
Arya tidak mau berlarut dalam kebohongan, ia sudah ingin jujur dengan Santi soal pekerjaannya. Tidak mau lagi ada yang ditutup-tutupinya.
“Habis ini mau ke mana lagi?” tanya Arya.
“Pulanglah, mau ke mana lagi memang?” jawab Santi.
“Ya sudah habiskan makananmu, habis ini kita mampir beli buah dulu, stok buah di kulkas habis sepertinya.”
Santi hanya mengangguk saja. Arya malah lebih teliti soal isi kulkas dan kebutuhan Santi lainnya. Selama dengan Arya, dia juga tidak pernah membeli kebutuhannya, semua Arya yang membelajakannya.
Arya melupakan kejadian tadi di rumah, saat Fano menemui Santi. Biar saja, toh Fano juga ayah dari anak yang Santi kandung. Arya percaya kalau Santi tidak mungkin kembali lagi dengan Fano.
“Ehem ....!”
Arya dan Santi menoleh ke arah orang yang berdehem. Sedang asik ngobrol sambil menikmati makanannya, tiba-tiba ada orang yang berdehem di belakangnya.
“Fa—Fano?” ucap Santi tergagap saat melihat Fano berdiri di sebelahnya.
“Kenapa, kaget? Oh jadi ini suami kamu?”
“Iya, dia suamiku, kenapa?” jawab Santi menantang.
“Kasihan Cuma suami bayaran!” ejek Fano.
“Kalau tidak tahu masalahnya tidak usah banyak bacot!” erang Santi dengan membanting sendok dan garpu.
“San ... jangan begitu, sudah biar dia bicara dulu, dia kan tidak tahu bagaimana?” tutur Arya dengan sabar, sambil mengusap punggung Santi
“Gak usah sok kamu! Kamu hanya laki-laki bayaran papanya Santi, kamu bukan ayah dari anak yang Santi kandung. Ingat anak yang Santi kandung itu anakku!”
Arya tertawa mengejek, setengah naik pitam mendengar ucapan Fano. “Anak? Sekarang saat Santi sudah bahagia denganku, kamu baru mengakui anak?” ejek Arya.
“Dan, setelah kamu menuduh aku, kalau aku hamil anak orang lain, kamu bilang ini anak kamu? Sampai kapan pun, aku tidak sudi memberitahukan pada anakku kalau kamu adalah ayahnya! Camkan itu, Fano!” erang Santi. “Ayo mas kita pulang!” Santi menarik tangan Arya, dan mengajaknya pulang.
“Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Santi. Kamu pasti akan jatuh ke pelukanku lagi!” ucap Fano lirih tepat di telinga Santi.
__ADS_1
“Aku tidak sudi, Fano! Kamu sudah bilang aku ini perempuan tidak baik, aku ini perempuan bekas orang, dan satu lagi, kamu bilang anak ini bukan anakmu! Dengar Fano, sejak kamu bicara seperti itu, aku sudah bertekad tidak akan memberitahukan pada anakku siapa ayah kandungnya! Ayah anakku hanya satu, Mas Arya!” Tegas Santi dengan mendorong dada Fano.
Santi berjalan keluar dengan setengah berlari. Arya takut akan terjadi apa-apa pada Santi.
“Pak, total di meja sebelas berapa?” tanya Arya pada kasir.
“Totalnya sekian, Pak.” Jawab petugas kasir dengan memperlihatkan struknya.
“Ini uangnya, kembaliannya buat bapak saja!” Arya menaruh uangnya dan langsung mengejar Santi.
“Pak ini banyak sekali kembaliannya!” teriak kasir tersebut. “Ya sudahlah, lumayan, lagian mereka juga sering makan di sini?” imbuhnya lirih.
Arya memegangi tangan Santi. Santi menangis, merasakan sesak di dadanya. Hidupnya sudah tenang, tapi tiba-tiba Fano kembali mengusiknya.
“Arya, aku takut.” Santi reflek memeluk Arya.
“Jangan takut. Ada aku. Kita hadapi sama-sama. Aku sudah berjanji denganmu, aku akan bertanggung jawab atas kamu sepenuhnya. Kamu jangan takut, jangan merasa sendiri.” Arya mengusap punggung Santi dan menenangkan Santi.
“Aku malu, Ar. Semua orang menatapku tadi,” isaknya.
“Gak usah malu, sudah ya jangan nangis, kasihan anakmu. Kamu kayak gini tar ngaruh sama kandungan kamu,” tutur Arya. “Sudah yuk masuk?” Arya membukakan pintu mobilnya.
