Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 7 – Dua Semester Saja


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti janji Arya pada Santi, dia akan menemani Santi check up ke Dokter kandungan. Mereka berangkat sore hari, karena Santi tidak ingin ke Rumah sakit. Dia tidak mau ada saudaranya atau siapa yang mengenalinya, meski tidak pernah ke Pekalongan, takutnya papanya Santi akan mengutus orang untuk mencarinya di Pekalongan.


“Ar, ke ATM yuk, ambilin uangku lagi?” pinta Santi.


“Boleh, nanti kita mampir,” jawab Arya.


Untung saja Santi sudah tidak berurusan dengan kedua orang tuanya masalah keuangannya. Dia sudah memiliki tabungan sendiri, dan kartu kredit sendiri, bukan pemberian dari kedua orang tuanya. Jadi semua aman. Meski begitu, Santi hanya membawa ATM yang orang tuanya tidak pernah tahu, sedang yang lainnya dia tinggal di rumah bersama dengan ponselnya juga.


Arya sampai di depan tempat praktik Dokter Kandungan yang katanya Dokter terbaik di Pekalongan. Arya sudah mendaftar lebih dulu tadi sebelum berangkat, jadi Santi langsung disuruh masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Santi tidak sadar kalau dirnya mengajak Arya turut masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


“Selamat sore, Bu, Pak, silakan duduk,” sapa Dokter perempuan yang bernama Sifa.


“Sore, Dok,” jawab mereka.


“Ih ngapain kamu ikut?” Santi baru sadar kalau Arya ikut ke dalam, saat duduk di sebelahnya.


“Biar saja suaminya ikut masuk, Bu. Kan malah lebih bagus, jadi menambah kedekatan antara suami, istri, dan calon anak,” jelas Dokter Sifa.


“Ta—tapi, Dok, dia bu—bukan ....”


“Ah benar kata dokter, Sayang. Aku akan di sini menemani kamu, tenang aku gak takut sama jarum suntik kok, lagian istriku gak disuntik kan, Dok?” ucap Arya.


“Enggak dong, Pak? Masa disuntik. Mari ibu saya langsung periksa kandungan ibu. Bapak silakan dampingi istrinya,” ucap Dokter Sifa.


Arya langsung menempatkan diri di sebelah SSanti yang sedang berbaring di bed pemeriksaan. Santi agak risih saat bajunya disibakkan ke atas hingga terlihat bagian perutnya yang mulai membuncit.


“Dok, jangan ke atas-atas, malu,” ucap Santi.


“Malu kenapa, Bu? Masa sama suaminya malu?” ucap Dokter Sifa. “Oh saya tahu, pasti pasangan baru, ya? Dan ini anak yang pertama?” imbuhnya.


“Iya dok benar, kami pasangan yang baru saja akan memiliki anak,” jawab Arya.


Santi hanya diam saja, dia hanya melihat monitor USG yang menampakkan bagian dalam perutnya. Terlihat kantung rahimnya sudah membesar, dan denyut jantung bayi juga terlihat.


“Bayinya sehat.”

__ADS_1


“Dok usia kandungan saya berapa, ya? Soalnya selama hamil saya belum pernah periksa ke dokter?” tanya Santi.


“Kok bisa? Harus dong, Bu? Minimal ke Bidan,” saran dari Dokter.


“Soalnya istriku takut keluar sendiri, saya baru pulang dari luar kota, Dok. Jadi baru bisa antar dia ke dokter, tapi sudah ke Bidan kok, sekarang pengin lebih jelas saja berapa usia kandungan istri saya,” jelas Arya.


“Usia kandungan Ibu Santi memasuki minggu ke-22,” jelas Dokter Sifa.


“Jadi sudah lima bulan lebih ya, Dok?” tanya Santi.


“Betul, Bu.”


Setelah selesai pemeriksaan, Arya langsung menebus resep di ruang farmasi, sedangkan Santi, dia duduk sambil menunggu Arya menebus obatnya.


Santi tidak menyangka Arya akan seperti itu, mengakui anak yang ada di kandungannya adalah anaknya. Santi juga tidak bisa berkutik saat Arya mengakuinya di depan dokter.


“Sudah yuk, langsung pulang atau mau ke mana lagi?” tanya Arya.


“Ar, ada kue bandos gak ya? Kok aku tiba-tiba pengin makan kue bandos,” pinta Santi.


“Ya udah yuk cari,” ajak Arya.


“San, beli ponsel buat kamu, ya?”


“Gak usah, Ar. Untuk apa aku pegang ponsel?” jawab Santi.


“Ya kali aja kamu butuh buat Delivery makanan, atau pesan ojek online? Kamu pasti butuh itu, San? Apalagi besok aku kan pulang ke Jakarta, San?” ucap Arya.


“Berapa lama pulang?” tanya Santi.


“Kenapa tanya berapa lama? Takut kangen, ya?” ucap Aryad dengan terkekeh.


“Ngaco! Masa kangen?! Gak lah! Lagian kalau kamu gak ada, ada Mbak Tati di rumah kok? Terus kalau beli HP, ntar uangku gak cukup untuk sampai melahirkan dan memperpanjang kontrakan rumah,” ucap Santi.


