Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 32 – Tidak Ada Anak Haram


__ADS_3

“Kenapa dimatikan?” tanya Arya.


“Sesama perempuan aku tahu perasaan Naira seperti apa, Ar.” Jawabku.


Aku sudah memutuskan untuk ikut dengan Arya ke Jakarta, tapi ternyata malah seperti ini. Tiga hari Arya di Jakarta, malah memutuskan hubungannya dengan Naira, dan jujur padanya kalau sudah memiliki istri. Aku kira Arya tidak akan melakukan semua itu. Aku tidak tahu apa tujuan Arya, kenapa dia mengambil keputusan itu. Ini sungguh diluar dugaanku, aku di sini bertemu dengan Fano, dan Fano memohon maaf denganku, lalu ingin bertanggung jawab. Sedang saat di Jakarta Arya malah memutuskan Naira, dan bilang sekarang dia sudah memiliki istri.


Disaat aku sudah memutuskan kembali ke Jakarta, di sana Arya sedang bermasalah dengan Naira yang tidak terima kalau Arya sudah menikah denganku. Apa aku harus menemui Naira, dan membantu dia supaya kembali dengan Arya? Meyakinkan ibunya Arya, supaya bisa menerima hubungan mereka? Toh aku menikah dengan Arya hanya sementara? Setelah anak ini lahir Arya akan menceraikanku? Lalu apa gunanya aku mengakui pada semua orang kalau aku ini istri Arya kalau ujungnya aku akan berpisah dengannya?


Tapi, kalau aku bilang aku hanya sementara, supaya Arya bisa kembali dengan Naira, lantas apa aku juga harus memberikan kesempatan Fano untuk kembali padaku, serta memberitahu kalau aku menikah dengan Arya hanya sementara? Dia bilang padaku, dia akan berubah, apa aku harus memberikan kesempatan untuk dia yang akan membenahi diri? Bagaimana pun dia adalah ayah kandung anakku.


Sudah cukup, aku tidak mau pusing memikirkan semua ini. Aku hanya ingin hidupku tenang, demi anakku aku akan menuruti Arya, kembali ke Jakarta dan tinggal dengan dia di rumahnya. Aku juga takut Fano terus menemuiku lagi,  apalagi aku tahu dia itu orangnya sangat nekat, apalagi kalau sampai tahu aku menikah dengan Arya hanya sementara? Perjanjian pernikahan hanya aku dan Arya yang tahu, yang lain tahunya aku menikah benar-benar menikah tanpa ada perjanjian apa pun.


“San, kamu marah?” tanya Arya.


“Tidak, lagi mikir saja, kenapa kamu lakukan itu pada Naira?” jawabku.


“Karena tidak mungkin aku dan dia bersatu, San?”


“Apa tidak ada cara lain? Coba bicara baik-baik sama ibu dan bapak kamu misalnya? Toh pernikahan ini hanya sementara kan, Ar?”

__ADS_1


“Iya aku tahu semua ini hanya sementara, tapi ibuku, bapak, dan semua saksi yang menyaksikan pernikahan kita ini tahunya pernikahan kita baik-baik saja, San? Aku juga tidak mau menyakiti hati ibu lagi, sudah cukup aku membuat risau ibu, hanya karena memikirkan aku masih dengan Naira atau tidak.”


“Apa ibu tidak mau memaafkan ayahnya Naira?”


“Memaafkan pasti sudah, tapi tetap saja masih ingat, San. Ucapan ayahnya Naira sampai sekarang saja aku masih ingat, aku tahu aku ini tidak jelas asal-usulnya, waktu itu aku pun sempat marah pada ibuku, kenapa ibu tidak menceritakan semua itu, yang aku tahu aku anak ayahku, San. Tapi ternyata bukan.”


Aku melihat mata Arya menatap kosong ke depan, matanya mengembun, entah apa yang sedang Arya rasakan,aku baru pernah melihat Arya seperti ini, dia mengusap sudut matanya dengan jarinya. “Tepikan mobilnya, Ar. Kamu sedang tidak baik-baik saja, jangan nyetir dulu, kita cari tempat yang enak buat ngobrol, ya?” Aku memberanikan diri mengusap lengan Arya.


Arya menepikan mobilnya, dia menopang kepalanya pada kemudi mobil, aku dengar isakkan tangisnya, entah kenapa ia  menangis. “Ar, kamu baik-baik saja?” Aku beranikan diri mengusap punggungnya.


“Aku ini anak haram, San,” ucap Arya dengan terisak.


“Hei kamu jangan bicara seperti itu, Ar. Tidak ada anak haram, Ar,” ucapku menenangkan Arya.


