
Santi hanya menemui mamanya saja, karena papanya sama sekali tidak mau keluar untuk menemui Santi. Padahal ia ingin sekali meminta maaf pada papanya. Papanya malah menolak kedatangan Santi, tapi melihat Halimah memohon supaya bisa menemui Santi, akhirnya Hermawan memperbolehkan Halimah menemui Santi.
Siang itu, Santi ke rumah orang tuanya. Hermawan dengan wajah bengis dan garang langsung berdiri tegap, berkacak pinggang menghadap Santi.
“Mau apa kamu pulang!” bentaknya.
“Pa, Santi minta maaf, Santi mohon ampun.” Santi menunduk lalu menurunkan badannya dan ingin memegang kaki Hermawan, tapi Hermawan sedikit menepis tangan Santi dengan kakinya. “Pergi kamu! Jangan injakkan kakimu lagi di rumah ini! Anak tidak tahu diuntung! Anak sial!” bentak Hermawan geram.
“Pa, Santi minta maaf,” ucap Santi lirih.
“Pak Hermawan, putri bapak ingin meminta maaf pada anda, seharusnya bapak tidak begini?” ucap Arya.
“Dia bukan putriku!” erangnya, lalu pergi meninggalkan mereka di teras rumahnya. Namun, saat kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, langkah kaki Hermawan berhenti karena dia melihat Halimah yang keluar. “Mau apa kamu keluar? Masuk! Tidak usah kamu temui anak sial itu!” titahnya dengan nada tinggi. “Memang benar, harusnya dulu dia mati saja!” geramnya.
“Dia anakku! Kalau dia mati, aku pun harus mati! Jangan sekali-kali bilang dia anak sial lagi! Dia anakku, anakku, Hermawan! Aku yang melahirkan!” erang Halimah dengan tatapan benci pada Hermawan. “Harusnya kamu yang mati, Hermawan! Bukan Herdika, atau Santi,” pekiknya lirih.
Hermawan diam, tatapan matanya mengembun saat Halimah mengucap nama Herdika. Hermawan meninggalkan Halimah ke dalam. “Temui dia, jangan lama-lama!” ucapnya lalu berlalu meninggalkan Halimah.
Halima keluar dengan tatapan sendu melihat putrinya yang masih tersungkur di lantai, dan menangis dipelukan Arya.
“Santi anakku,” ucapnya di tengah isak tangis yang pecah. Halimah bersimpuh memeluk Santi.
“Mama ... maafkan Santi, Ma,” ucap Santi dengan tubuh bergetar memeluk mamanya.
“Mama yang salah, bukan kamu, Nak. Maafkan mama juga,” ucap Halimah dengan memeluk Santi dan menciumi wajah Santi. “Kita bicara di sana, ya? Ayo ibu bantu kamu bangun,” ajak Halimah.
“Mas, aku sama mama dulu, ya?” ucap Santi.
“Iya, kalian butuh bicara berdua, bicara dulu aku tunggu di sini. Sudah jangan menangis, semua akan baik-baik saja,” ucap Arya.
__ADS_1
“Iya, makasih, Mas,” ucap Santi.
“Makasih, Arya. Mama pinjam Santi dulu sebentar,” ucap Halimah.
“Iya, Bu, bicaralah dengan putri ibu,” jawab Arya.
Arya duduk di kursi teras, dia membiarkan Santi dan mamanya bicara di gazebo yang ada di tamannya. Arya menunggunya dengan membaca surat kabar.
Sedangkan Hermawan, dia berada di kamarnya, dia ingat ucapan Halimah tadi soal Herdika. Tidak menyangka istrinya akan membahas Herdika lagi. Hermawan mengambil foto yang ia simpan di laci lemari keci;nya. Matanya semakin basah, air matanya jatuh bercucuran memandangi foto tersebut.
“Maafkan aku, Dik. Aku gagal jadi seorang ayah untuk Santi, maafkan aku,” ucapnya dengan terisak.
Hermawan terus memandangi potret tua itu, dia masih terisak, dan terus mengingat apa yang sudah ia lalu dulu.
^^^
“Mama bahagia melihat kamu sehat, Nak,” cetus Halimah dengan mata berkaca-kaca. Digamitnya Santi untuk duduk di sebelahnya.
Halimah terus memegangi tangan Santi meskipun mereka sudah duduk bersisian. Dipandanginya wajah Santi dengan penuh kebahagiaan, seperti telah menemukan kembali permata hatinya yang hilang.
“Mama sehat, kan?” tanya Santi.
“Seperti yang kamu lihat, mama baik-baik saja,” jawab Halimah.
