Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 16 – Mulai Curiga


__ADS_3

“Udah reda hujannya, pulang yuk, Ar?” ajak Santi.


“Iya yuk pulang, sebelum kemalaman,” ucap Arya.


Santi sebenarnya sudah mulai tidak nyaman, karena bajunya sedikit basah. Santi merasa sedikit kedinginan, karena memang cuacanya juga sangat dingin.


Arya membayar makanannya dan setelah itu dia langsung mengajak Santi pulang. Arya menggandeng tangan Santi, karena jalanan agak licin setelah hujan lebat tadi.San


“Santi, kamu tangannya dingin sekali?” ucap Arya.


“Aku dari tadi ngerasa dingin banget, Ar,” jawab Santi.


“Yuk buruan, nanti malah tambah dingin.”


Arya membukakan pintu mobilnya, meyuruh Santi masuk ke dalam mobilnya. Arya tidak langsung masuk ke dalam mobil, tapi dia mengambil sesuatu di jok belakang.


“Santi, baju kamu basah, ganti pakai kemejaku ini, lalu pakai jaket ini, supaya kamu gak masuk angin. Yuk, aku antar ke toilet?” ucap Arya.


“Tapi, Ar?”


“Sudah jangan tapi-tapian, daripada kamu sakit, kasihan anak kamu juga, Santi? Yuk buruan?” ajak Arya, menyuruh Santi turun dari mobil. “Oh iya, Santi, balurkan minyak kayu putih di tubuh kamu juga. Biar agak hangat sedikit.” Arya memberikan minyak kayu putih pada Santi.


“Ehm ... iya, makasih ya, Ar? Aku selalu merepotkan kamu,” ucap Santi dengan menunduk malu, karena tidak enak hati dengan Arya.


“Sudah tidak apa-apa, ayo aku antar ke toilet.” Arya meraih tangan Santi, dan mengantar Santi ke toilet.


Arya tidak langsung kembali ke mobil. Dia menunggui Santi sampai Santi keluar dari toilet. Padahal Arya tidak pernah segitu perhatian dengan perempuan lain, dengan Naira pun dia biasa saja, meski dia sangat mencintai Naira. Tapi, dengan Santi dia memperlakukannya berbeda. Dia tidak ingin Santi kenapa-napa, karena dia sedang mengandung.


“Ar, aku kira kamu menunggu aku di dalam mobil?” ucap Santi setelah berganti baju.


“Aku nungguin kamu, takut kamu di culik,” jawab Arya dengan tertawa.


“Siapa yang mau nyulik aku, Ar?” ucap Santi.


“Kali saja sih? Ntar aku gak jadi nikah dong? Kalau calon mempelai wanitanya diculik?” ucap Arya.

__ADS_1


“Bisa aja kamu, Ar? Yuk pulang, thanks bajunya, mungkin perutku buncit, jadi pas, enggak terlalu longgor, untung juga bawahannya aku pakai rok ini. Jadi kek mau daftar kerja, ya? Roknya hitam, kemejanya putih?” ucap Santi dengan senyuman manisnya.


“Iya, ngelamar kerja di restoran?” ucap Arya gemas, karena melihat wajah Santi begitu cerah malam ini, tidak murung lagi seperti biasanya.


“Rambut kamu berantakan banget, San.” Arya sedikit membenahi rambut Santi yang berantakan. “Pakai jaketnya, biar gak dingin. Kemejanya itu kan agak tipis.” Arya mengambil jaket yang ada di tangan Santi dan memakaikannya.


“Sudah, gini kan hangat jadinya, yuk pulang?” ajak Arya setelah menutup resleting jaketnya.


“Makasih, Ar,” ucap Santi.


“Iya, sama-sama,” ucap Arya.


Santi tidak menyangka Arya akan seperti itu. Arya sangat perhatian sekali hari ini dengan dirinya. Entah itu karena akan menikahinya, atau karena hal lain Santi tidak tahu. Santi juga merasa dia memiliki kekuatan lagi untuk melangkah, setelah Arya bersikap hangat pada dirinya.


“Makasih untuk hari ini ya, Ar?” ucap Santi.


“Iya, sama-sama,” jawab Arya.


“Kamu dapat cuti kerja berapa minggu, Ar?” tanya Santi.


“Ehm ... dua minggu, ya lebih juga enggak apa-apa sih, aku sudah negoisasi dengan bosku kok. Lagian ini mobil saja aku pinjam. Baik kan, dia?” ucap Arya.


“Ya ada itu sih bosku?” jawab Arhan.


Mereka mengobrol sambil menikmati perjalanan pulang. Tidak Arya sangka, saat melewati pertigaan ada razia kepolisian. Mobil Arya dihentikan oleh seorang polisi.


“Selamat malam, Pak? Bisa lihat surat-suratnya?” tanya polisi.


“Selamat malam, Pak? Oh iya bisa.” Arya mengambil surat-surat mobilnya, lalu memberikannya pada polisi yang bertugas.


“Ini, Pak,” ucap Arya sambil meyodorkan surat-suratnya.


“Baik saya cek dulu ya, Pak? Atas nama bapak Ar ....”


“Sebentar, Pak. Itu kayaknya salah! Itu Surat sepeda motor saya kayaknya?” tukas Arya lalu keluar menghadap polisi dan sedikit mundur ke belakang supaya Santi tidak mendengar Polisi menyebut nama dia yang ada di STNK mobilnya.