“Gak usah mikir ke situ? Aku yang beliin buat kamu, buat komunikasi juga, kan? Aku juga ikut bertanggung jawab atas kaburnya kamu, San. Gak mungkin aku lepas gitu aja, aku gak mau bermasalah sama hukum,” jelas Arya.

__ADS_1


“Lagian kamu punya uang? Mau beliin Hp aku? Kalau aku maunya yang keluaran terbaru, dan paling mahal gimana?” tanya Santi.


“Kalau aku nawarin, ya pasti aku punya uang dong, Santi? Gimana sih?” jawab Arya. “Oke, kalau mau yang paling mahal dan keluaran terbaru, gak masalah,” imbuh Arya.


“Kamu kenapa baik sekali sih? Ntar istri kamu marah, uangnya habis buat beliin hp aku? Masa sopir travel bisa beliin hp mewah untuk aku? Aku juga gak mau ya disangka pelakor. Big No!!!” erang Santi.


“Lagian siapa juga yang udah punya istri. Ih kamu, biar aku Cuma seorang sopir, aku juga punya tabungan, mau hp model baru berapa? Sebutkan?” ucap Arya dengan membanggakan diri.


“Bohong! Lagian ngapain kamu peduli banget sih? Udah sih aku biar di sini, tenang sendiri, gak usah peduliin aku, Ar?” ucap Santi.


“Idih bohong apa coba? Aku serius, kita beli hp sekarang, supaya aku bisa cek keadaan kamu, meski aku di Jakarta,” ucap Arya.


“Gak usah, ngebet banget sih pengin tahu hidupku kek apa?!” tukas Santi.


“Udahlah nurut aku, aku itu juga bertanggung jawab atas kaburnya kamu. Itu makanya aku ajak nikah kamu, supaya kamu seutuhnya tanggung jawab aku. Bukan apa-apa ya, San? Aku tahu kamu sangat mencintai kekasih kamu, ayah dari bayi yang ada di kandunganmu, aku pun sama, aku mencintai wanita lain. Tapi, aku merasa aku benar-benar harus tanggung jawab atas kaburnya kamu. Kita bisa menikah siri saja, atau sah juga bisa di sini, aku janji aku gak akan nyentuh kamu, karena aku hanya ingin bertanggung jawab atas kaburnya kamu ke sini, dan setelah bayi kamu lahir, sudah terserah kamu mau bagaimana, kalau mau pisah ya pisah? Kamu mau balik ke Jakarta ya aku antar, terserah kamu. Intinya aku ingin bertanggung jawab saja,” jelas Arya.


Santi mencerna ucapan Arya. Memang kalau Santi lihat, Arya tanggung jawab sekali atas dirinya, meski di baru melihat sehari saja, tapi Arya memang tulus mau membantunya, dan mau menjaga rahasianya yang kabur. Dia juga hargai pengorbanan Arya yang haru beralasan dengan kantornya dan orang tuanya demi dirinya.


“Gimana, San? Nikah sama aku ya, San? Menikah gak harus cinta, gak harus berhubungan badan, kalau memang menikah bersyarat. Atau gini saja, San. Kita menikah selama dua semester saja, bagaimana? Setelah anak kamu lahir, dan kalau dua semester kan anak kamu udah lumayan gede, setelah itu, terserah kamu, kamu mau lanjut atau udahan. Yang jelas sih udahan, San. Karena sudah selesai juga tugasku tanggung jawab atas kaburnya kamu dalam keadaan hamil,” jelas Arya.


“Satu tahun dong kita menikahnya?” tanya Santi.


“Iya hanya satu tahun, lagian kamu tahu rumah kontrakan kita kan kanan kiri tetangga? Meski mereka gak usil, tapi tetap saja dipandang di masyarakat gak baik, kalau ada yang tahu kita belum menikah? Kalau kamu mengiyakan, nanti aku yang urus, kita menikah di KUA saja. Bagaimana?”


“Ar, tapi?”


“Tapi, apa? Kamu mau membiarkan anak kamu lahir tanpa ayah? Ya meski nantinya kita akan pisah, seenggaknya kamu gak sendirian waktu melahirkan, dan aku juga gak mau lepas tanggung jawab. Kalau kamu kabur gak hamil mah, aku masa bodoh, San?”


“Aku pikirkan nanti, ya? Sekarang aku tagih dulu janji kamu. Hp keluaran terbaru!”


“Oke, let’s go ...! Aku belikan untuk kamu,” ucap Arya.


“Gak bersyarat, kan?”


“Gak tenang saja, asal kamu pikirkan baik-baik apa saranku tadi, soal dua semester itu?”

__ADS_1


“Oke aku kan pikirkan itu nanti,” jawab Santi.


Santi ingin membuktikan kalau Arya bisa membelikan hp keluaran terbaru yang ia mau. Padahal Santi tidak membutuhkan hp, yang ia butuhkan ketenangan. Lagian siapa yang akan Santi hubungi? Dia sudah tidak mau pulang ke kotanya, dan tidak mau lagi tahu soal Fano, meski dia masih mencintainya.


__ADS_2