Sekilas Halimah melirik ke perut Santi yang sudah membuncit, Halima tersenyum lalu mengusap perut Santi. “Bagaimana kehamilanmu? Sudah berapa bulan usianya?” tanya Halimah.
“Alhamdulillah, kandungan Santi baik-baik saja, Ma. Bulan depan sudah mau masuk minggu ke-36, Ma. Sebentar lagi Santi mau jadi ibu, mau melahirkan,” jawab Santi dengan bahagia.
“Sering kontrol ke dokter, kan?” tanya Halimah.
__ADS_1
“Kemarin terakhir saat mau ke sini, check-up dulu. Kan mau lahiran di sini, jadi aku check-up dulu, biar tahu hasil akhir check-up bagaimana,” jawab Santi.
“Kalau butuh apa-apa bilang sama mama, jangan nunggu mama telefon, kamu baru bilang, mama ini mamamu, apa pun yang kamu butuhkan, selagi mama bisa, mama akan penuhi, San,” ucap Halimah.
“Iya, Ma. Nanti kalau Santi butuh apa-apa bilang ke mama,” jawab Santi.
Sepanjang pertemuan itu, mereka bercaka-cakap sambil menikmati cemilan dan minuman yang di siapkan oleh asisten di rumah Halimah. Asisten pribadi Santi pun tadi langsung memeluk Santi karena dia merindukan majikannya itu.
“Aku kangen Mbak Santi,” ucapnya dengan terisak. “Mbak sehat? Mbak tadi aku dengar mbak mau ke sini, aku langsung buatkan kue ini buat mbak, sama asinan ini, asli buatan Imah,” ucap Imah.
“Makasih ya, Mbak Im. Repot-repot sekali,” jawab Santi.
“Gak repot, Mbak, ini semua demi mbak. Mbak semangat, ya? Mbak suami mbak tampan sekali Ya Allah ... Masya Allah ...,” puji Imah.
“Tampan dong, suami siapa dulu? Jangan ditikung, ya? Seribu satu orang seperti dia di dunia ini,” ucap Santi dengan terkekeh.
“Tenang saja, Mbak. Nanti gimana sama si Ali, masa saya mengkhianati ayang bebeb Imah, Mbak?” ucapnya. “Ya sudah Imah mau lanjut beres-beres. Sekalian lirik-lirik suami mbak yang tampan itu,” ucapnya dengan terbahak, lalu meninggalkan Santi dan mamanya.
Santi hanya menggeleng melihat kelakuan asistennya yang setia dengannya. Santi menggenggam tangan mamanya lalu menciumnya berulang kali. Mereka kembali menikmati pertemuan itu setelah Imah masuk ke dalam. Mereka saling menumpahkan rindu, dan membicarakan hal-hal yang ringan.
Halimah lebih banyak mendengarkan, membiarkan Santi menceritakan tentang dirinya sendiri. Tentang butik yang ia kelola di Pekalongan, tentang rumahnya di sana yang ternyata itu milik Arya, rumah yang sangat asri, tamannya luas, dan asri. Tentunya Santi juga menceritakan tentang perhatian dan kebaikan Arya.
“Kamu patut bersyukur, bertemu pria sebaik Arya,” ucap Halimah penuh haru. “Ternyata masih ada ya, orang yang tulus dan tanpa pamrih seperti Arya?” puji Halimah pada menantunya.
“Kesederhanaannya telah mengajariku tentang hidup ini, Ma,” sahut Santi dengan penuh perasaan. “Tidak seperti orang-orang yang berkuasa, yang hanya berlomba-lomba memperkaya diri, meskipun dengan cara menindas orang yang lemah.” Santi menatap Halimah dengan sedih.
“Dia suami yang baik, kamu harus patuh dengannya,” tutur Halimah. “Tidak ada orang yang tulus, ke sini meminta restu untuk menikahi perempuan yang hamil di luar nikah, dan bukan dia yang menghamilinya. Dia pria baik yang selama ini ibu temukan. Semoga perkawinanmu selalu diberkahi, dan selalu bahagia, meski mama tahu, kamu belum bisa menerimanya, karena kamu masih mencintai Fano,” ucap Halimah.
“Mama salah, aku sudah jatuh hati pada Arya, bahkan cinta untuk Fano aku sudah melupakannya, tapi Arya punya kekasih, Ma. Dia sangat mencintai kekasihnya, dan pernikahan kami hanya pernikahan hitam di atas putih, hanya dua semester. Tapi, Santi bahagia, meski Santi hanya mencintai Arya di dalam hati Santi. Ini yang membuat Santi menjadi kuat dan tegar, Ma.” Ucapan itu hanya terlintas di batin Santi saja.
__ADS_1