__ADS_1


“Oh kayaknya iya itu betul. Saya kira tertukar sama yang ini, STNK motor saya, Pak,” ucap Arya setelah ia rasa aman, jika polisi menyebutkan nama dirinya yang tertera pasa STNK mobilnya.


“Baik, surat-suratnya lengkap. Mohon maaf sudah mengganggu perjalanan bapak. Selamat malam, dan selamat melanjutkan perjalanan bapak,” ucap Polisi.


“Iya pak, selamat malam,” ucap Arya.


Lega sekali rasanya Santi tidak mendengar polisi itu menyebutkan namanya, karena jika Santi tahu dia memiliki mobil, Santi akan curiga.


“Kenapa tadi, Ar? Ada masalah apa?” tanya Santi.


“Itu ketukar sama STNK motorku,” jawab Arya.


“Oh aku kira kenapa?” ucap Santi.


“Heran jam segini sudah ada razia kepolisian? Untung surat-suratku selalu lengkap,” ucap Arya.


“Kan memang tugas mereka, Ar? Lagian kamu kan lengkap surat-suratnya? Gak ada masalah juga? Lihat tuh yang di belakang kita? Keknnya ada masalah?” ucap Santi.


“Iya sih, ya sudah ah, gak mau aku ngurusin polisi,” ucap Arya.


Santi sebenarnya sudah curiga dengan sikap Arya tadi, saat polisi menyebut namanya, saat membaca namanya di STNK. Tapi, setelah Arya bilang ketukar dengan STNK sepeda motornya, Santi percaya kalau mobil yang dibawa Arya bukan mobil milik Arya.


“Tapi, masa iya seorang sopir seperti ini penampilannya? Style-nya sangat bagus, tampan, dan kemeja ini yang sedang aku pakai juga kemeja merk ternama. Jaketnya juga? Masa iya, kalau seorang sopir bisa punya barang yang harganya hampir jutaan? Baju yang sekarang Arya pakai pun kek baju bermerk, dan seperti kualitasnya bagus. Ini kemejanya juga kek kemeja papa, merk-nya yang ternama?” batin Santi.


Santi sebenarnya mulai curiga sejak semalam mendengar Arya sedang menelefon  seseorang. Dari gaya bicaranya, Arya seperti seorang atasan yang sedang menyuruh anak buahnnya di kantor. Bahkan Arya memegang dua ponsel yang cukup canggih dibandingkan ponsel yang ia pakai, dan sering terlihat. Santi semalam juga tidak sengaja melihat Arya seperti sedang mengerjakan laporan di ruang tamu. Dengan menerima telefon dari seseorang. Dari situ, Santi mulai curiga dengan Arya. Tapi, dia juga tidak ingin membahasnya dengan Arya, pikir Santi, Arya mungkin sedang memiliki pekerjaan lain selain sopir, apalagi dia sudah mulai cuti untuk menikah.


^^^


Tinggal dua hari lagi, Santi akan menjadi istri Arya. Hanya istri kontrak saja, bukan istri sesungguhnya. Adanya kontrak itu juga karena Santi yang mau, padahal sebenarnya Santi menyesalinya dengan kontrak itu. Setelah satu minggu menjelang pernikahannya Arya selalu bersikap manis padanya. Santi jadi menyesal, kenapa dia gegabah sekali meminta perjanjian kontrak pernikahan selama satu tahun.


Santi tidak pernah menyangka kalau Arya akan sebaik ini padanya. Memberikan rasa nyaman yang belum pernah Santi rasakan dengan laki-laki lain. Bahkan dengan Fadli pun dirinya tidak merasa senyaman bersama Arya.


“Aku ini bodoh apa tolol, ya? Bisa-bisanya meminta perjanjian kontrak nikah segala! Kalau enggak kan aku bisa setiap hari berduaan dengan Arya? Dia baik, sopan, selalu bikin nyaman. Tapi, aku bodoh sekali, aku malah meminta di dalam perjanjian, kalau setelah menikah tidur tetap terpisah? Masa iya terpisah? Aku gak ngobrol berduaan sama Arya juga rasanya aneh sekali? Sekarang di kasih kesempatan jadi suami istri malah tidur pisah-pisah? Bodoh sekali memang kamu, Bri?! Gak mikir ke belakangnya. Padahal Arya itu orang baik?” gumam Santi.


“Ih kenapa malah aku gini? Kamu gak boleh gitu, San! Dia itu hanya menolong kamu. Bukan mencintai kamu, atau menginginkan kamu! Dia itu hanya cinta sama mantannya, bukan wanita lain, apalagi kamu, Santi?!” rutuk Santi lirih.

__ADS_1


Arya dari tadi masih di kamarnya. Dia masih mengerjakan pekerjaan kantornya. Untung saja semua meeting dia sudah cancel, jadi dia tidak terlalu pusing dengan hal meeting, karena meeting akan diadakan setelah dirinya menikah dengan Santi.


“Menikah juga tetap saja tidur terpisah? Ya biarlah, kan setiap hari aku bisa sama-sama Santi, meski enggak sekamar, dan enggak gituan? Udah gak apa-apa, aku kan memang tujuannya menolong Santi? Tidak lebih, masa aku tega, aku gak cinta mau melakukannya? Santi juga pasti gak maulah? Kan dia Cuma cinta sama kekasihnya yang menghamilinya itu? Makanya dia meminta surat kesepakatan setelah menikah. Mudah-mudahan, ibu dan bapak nanti kalau jadi ke sini enggak curiga sama aku dan Santi.” gumam Arya.


__ADS_2