“Ar, aku takut, aku takut Fano akan menemuiku lagi di rumah kalau kamu gak ada, aku takut Fano ke butik, dan macam-macam denganku.”
“Itu tidak akan mungkin, San. Kita balik ke jakarta, ya? Kamu bisa tinggal sama ibu dan bapak di rumah, biar ada yang menjagamu,” ucap Arya.
“Arya kalau aku kembali lagi ke Jakarta, aku takut papaku akan marah, papa akan membawa aku pergi dari kamu,” ucap Santi.
“Mau membawa kamu pergi ke mana? Mau nikahin kamu sama orang lain? Kamu itu sudah menjadi istriku, Santi? Menurutlah denganku, kamu akan baik-baik saja,” tutur Arya.
“Kalau ibumu tahu pernikahan kita hanya sementara gimana? Terus kita tidur harus sekamar?”
“Kemarin saja kamu tidur di kamar aku, kan?” jawab Arya. “Masalah perjanjian pernikahan kita, kita pikirkan nanti, yang terpenting kamu aman,” lanjutnya.
“Ar tapi pekerjaanku? Butikku kan baru kemarin jalan? Baru merintis pula? Baru menerima kerja sama dengan beberpa klien?” ucap Santi. “Aku juga belum bisa mengembalikan uang sewa, sama kamu, Ar,” imbuhnya.
__ADS_1
“Gak usah mikirin itu, sudah kamu ikut apa kataku, kita ke Jakarta, kamu di rumahku sama ibu, kamu akan aman di sana.”
“Aku akan pikirkan lagi, Ar,” jawab Santi.
“Kenapa mesti mikir dulu sih, San?”
“Aku takut semakin jatuh cinta denganmu, Ar. Kebaikan kamu sudah membuat hati ini menghangat. Bagaimana bisa aku tinggal di rumah kamu dengan ibu dan bapak kamu, yang mereka pun baik denganku?” batin Santi.
Arya mengusap kepala Santi, ia tahu Santi pasti akan menolaknya, tapi Arya semakin yakin akan membawa Santi pulang ke Jakarta, tidak mungkin akan terus di Pekalongan, karena nantinya akan sering ditinggal Arya kerja, dan hanya dengan dua Asisten Rumah Tangganya saja. Apalagi Fano sudah kembali mengusik kehidupan Santi.
“Kenapa diam? Kok gak jawab? Kenapa mesti mikir dulu, San? Hidup kamu sekarang adalah tanggung jawabku, aku sudah memilihmu untuk menjadi istriku, jadi untuk apa kamu memikirkannya lagi? Ibu dan bapak juga menerima kamu? Kamu juga kan nantinya makin dekat dengan mamamu, San?”
“Iya sih, tapi gimana ya, Ar?”
“Sudah lusa kamu harus ikut aku kembali, apa pun itu kamu harus nurut. Dan, ada yang aku ingin katakan padamu, ini sangat penting, San. Aku tidak mau lama-lama memendam ini sendiri, aku tidak mau bohong lagi dengan kamu, semua sudah tahu, hanya kamu yang belum tahu.”
“Apa itu?” tanya Santi penasaran.
Arya mengambil dompetnya dari saku celana, lalu membukanya, dan mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. “Ini kamu baca.” Arya memberikan sebuah kartu nama pada Santi.
Mata Santi membulat, ia menatap Arya di sampingnya. Ia tidak percaya, ternyata selama ini Arya membohonginya, dengan berpura-pura menjadi sopir.
“I—ini kamu?”
“Maaf, aku sudah bohong soal pekerjaanku, San. Aku tidak ingin kamu merasa bagaimana denganku, San. Makanya aku bilang aku ini sopir, aku malu mau bilang siapa aku, kalau pun aku bilang, pasti kamu gak percaya saat itu, San?” ucap Arya.
“Pantas saja, mana ada bos kek modelan Pak Saiful itu?” ucapnya kesal. “Kamu itu benar-benar ya, Ar!”
“San, aku mohon kamu jangan marah.”
“Kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi?” jawab Santi.
“Aku mau tanya, kamu nyewa Pak Saiful dari mana?” tanya Santi.
“Dia OB, San,” jawab Arya. “Sekarang kamu tahu siapa aku, jadi aku mohon, kamu jangan membantah apa yang aku mau. Ini demi kamu, demi anak kamu, aku tidak bisa meninggalkan kamu di sini terus. Aku benar-benar padat jadwal minggu depan,” ucap Arya.
__ADS_1
“Mau antar orang ke mana, Pak?” tanya Santi dengan terkekeh.
“Sudah jangan bercanda, lusa kamu harus ikut aku ke Jakarta. Kita mulai hidup baru kita di sana,” tegas Arya.