“Ma—maksud kamu?”


“Aku ini bukan anak kandung ayah, benar ayahnya Naira, aku ini anak haram, anak hasil perkosaan.” Isakkan tangis Arya semakin keras, aku baru melihat seorang Arya yang sangat lemah seperti ini.


“Aku anak haram, San,” ucap Arya.

__ADS_1


“Arya jangan bilang begitu.”


“Dulu kata ibu, ibu dijodohkan bapaknya dengan anak dari teman dekatnya untuk menutupi aib ibu yang sudah mengandungku, laki-laki yang dijodohkan dengan ibu tahu ibu sudah mengandungku, karena ayahnya bersahabat baik dengan kakungku, ya mereka menerima keadaan ibu. Ibu sedikit lupa seperti apa wajah pria yang memerkosanya, ibu ingat hanya samar-samar, ibu nurut dengan kakung untuk menikah dengan laki-laki pilihan yang dijodohkannya. Dari situ, orang yang menikahi ibu, yang ibu bilang itu adalah ayahku, tidak terima dan terus menyakiti ibu. Sejak kepergian kakung, ibu tambah menderita, ibu ditinggal ayah saat usia kandungan ibu besar, dan ayah bilang dengan semua orang, tidak sudi memiliki istri bekas orang, dan anak hasil perkosaan.” Arya menjelaskan semuanya dengan suara terbata dan parau.


Aku tahu kenapa Arya bisa sampai seperti itu denganku, itu semua karena Arya tidak mau aku bernasib seperti ibunya. Aku hamil, tapi aku tahu siapa ayah dari jabang bayi yang aku kandung, hanya saja yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab. Berbeda dengan ibu, ibu korban dari pemerkosaan.


“Kamu tahu, San. Dulu ibu rumah ibu dekat dengan rumah orang tua Naira, itu sebabnya ayah dan ibunya Naira tahu siapa ibu, dan aku ini anak hasil dari apa? Mereka bilang pada ibu, tidak akan sudi berbesana dengan wanita murahan. Apa ibu seperti itu? Ibu hanya korban, korban pemerkosaan, bukan perempuan murahan. Aku pun sakit hati dengen mereka, karena sudah mengolok-olok ibuku, dan aku sadar, aku belum jadi apa-apa saat dulu melamar Naira. Tapi, rasa cintaku pada Naira masih ada, kami berusaha memperbaiki lagi, tapi tetap saja ucapan ayahnya Naira masih membekas di hati ibu, dan hatiku.”


“Aku tidak mau menyakiti ibu lagi, San. Jika aku tetap nekat dengan Naira, sama saja aku menyakiti ibu. Lebih baik Naira yang sakit hati, daripada ibu. Toh dia belum jadi istriku? Sekarang aku memilih untuk tidak menyakiti dua wanita yang akan hidup denganku, kamu dan ibu. Aku ingin membahagiakan kamu dan ibu, San. Ibu itu sayang dengan kamu, kamu pilihan ibuku, apa aku harus mengecewakan ibu lagi kalau tahu pernikahan kita hanya sementara, San?”


Ucapan Arya membuat hatiku sedikit menghangat. Apa dia serius untuk membahagiakan aku? Aku takut, jika suatu hari aku sudah terlanjur jatuh hati pada Arya, tapi Arya masih menyimpan cinta pada Naira. Karena sejatinya cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.


“San, tetaplah bersamaku, tetaplah menjadi istriku. Aku akan membahagiakan kamu, San. Mulai sekarang tidak ada lagi perjanjian itu,” ucap Arya.


“Kamu jangan mengambil keputusan saat pikiranmu kacau, Ar. Sudah tenangkan pikiranmu dulu, tidak usah membahas itu. Iya aku akan ikut kamu pulang ke Jakarta,” ucapku.


“Makasih ya, San, sudah mau mendengar ceritaku,” ucap Arya.


“Aku ini istrimu, kan? Kalau ada apa-apa cerita, kali saja aku bisa bantu kamu. Sudah tenangkan hati kamu, kita pulang. Sini aku yang nyetir.”

__ADS_1


“Jangan kamu perutnya udah gede.” Ucap Arya dengan mengusap kepalaku.


Arya kembali melajukan mobilnya, saat sudah agak tenang hatinya. Kali ini aku akan mencoba menjadi pendamping Arya, aku yakin Arya akan melupakan Naira, demi ibunya. Ya, meski demi ibuny, bukan demi aku. Dan aku akan melupakan Fano, tapi aku tidak mau lari dari kenyataan kalau anak yang aku kandung adalah anak Fano.


__ADS_2