dari tempat tidurnya. Dia membukakan pintu kamarnya, dan melihat Santi membawakan sebungkus nasi megono di piring.
“Ada apa, Santi? Kamu ganggu aja sih?!” ucap Arya kesal.
“Maaf, aku makan empat bungkus, ini hanya tinggal satu. Habis enak sekali, tapi isinya sedikit.” Ucap Santi dengan wajah yang menyesal sudah menghabiskan nasi empat bungkus.
Arya tersenyum melihat Santi yang lucu, meminta maaf karena menghabiskan makanan cukup banyak.
“Enggak apa-apa, kalau kamu mau lagi, dimakan lagi enggak apa-apa kok, tapi kalau udah agak kenyang, jangan dulu. Tahan dulu sampai agak lapar lagi,” ucap Arya.
“Kamu belum makan, kan? Buat kamu saja nih?”
“Iya aku belum makan, tapi kamu yakin ini untuk aku? Yakin gak pengin lagi?” tanya Arya memastikan.
“Ya masih pengin sih?”
“Ya udah dimakan saja, Santi. Yuk aku temani, aku makan bubur kacang ijo saja deh, tadi kan aku beli dua,” ucap Arya.
“Beneran ini untuk aku lagi?” tanya Santi dengan wajah berbinar.
“Iya, untuk kamu, yuk makan lagi.” Arya mengajak Santi kembali ke ruang makan.
Mereka makan bersama. Mungkin mood Santi sudah kembali membaik karena sudah kenyang. Arya tidak masalah makan bubur saja, toh di dapur juga ada mie instant dan ada bahan makanan lainnya.
__ADS_1
“Mungkin benar kalau orang hamil itu hormonnya tidak stabil, cepat marah dan cepat pula reda amarahnya. Sudah jangan bicara menikah lagi, mending aku ajak bicara dia untuk besok check up kandungannya,” gumam Arya.